Bilamana Hari Kebangkitan Tiba? | Almanhaj

BILAMANA HARI KEBANGKITAN TIBA?

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi Lc

Tak terkecuali, semua manusia akan menemui hari kebangkitan (al-ba’ts) setelah kematiannya. Sehingga mengenal dan mengetahui kejadian hari kebangkitan ini, menjadi sangat penting. Karena merupakan salah satu bagian dari iman kepada hari akhir. Juga termasuk iman kepada perkara ghaib, yang menjadi salah satu keistimewaan orang-orang bertakwa. Bagaimanakah hari kebangkitan itu terjadi?

PENIUPAN ASH-SHUR (الصُّوْرُ )
Hari kebangkitan dimulai setelah peniupan ash-Shur (الصُّوْرُ). Yaitu sangkakala, yang Allah tugaskan kepada Malaikat Israfil untuk meniupnya ketika diperintahkan untuk itu[1]. Dijelaskan dalam salah satu hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ الْعَاصِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا الصُّوْرُ قاَلَ قَرْنٌ يُنْفَخُ فِيْهِ رواه أبو داود والترمذي وحسنه وابن حبان في صحيحه

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin al ‘Ash Radhiyallahu anhuma , ia berkata : “Seorang ‘Arab datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , seraya bertanya : “Apa (yang dimaksud) ash-Shur?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sangkakala yang ditiup.”[2]

Berapa kali sangkakala itu ditiup? Dalam masalah ini, terjadi adanya perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan al Hafizh al-Hakami menyatakan tiga kali, yaitu tiupan al faz’u (keterkejutan), kemudian tiupan ash-sha’iq, kemudian tiupan kebangkitan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan, bahwa al-Qur`an mengabarkan tiga kali tiupan.
Pertama : Ialah tiupan al faz’u (keterkejutan), sebagaimana disebutkan dalam surat an Naml/27 ayat 87 :

وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ۚ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ

Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah.Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.

Kedua : Yaitu tiupan ash-sha’iq (kematian), dan Ketiga tiupan qiyam (bangkit), sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah :

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannnya masing-masing).[az Zumar/39:68][3]

Sebagian ulama berpendapat, tiga tiupan sangkakala tersebut menjadi dua. Yaitu, tiupan al faz’u sebagai awalnya dan diakhiri dengan tiupan ash-sha’iq, kemudian yang kedua adalah tiupan al qiyam.

Inilah yang dirajihkan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin. Beliau rahimahullah menyatakan : “Tiupan sangkakala (terjadi) dua kali. Pertama, tiupan al faz’u, ditiup lalu manusia terkejut dan mati kecuali yang Allah kehendaki. Dan kedua, adalah tiupan al qiyam (kebangkitan), yang ditiup lalu manusia bangkit dan bangun dari kubur mereka”[4]

Di antara dalil yang digunakan pendapat kedua ini, ialah hadits ‘Abdullah bin ‘Amru yang panjang. Di dalamnya terdapat sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

ثُمَّ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَلَا يَسْمَعُهُ أَحَدٌ إِلَّا أَصْغَى لِيتًا وَرَفَعَ لِيتًا قَالَ وَأَوَّلُ مَنْ يَسْمَعُهُ رَجُلٌ يَلُوطُ حَوْضَ إِبِلِهِ فَيَصْعَقُ وَيَصْعَقُ النَّاسُ ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ أَوْ قَالَ يُنْزِلُ اللَّهُ مَطَرًا كَأَنَّهُ الطَّلُّ أَوْ الظِّلُّ نُعْمَانُ [الشَّاكُّ] فَتَنْبُتُ مِنْهُ أَجْسَادُ النَّاسِ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ رواه مسلم

“Kemudian ditiup sangkakala, maka tidaklah seorang pun mendengarnya, kecuali menegangkan sisi lehernya dan mengangkat sisi lehernya,” beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Orang pertama yang mendengarnya adalah seorang yang sedang menembok (dengan tanah) kubangan air (untuk minum) ontanya. Lalu ia mati dan manusia pun mati. Kemudian Allah mengirim atau menurunkan hujan, sekan-akan seperti hujan rintik-rintik atau tetesan (perawi ragu), lalu tumbuhlah darinya tubuh manusia. Kemudian ditiupkan tiupan lainnya, maka tiba-tiba mereka bangkit menunggu“. [HR Muslim].

