Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Peristiwa Sesampainya Nabi di Madinah

Sesudah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah, banyak pelajaran penting yang bisa diambil. Kami sarikan dari Fiqh As-Sirah sebagai berikut.

 

Pertama:

Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlihatkan kecintaan mereka kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka rela keluar di pagi hari untuk menunggu kedatangan beliau. Jika bukan karena teriknya matahari, niscaya mereka tidak akan kembali ke rumah mereka.

Kecintaan mereka pun nampak dari perkataan Al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, “Saya tidak pernah melihat penduduk Madinah merasa gembira seperti gembiranya mereka menyambut kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari, no. 3932)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Seorang hamba tidaklah beriman hingga aku lebih ia cintai dari keluarga, harta, dan manusia seluruhnya.” (HR. Muslim, no. 44)

Kedua:

Keluarnya para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyambut kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, merupakan sebuah isyarat perintah untuk menyambut orang-orang besar, menghormati, dan memuliakannya, seperti para pemimpin atau orang tua. Semua itu adalah bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

جَاءَ شَيْخٌ يُرِيدُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَأَبْطَأَ الْقَوْمُ عَنْهُ أَنْ يُوَسِّعُوا لَهُ فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا ».

“Ada seorang kakek dating dan ingin menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mereka melapangkan jalan untuknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Tidak termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi anak-anak dan tidak menghormati orang tua.” (HR. Tirmidzi, no. 1919. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Masih berlanjut Insya-Allah.

 

Referensi:

Fiqh As-Sirah. Cetakan Tahun 1424 H. Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Penerbit Dar At-Tadmuriyyah.

 

 


 

Disusun di Darush Sholihin, 28 Jumadal Ula 1441 H (24 Januari 2020)

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

 

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *