/Alasan Abdullah bin ‘Amr bin Ash Ikut Perang Melawan Ali bin Abi Thalib

Alasan Abdullah bin ‘Amr bin Ash Ikut Perang Melawan Ali bin Abi Thalib

TAK ada yang lebih gelisah dari Abdullah bin ‘Amr bin Ash ketika itu. Sahabat Rasul yang terkenal dengan kesungguhannya dalam ibadah itu merasakan ada yang lain dengan Husein bin Ali bin Abi Thalib. Sejak pecah perang Shiffin antara Ali dan Mu’awiyah, Husein tak pernah bicara dengan Abdullah.

Ada beberapa sebab. Boleh jadi karena ayah Abdullah, ‘Amr bin Ash, sebagai pendukung kuat Muawiyah untuk melawan Ali. Dan yang paling berat, Abdullah sendiri ikut sang ayah dalam barisan Muawiyah.

BACA JUGA: Kala Ali bin Abi Thalib Berniaga dengan Malaikat

Abdullah benar-benar gelisah. Saat itu, ketika ia dan beberapa sahabat lain sedang ngumpul, Husein lewat. Abdullah benar-benar kikuk ketika Husein mengucapkan salam. Setelah ia jawab salam itu, Husein pun berlalu. Ketika itu juga, Abdullah mengatakan, “Akan kutunjukkan kepada kalian seorang penduduk bumi yang sangat dicintai penduduk langit. Dialah yang baru saja lewat tadi, Husein bin Ali. Sejak perang Shiffin, ia tak pernah bicara denganku. Sungguh, ridhanya padaku lebih kusukai dari barang berharga apa pun yang kumiliki.”

Ia minta tolong Abu Sa’id Al-Khudri untuk menemaninya mengunjungi Husein bin Ali. Benar saja. Dalam kunjungan itu, Husein menanyakan soal kesertaan Abdullah dalam perang Shiffin.

Abdullah mengatakan, “Suatu hari, aku diadukan ayahku, ‘Amr bin ‘Ash kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Katanya, ‘Abdullah ini puasa tiap hari dan beribadah sepanjang malam.’ Ucap Rasulullah kepadaku, ‘Hai Abdullah, shalat dan tidurlah, puasa dan berbukalah, dan taatilah ayahmu!’ Sewaktu perang Shiffin, ayahku mendesakku untuk ikut bersamanya. Aku pun ikut. Dan demi Allah, selama perang itu, aku tidak pernah menghunus pedang, melempar tombak, dan melepas anak panah!”

BACA JUGA: Ketika Ibnu Muljam Tebas Kepala Ali bin Abi Thalib, Sebaik-baik Manusia saat Itu

Sejak itu, Abdullah bisa merasa lega. Ia habiskan sebagian besar waktunya untuk bermunajat kepada Allah, memohon ampun atas kesalahannya. Ketika usianya menginjak tujuh puluh dua tahun, Allah memanggil Abdullah di saat ia sedang berdzikir di sebuah mushallah. []



Sumber