JARAK ANTARA TIUPAN ASH-SHA’IQ DENGAN AL QIYAM
Masa tenggang antara tiupan ash-sha’iq dengan al qiyam, telah dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah Radhyallahu anhu yang berbunyi :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُوْنَ قِيْلَ أَرْبَعُوْنَ يَوْمًا قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ :أَبَيْتُ قَالُوْا: أَرْبَعُوْنَ شَهْرًا قَالَ أَبَيْتُ قَالُوْا : أَرْبَعُوْنَ سَنَةً قَالَ أَبَيْتُ ثُمَّ يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَيَنْبُتُوْنَ كَمَا يَنْبُتُ الْبَقْلُ وَلَيْسَ مِنَ الإِنْسَانِ شَيْءٌ لاَ يُبْلَى إِلاَّ عَظْمٌ وَاحِدٌ وَهُوَ عَجْبُ الذَّنَبِ مِنْهُ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رواه البخاري ومسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Jarak antara dua tiupan sangkakala itu empat puluh.” Ada yang bertanya: “Empat puluh hari?” Abu Hurairah menjawab: “Aku tidak peduli,” lalu mereka bertanya: “Empat puluh bulan?” Beliau menjawab: “Aku tidak peduli,” mereka bertanya lagi: “Empat puluh tahun?” Dia menjawab,”Aku tidak peduli.” Kemudian turunlah hujan dari langit, lalu mereka tumbuh seperti tumbuhnya sayuran. Semua bagian manusia akan hancur, kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor. Darinya (tulang ekor, red.) manusia diciptakan pada hari Kiamat. [HR al Bukhari dan Muslim].

Demikianlah jarak antara tiupan ash-sha’iq dengan al qiyam adalah empat puluh, tanpa ada penunjukan hari, bulan ataukah tahun. Adapun riwayat yang menyebutkan ada penentuan hari adalah riwayat yang lemah, sebagaimana telah dijelaskan oleh Syaikh Alwi Abdulqadir as-Saqaf.[5]

BAGIAN TUBUH MANUSIA YANG TIDAK DIMAKAN TANAH[6]
Seluruh bagian tubuh manusia akan hancur dimakan tanah, kecuali yang Allah kehendaki lain. Di antaranya, sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama adalah :

Jasad (tubuh) para nabi, seperti dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengharamkan tanah memakan jasad para nabi.[7]

Tubuh para syuhada (orang yang meninggal dalam jihad fi sabilillah), sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir Radhiyallahu anhu yang diriwayatkan Imam al Bukhari dalam Shahih-nya :

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا حَضَرَ أُحُدٌ دَعَانِي أَبِي مِنْ اللَّيْلِ فَقَالَ مَا أُرَانِي إِلَّا مَقْتُولًا فِي أَوَّلِ مَنْ يُقْتَلُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنِّي لَا أَتْرُكُ بَعْدِي أَعَزَّ عَلَيَّ مِنْكَ غَيْرَ نَفْسِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ عَلَيَّ دَيْنًا فَاقْضِ وَاسْتَوْصِ بِأَخَوَاتِكَ خَيْرًا فَأَصْبَحْنَا فَكَانَ أَوَّلَ قَتِيلٍ وَدُفِنَ مَعَهُ آخَرُ فِي قَبْرٍ ثُمَّ لَمْ تَطِبْ نَفْسِي أَنْ أَتْرُكَهُ مَعَ الْآخَرِ فَاسْتَخْرَجْتُهُ َعْدَ سِتَّةِ أَشْهُرٍ فَإِذَا هُوَ كَيَوْمِ وَضَعْتُهُ هُنَيَّةً غَيْرَ أُذُنِهِ

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu , ia berkata: Ketika terjadi perang Uhud, bapakku memanggilku pada malam hari dan (dia) berkata: “Aku merasa akan terbunuh sebagai orang pertama yang terbunuh dari para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dan sungguh, aku tidak meninggalkan setelahku yang aku cintai lebih darimu, kecuali diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sungguh aku masih memiliki hutang, maka tunaikanlah dan jagalah baik-baik saudari-saudarimu,” lalu pada pagi harinya beliau menjadi orang pertama yang terbunuh. Dan bersamanya dimakamkan seseorang dalam satu kuburan. Kemudian diriku (merasa) kurang senang membiarkan beliau bersama yang lain dalam satu kuburan, maka aku gali ulang (kuburannya) setelah enam bulan. Ternyata, keadaan beliau masih seperti saat aku kuburkan, kecuali telinganya.[HR al Bukhari].

Tulang ekor manusia, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah di atas, dan riwayat lain dalam Shahih Muslim disebutkan :

إِنَّ فِي الإِنْسَانِ عَظْمًا لاَ تَأْكُلُهُ الأَرْضُ أَبَدًا فِيْهِِ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالُوْا أَيُّ عَظْمٍ هُوَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ عَجْبُ الذَّنَبِ

“Sesungguhnya pada diri manusia ada satu tulang yang tidak dimakan tanah selamanya. Padanya manusia disusun (kembali) pada hari Kiamat”. Mereka bertanya,”Tulang apakah itu, wahai Rasulullah?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Tulang ekor“

Ruh, berkata Imam As-Safarini. Dan sungguh ruh-ruh manusia tidak punah, walaupun ia makhluk Allah, maka fahamilah[8].

PROSESI KEBANGKITAN
Keluar Dari Kubur
Setelah ditiup sangkakala pada tiupan ash-sha’iq, maka manusia pun mati, lalu Allah membangkitkan mereka dari tulang-tulang ekor yang tumbuh disirami hujan, seperti tumbuhnya sayuran, sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits di atas. Setelah sempurna susunan dan tubuh mereka, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Malaikat Israfil untuk meniup sangkakala lagi, sehingga ruh-ruh kembali kepada jasadnya, dan manusia pun bangkit berdiri menunggu keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikianlah hari keluarnya mereka dari kuburnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَاسْتَمِعْ يَوْمَ يُنَادِ الْمُنَادِ مِنْ مَكَانٍ قَرِيبٍ ﴿٤١﴾ يَوْمَ يَسْمَعُونَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكَ يَوْمُ الْخُرُوجِ ﴿٤٢﴾ إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي وَنُمِيتُ وَإِلَيْنَا الْمَصِيرُ ﴿٤٣﴾ يَوْمَ تَشَقَّقُ الْأَرْضُ عَنْهُمْ سِرَاعًا ۚ ذَٰلِكَ حَشْرٌ عَلَيْنَا يَسِيرٌ

Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat.(Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya itulah hari keluar (dari kubur). Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kami-lah tempat kembali (semua makhluk). (Yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka (lalu mereka keluar) dengan cepat. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami.[Qaaf/50:41-44].

Disinilah orang kafir berkata:”Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Sedangkan mukmin menyatakan : “Inilah yang dijanjikan (Rabb) Yang Maha Pemurah dan benarlah rasul-rasul(Nya)”[9]

Digiring Ke Padang Mahsyar
Kemudian manusia digiring ke Padang Mahsyar dalam keadaan tidak mengenakan penutup kaki maupun pakaian, dan dalam keadaan belum dikhitan, sebagaimana mereka dahulu diciptakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya.[al Anbiya/21:104].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا ثُمَّ قَرَأَ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ

“Sungguh kalian akan dibangkitkan dalam keadaan tidak mengenakan sandal (pelindung kaki), telanjang dan masih berkulup (belum dikhitan),” kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah : Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya. (al Anbiya/21:104)]. [HR al Bukhari].

Di dalam shahihain, terdapat hadits ‘Aisyah yang menggambarkan peristiwa ini. Yaitu sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

يُحْشَرُ النَّاسُ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ جَمِيْعًا يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ فَقَالَ الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ

“Manusia digiring (di Padang Mahsyar) dalam keadaan tidak mengenakan sandal (pelindung kaki), telanjang dan masih berkulup (belum dikhitan)”. Lalu ‘Aisyah berkata: Aku bertanya,”Laki-laki dan perempuan semuanya? Sebagian mereka melihat sebagian lainnya?” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Keadaannya lebih mengerikan dari membuat mereka berpikir demikian“.[Muttafaqun ‘alaih].

Demikianlah, setiap orang sibuk dengan dirinya masing-masing, sebagaimana dijelaskan Allah di dalam firmanNya :

فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ ﴿٣٣﴾ يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ﴿٣٤﴾ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ ﴿٣٥﴾ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ ﴿٣٦﴾ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkalala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka, pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. [Abasa/80:33-37].

Namun kemudian, mereka diberi pakaian juga. Dan seseorang yang pertama kali diberi pakaian adalah Nabi Ibrahim[10], sebagaimana disebutkan dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَأَوَّلُ مَنْ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ.

Orang pertama yang diberi pakaian pada hari Kiamat adalah Nabi Ibrahim.[HR al Bukhari].

