/Din Syamsuddin: Peristiwa Wiranto Mengapa Bisa Kebobolan?

Din Syamsuddin: Peristiwa Wiranto Mengapa Bisa Kebobolan?

“Suasana ini tidak positif karena menunjukkan bahwa negara sesungguhnya tidak aman, dan negara akan dianggap gagal mengemban amanat Konstitusi”

Hidayatullah.com– Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Prof Din Syamsuddin mempertanyakan kinerja aparat terkait kasus penyerangan terhadap Menko Polhukam Wiranto.

Sebelumnya Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Budi Gunawan (BG), mengatakan pihaknya sudah tiga bulan mengintai Syaril Alamsyah, pria yang menusuk Wiranto di Pandeglang, Banten, baru-baru ini.

“Tentang peristiwa Bapak Wiranto saya membaca di media bahwa pihak keamanan sudah sejak tiga bulan lalu memantau pelaku penusukan. Pikiran awam saya bertanya, mengapa justeru bisa kebobolan?” ungkap Din dalam pernyataannya diterima hidayatullah.com, Sabtu (12/10/2019).

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini mengatakan, atas kejadian itu, rakyat kecil akan merasa lebih terancam keamanannya karena pejabat tinggi, termasuk Menko Urusan Keamanan pun, tidak terjamin keamanannya.

“Suasana ini tidak positif karena menunjukkan bahwa negara sesungguhnya tidak aman, dan negara akan dianggap gagal mengemban amanat Konstitusi yakni melindungi rakyat warga negara,” lanjutnya.

Din juga menyinggung narasi yang digaungkan elite terkait di balik kejadian penyerangan terhadap Wiranto tersebut.

“Tentang penyimpulan bahwa pelaku tindak kekerasan adalah orang yang terpapar ekstremisme dan radikalisme apalagi menyebut kelompok ISIS, pada hemat saya, merupakan simplifikasi masalah yang tidak akan mengakhiri masalah serta merupakan generalisasi yang berbahaya.

Sebagian warga masyarakat, khususnya umat Islam, banyak yang sudah merasa bosan dengan pendekatan seperti itu dan akhirnya hilang kepercayaan dan kemudian bersikap abai,” paparnya.

Akhirnya, pungkas Din, “Janganlah hendaknya Kasus Pandeglang tersebut memalingkan perhatian bangsa terhadap persoalan-persoalan kebangsaan yang mendasar, yaitu menjaga persatuan hakiki, merawat kemajemukan sejati, dan membangun infrastruktur negeri jasmani serta rohani.”*

Rep: SKR

Editor: Muhammad Abdus Syakur



Sumber