Sedangkan pakaian yang dikenakan manusia adalah pakaian yang dikenakan saat ia meninggal. Demikianlah yang difahami dari sahabat yang mulia, Abu Sa’id al Khudri, dalam hadits yang berbunyi:

أَنَّهُ لَمَّا حَضَرَهُ الْمَوْتُ دَعَا بِثِيَابٍ جُدُدٍ فَلَبِسَهَا ثُمَّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ الْمَيِّتُ يُبْعَثُ فِيْ ثِيَابِهِ الَّتِيْ يَمُوْتُ فِيْهَا رواه أبو داود وابن حبان في صحيحه

Ketika menjelang kematiannya, beliau meminta diambilkan pakaian baru, lalu dikenakannya, kemudian beliau berkata : Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Mayit akan dibangkitkan mengenakan pakaian yang dikenakan ketika mati”.[11]

Demikian juga yang difahami oleh sahabat yang mulia, Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu. Disebutkan oleh al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Fat-hul Bari, bahwa Ibnu Abi ad Dunya meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Abu ‘Amru bin al Aswad, ia berkata :

دَفَنَّا أُمَّ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ, فَأَمَرَ بِهَا فَكُفِنَتْ بِثِيَابٍ جُدُدٍ وَ قَالَ: أَحْسِنُوْا أَكْفَانَ مَوْتَاكُمْ فَإِنَّهُمْ ُحْشَرُوْنَ فِيْهَا

Kami menguburkan jenazah ibu Mu’adz bin Jabal, lalu Mu’adz memintanya dan dikafani dengan pakaiannya yang baru, dan ia berkata: “Perbaguskanlah kafan jenazah kalian, karena sesungguhnya mereka dibangkitkan pada pakaian tersebut”[12].

Cara Menggiringnya
Manusia digiring ke Padang Mahsyar dengan berjalan kaki, sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّكُمْ مُلَاقُو اللَّهِ حُفَاةً عُرَاةً مُشَاةً غُرْلًا رواه البخاري

Kalian akan menjumpai Allah dalam keadaan tidak mengenakan sandal (pelindung kaki), telanjang, berjalan kaki dan masih berkulup (belum dikhitan).[HR al Bukhari].

Namun juga terdapat riwayat yang menjelaskan adanya sebagian manusia yang berkendaraan, sebagaimana dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

إِنَّكُمْ تُحْشَرُوْنَ رِجَالًا وَرُكْبَانًا وَتُجَرُّونَ عَلَى وُجُوهِكُمْ رواه الترمذي وقال حديث حسن

Sesungguhnya kalian akan digiring (di Padang Mahsyar) dalam keadaan berjalan dan berkendaraan, serta diseret di atas wajah-wajah kalian.[13]

Orang-orang yang diseret dan berjalan dengan wajahnya adalah orang-orang kafir. dalam penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap firman Allah dalam surat Al Furqan/25 ayat 34, dalam satu hadits dari Anas bin Malik beliau berkata:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ يا رسول الله قال الله ( الَّذِينَ يُحْشَرُونَ عَلَى وُجُوهِهِمْ إِلَى جَهَنَّمَ) أَ يُحْشَرُ الْكَافِرُ عَلَى وَجْهِهِ؟ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:أَلَيْسَ الَّذِي مَشَّاهُ عَلَى الرِّجْلَيْنِ فِي الدُّنْيَا قَادِرًا عَلَى أَنْ يُمَشِّيَهُ عَلَى وَجْهِهِ ؟ قَالَ قَتَادَةُ حِيْنَ بَلَغَهُ: بَلَى وَعِزَّةِ رَبِّنَا رواه البخاري ومسلم

Bahwasanya seseorang berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai, Rasulullah! Allah berfirman, ‘Orang-orang yang dihimpunkan ke neraka Jahannam dengan diseret atas muka-muka mereka’ –al Furqan/25 ayat 34- apakah orang kafir digiring di atas wajahnya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Bukankah Dzat yang membuat seseorang berjalan di atas kedua kakinya di dunia mampu untuk membuatnya berjalan di atas wajahnya?” Qatadah berkata ketika hadits ini sampai kepadanya : “Benar, demi kemuliaan Allah”. [HR al Bukhari dan Muslim].

DIKUMPULKAN DI PADANG MAHSYAR
Setelah dibangkitkan dari kubur, kemudian Allah menggiring dan mengumpulkan manusia di Padang Mahsyar untuk menunggu keputusan Allah. Tentang hal ini, terdapat beberapa riwayat yang menjelaskannya.

Keadaan Padang Mahsyar
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan tanah di Padang Mahsyar adalah tanah yang rata, belum ditempati seorangpun. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ كَقُرْصَةِ النَقِيِّ لَيْسَ فِيْهَا عَلَمٌ لأَحَدٍ رواه مسلم وفي رواية البخاري: قَالَ سَهْلٌ أَوْ غَيْرُهُ: لَيْسَ فِيهَا مَعْلَمٌ لِأَحَدٍ

Pada hari Kiamat, manusia dikumpulkan di atas tanah yang rata seperti roti putih yang bundar dan pipih; tidak ada tanda untuk seorangpun.[14]

Matahari Mendekat
Ketika manusia menghadap Rabb sekalian alam semesta, matahari mendekat sejauh satu mil dari mereka, sehingga manusia berkeringat, hingga keringat tersebut menenggelamkan manusia sesuai dengan amalan masing-masing ketika di dunia. Berikut adalah beberapa hadits yang menjelaskan keadaan tersebut.

Hadits al Miqdad bin al Aswad yang diriwayatkan Imam Muslim :

عَنِ الْمِقْدَادِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: تَدْنُو الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ, قَالَ سُلَيْمُ بْنُ عَامِرٍ : وَاللَّهِ ! مَا أَدْرِي مَا يَعْنِي بِالْمِيلِ أَمَسَافَةَ الْأَرْضِ أَمْ الْمِيلَ الَّذِي تُكْتَحَلُ بِهِ الْعَيْنُ؟ قَالَ: فَيَكُونُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إِلَى حَقْوَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا وَأَشَارَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ إِلَى فِيهِ رواه مسلم

Dari al Miqdad Radhiyallahu anhu , ia berkata : Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Pada hari Kiamat, matahari akan mendekat (kepada) makhluk (manusia) hingga jaraknya dari mereka seperti ukuran satu mil”. Sulaim bin ‘Amir berkata,”Demi Allah! Aku tidak mengerti yang dimaksud dengan satu mil tersebut, apakah ukuran dunia ataukah mil yang digunakan sebagai alat celak mata?” Beliau berkata: “Sehingga manusia berada sesuai dengan ukuran amalannya dalam keringatnya. Ada di antara mereka yang keringatnya sampai kedua mata kakinya. Ada yang sampai kedua lututnya, dan ada yang sampai pinggangnya, serta ada yang keringatnya menenggelamkannya. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat dengan tangannya ke mulut beliau.[HR Muslim].

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata : “Jarak satu mil ini, baik satu mil yang biasa atau mil alat celak, semuanya dekat. Apabila sedemikian rupa panasnya matahari di dunia, padahal jarak antara kita dengannya sangat jauh, bagaimana jika matahari tersebut berada satu mil di atas kepala kita?”[15]

Hingga manusia bercucuran keringat dan keringatnya menenggelamkan mereka. Ada yang hanya mencapai kedua mata kakinya. Ada yang sampai kedua lututnya, dan ada yang sampai pinggangnya, serta ada yang keringatnya menenggelamkan mulutnya. Bahkan sampai ada yang keringatnya melampaui kepalanya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Uqbah bin ‘Amir yang berbunyi:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول تَدْنُو الشَّمْسُ مِنَ الأَرْضِ فَيَعْرَقُ النَّاسُ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَبْلُغُ عَرَقُهُ عَقِبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ [إِلَى ] نِصْفَ السَّاقِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إٍلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إِلَى الْعَجْزِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ الْخَاصِرَةَ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ مَنْكِبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ عُنُقَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إِلَى وَسَطِ فِيْهِ -وَأَشَارَ بِيَدِهِ أَلْجَمَهَا فَاهُ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيْرُ هَكَذَا- وَمِنْهُمْ مَنْ يُغَطِّيْهِ عَرَقُهُ وَضَرَبَ بِيَدِهِ إِشَارَةً وَأَمَرَ يَدَهُ فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُصِيْبَ الرَّأْسَ , دَوَّرَ رَاحَتَهِ يَمِيْنًا وَشِمَالاً رواه أحمد والطبراني وابن حبان في صحيحه والحاكم وقال صحيح الإسناد

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiyallahu anhu , ia berkata : Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Matahari mendekat dari bumi, lalu manusia berkeringat. Di antara manusia ada yang keringatnya mencapai tumitnya, ada yang mencapai setengah betisnya, ada yang mencapai kedua lututnya, ada yang mencapai pantatnya, ada yang mencapai lambungnya, ada juga yang mencapai kedua bahunya, ada yang mencapai lehernya, dan ada yang mencapai tengah mulutnya –beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangannya memenuhi mulutnya, (dan) aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan demikian- serta ada di antara mereka yang keringatnya menenggelamkannya”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul dengan tangannya sebagai isyarat dan meletakkan tangannya di atas kepalanya tanpa menyentuh kepala. Beliau memutar telapak tangannya ke kanan dan ke kiri. [HR Ahmad, ath Thabrani, dan Ibnu Hiban dalam Shahih-nya, serta al Hakim dan beliau berkata : “Shahih sanadnya”. Hadits ini dishahihkan al Albani, dan beliau berkata : “Adz Dzahabi menyepakatinya dalam kitab at Talkhish, dan ini lafazh al Hakim”. [Lihat Shahih at Targhib wat-Tarhib, hadits no 3588].

Di Padang Mahsyar juga ada orang-orang yang mendapat naungan dari, di antaranya, sebagaimana yang disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau :

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ رواه البخاري ومسلم

Tujuh orang yang Allah naungi dalam naunganNya pada hari tidak ada naungan kecuali naunganNya, (yaitu) : Imam yang adil, pemuda yang berkembang dalam ibadah kepada Allah, seorang yang hatinya bergantung kepada masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah di atasnya, dan seorang yang diajak seorang wanita pemilik kedudukan dan kecantikan (untuk berzina), lalu (ia) menyatakan “Aku takut kepada Allah”. Juga seorang yang bershadaqah lalu menyembunyikannya, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya, dan seorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan bersendiri, lalu kedua matanya meneteskan air mata. [HR al Bukhari dan Muslim].

Lamanya Dikumpulkan
Seluruh manusia akan dikumpulkan di Padang Mahsyar dalam keadaan berdiri selama empat puluh tahun, sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

يَجْمَعُ اللهُ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ لِمِيْقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُوْمٍ قِيَامًا أَرْبَعِيْنَ سَنَةً شَاخِصَةً أََبْصَارُهُمْ [إِلَى السَمَاءِ] يَنْتَظِرُوْنَ فَصْلَ الْقَضَاءِ رواه ابن أبي الدنيا والطبراني

Allah mengumpulkan semua manusia dari yang pertama sampai yang terakhir pada waktu hari tertentu dalam keadaan berdiri empat puluh tahun. Pandangan-pandangan mereka menatap (ke langit), menanti pengadilan Allah.[16]

Meskipun rentang waktu tersebut lama, namun terasa sebentar bagi kaum Mukminin, sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

(يَوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ) (المطففين 6 ) مِقْدَارَ نِصْفِ يَوْمٍ مِنْ خَمْسِيْنَ أَلْفِ سَنَةٍ فَيَهُوْنُ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِ كَتَدَلِّي الشَّمْسِ لِلْغُرُوْبِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ رواه أبو يعلى بإسناد صحيح وابن حبان في صحيحه

Tentang firman Allah “(Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam” –al Muthaffifin/83 ayat 6- seukuran setengah hari dari lima puluh ribu tahun. Yang demikian itu (sangatlah) mudah (ringan) bagi orang mukmin, seperti matahari menjelang terbit sampai terbit.[17]

Syafa’at Kubra
Peristiwa di Padang Mahsyar sangatlah dahsyat. Sehingga, setelah mencapai puncaknya, manusia mencari orang yang dapat menjadi pemberi syafa’at, agar Allah mempercepat keputusanNya. Setiap umat mengikuti nabinya. Dijelaskan dalam hadits Ibnu ‘Umar yang berbunyi:

إِنَّ النَّاسَ يَصِيرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ جُثًا كُلُّ أُمَّةٍ تَتْبَعُ نَبِيَّهَا

Sungguh pada hari Kiamat, manusia menjadi berkelompok-kelompok. Setiap umat mengikuti nabi mereka. [HR al Bukhari].

Menusia pun akhirnya berusaha menemui Adam, Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa untuk dapat memintakan syafa’at kepada Allah, tetapi mereka semua menolak, hingga akhirnya manusia menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al Bukhari dan Muslim, dalam hadits yang berbunyi :

Pada hari Kiamat, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan seluruh makhluknya, yang pertama sampai terakhir di satu tanah luas yang datar, hingga orang yang memanggil dapat memperdengarkan kepada mereka, dan orang dapat melihat mereka seluruhnya, dan matahari mendekat sehingga manusia mengalami kesusahan dan mencapai kekritisan, yang mereka tidak mampu dan tidak bisa menanggungnya.

Maka sebagian manusia berkata kepada yang lainnya: “Tidakkah kalian melihat keadaan kalian sekarang? Tidakkah kalian melihat yang telah menimpa kalian? Tidakkah kalian mencari orang yang dapat memintakaan syafa’at untuk kalian kepada Allah?”

Sebagian lainnya berkata : “Mari (kita) datangi Adam!” Lalu mereka menemui beliau, dan berkata: “Wahai Adam! Engkau adalah bapak (seluruh) manusia. Allah menciptakanmu dengan tanganNya dan meniupkan kepadamu dari ruh-ruhNya, serta memerintah para malaikat untuk sujud, dan malaikat pun sujud kepadamu. Mintalah kepada Rabb-mu syafaat untuk kami! Tidakkah engkau melihat keadaan kami? Tidakkah engkau lihat sampai sedemikian beratnya (yang menimpa kami)?”

Adam pun menjawab : “Sungguh, Rabb-ku telah murka pada hari ini, dengan kemurkaan yang belum pernah ada yang seperti ini sebelumnya, dan tidak juga setelahnya. Dia telah melarangku dari sebuah pohon, lalu aku langgar. Pergilah kepada Nuh,” maka mereka pun menemui Nuh dan berkata : “Wahai Nuh! Engkau adalah rasul pertama (yang Allah utus) di bumi dan Allah menamakanmu hamba yang bersyukur. Maka mintakanlah untuk kami syafa’at kepada Rabb-mu, Tidakkah engkau melihat keadaan kami? Tidakkah engkau lihat sampai sedemikian beratnya (yang menimpa kami)?”

Nuh pun berkata kepada mereka: “Sungguh, Rabb-ku telah murka pada hari ini dengan kemurkaan yang belum pernah ada yang seperti ini sebelumnya, dan tidak juga setelahnya. Sungguh dahulu aku memiliki sebuah doa, yang aku gunakan untuk mendoakan keburukan kepada kaumku. Pergilah kalian kepada Ibrahim!”

Kemudian, mereka pun mendatanginya dan berkata : “Engkau adalah nabi dan kekasih Allah dari penduduk bumi. Maka mintakanlah syafa’at kepada Rabb-mu untuk kami! Tidakkah engkau melihat keadaan kami? Tidakkah engkau lihat sampai sedemikian beratnya (yang menimpa kami)?”

Ibrahim pun berkata kepada mereka : “Sungguh, Rabb-ku telah murka pada hari ini dengan kemurkaan yang belum pernah ada yang seperti ini sebelumnya, dan tidak juga setelahnya,” lalu beliau menyampaikan beberapa kedustaannya (dan berkata): “Pergilah menemui selain aku. Pergilah kepada Musa!”

Mereka kemudian mendatangi Musa dan berkata : “Wahai Musa! Engkau adalah rasulullah. Allah memuliakan engkau atas sekalian manusia dengan kerasulan dan pembicaraanNya. Maka mintakanlah syafa’at untuk kami kepada Rabb-mu. Tidakkah engkau melihat keadaan kami? Tidakkah engkau lihat sampai sedemikian beratnya (yang menimpa kami)?”

Musa pun berkata kepada mereka: “Sungguh, Rabb-ku telah murka pada hari ini dengan kemurkaan yang belum pernah ada yang seperti ini sebelumnya, dan tidak juga setelahnya. Sungguh aku pernah membunuh jiwa yang tidak diperintahkan membunuhnya. Pergilah kalian kepada selain aku. Pergilah kepada Isa!”

Mereka pun kemudian menemui Isa dan berkata : Wahai Isa! Engkau adalah rasulullah dan engkau berbicara kepada manusia ketika bayi, dan (engkau adalah) kalimat Allah yang diberikan kepada Maryam, serta ruh dariNya. Maka mintakanlah syafa’at untuk kami kepada Rabb-mu! Tidakkah engkau melihat keadaan kami? Tidakkah engkau lihat sampai sedemikian beratnya (yang menimpa kami)?”

‘Isa pun berkata kepada mereka : Sungguh, Rabb-ku telah murka pada hari ini dengan kemurkaan yang belum pernah ada yang seperti ini sebelumnya, dan tidak juga setelahnya”. Beliau tidak menyebut satupun dosanya. (Lalu berkata),”Pergilah kepada selain aku. Pergilah kepada Muhammad!”

Lalu mereka menemuiku dan berkata : “Wahai Muhammad! Engkau adalah rasulullah dan penutup para nabi, serta orang yang telah diampuni dosanya yang lalu dan akan dating. Maka mintakanlah syafa’at kepada Rabb-mu untuk kami. Tidakkah engkau melihat keadaan kami? Tidakkah engkau lihat sampai sedemikian beratnya (yang menimpa kami)?”

“Maka aku pun pergi dan datang di bawah Al ‘Arsy, lalu bersujud kepada Rabb-ku, kemudian Allah membukakan dan mengilhamkan kepadaku sesuatu dari puja dan pujian indah yang tidak diberikan kepada selain diriku sebelumnya. Kemudian ada yang berkata : ‘Wahai Muhammad! Bangunlah! Mintalah, niscaya diberi dan mohonlah syafa’at, niscaya dikabulkan,’ maka akupun bangun dan berkata : “Wahai Rabb-ku! Umatku, umatku!’.” [HR al Bukhari dan Muslim, dan ini lafazh Muslim].

Setelah itu manusia menghadapi peristiwa lainnya, yaitu berupa pemaparan lembaran amalan, timbangan (mizan) dan lainnya.

Demikianlah sebagian keterangan seputar yaumul ba’ts, hari kebangkitan yang pasti terjadi. Mudah-mudahan bermanfaat.

Maraji :

Syarhu Lum’at at I’tiqad, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Tahqiq Asyraf Abdul Maqsud, Cetakan ke-3, Tahun 1415H, Maktabah Thabariyah, Riyadh, KSA.Mukhtashar Ma’arijul Qabul, Hisyam Ali Uqdah, Cetakan ke-3, Tahun 1413H, Dar ash-Shafwah, Kairo.Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.Shahih at Targhib wat-Tarhib, Syaikh al Albani.Syarah al ‘Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.Syarah al ‘Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Khalil Harras.Syarah al ‘Aqidah al Wasithiyah, Syaikh Khalid bin Abdillah al Muslih.Fat-hul Bari Syarah Shahih al Bukhari, al Hafizh Ibnu Hajar, Cetakan al Maktabah as-Salafiyah.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_____
Footnote
[1] Mukhtashar Ma’arijul Qabul, halaman 231.
[2] HR Abu Dawud, at Tirmidzi dan beliau menghasankan, serta Ibnu Hibban di dalam Shahih-nya. Hadits ini dishahihkan al Albani dalam Shahih at Targhib wat-Tarhib, no. 3568
[3] Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (4/260-261), dan inilah yang dirajihkan Syaikh Shalih Alu Syaikh dalam syarah beliau terhadap kitab al Aqidah al Wasithiyah, kaset ke-19 yang telah ditranskrip dalam program Maktabah asy Syaikh Shalih Alu Syaikh, oleh Abu ‘Abdillah Suhail al Jazairiy (soohil@gawab.com).
[4] Syarhu Lum’at al I’tiqad, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Tahqiq Asyraf Abdul Maqsud, halaman 114.
[5] Lihat footnote beliau terhadap kitab Syarhu al Aqidah al Wasithiyah, karya al Harras, halaman 206 dengan menjelaskan referensinya dari kitab al Ba’ts, karya Imam Abu Dawud, dengan takhrij Abu Ishaq al Huwaini.
[6] Lihat Mukhtashar Ma’arijul Qabul, halaman 238-239.
[7] HR Abu Dawud no. 1047 dan Ibnu Majah, dan ini lafazh Ibnu Majah no. 1075, dan dishahihkan al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud
[8] Syarah Al-Aqidah Al-Safariniyah, Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Mani, hal. 212
[9] Lihat surat Yasin ayat 52.
[10] Penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Syarhu al Aqidah al Wasithiyah (2/134).
[11] HR Abu Dawud dan Ibnu Hiban dalam Shahih-nya, dan dishahihkan al Albani. Lihat Shahih at Targhib wat-Tarhib, hadits no. 3575
[12] Fat-hul Bari Syarah Shahih al Bukhari (11/383).
[13] HR at Tirmidzi, dan beliau berkata: “Hadits hasan”. Hadits ini dihasankan al Albani dalam Shahih at Targhib wat-Tarhib no. 3582
[14] HR Muslim. Dan dalam riwayat al Bukhari: Sahl atau yang lainnya berkata : “Tidak ada tanda bekas bagi seorangpun”
[15] Syarhu al ‘Aqidah al Wasithiyah (2/134).
[16] HR Ibnu Abi ad Dunya dan ath Thabrani, dan dishahihkan al Albani. Lihat Shahih at Targhib wat-Tarhib, hadits no.3591
[17] HR Abu Ya’la dengan sanad shahih, dan Ibnu Hibaan dalam Shahih-nya. Dan dishahihkan al Albani. Lihat Shohih Shahih at Targhib wat-Tarhib, hadits no.3589

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *