/Ingin Pahala Syahid Saat Terjadi Wabah Corona? Tetaplah Tinggal di Rumah

Ingin Pahala Syahid Saat Terjadi Wabah Corona? Tetaplah Tinggal di Rumah

pahala syahid saat corona
ilustrasi (pinterest)


Dalam setiap kondisi, Allah menyediakan ladang pahala
bagi hamba-hambaNya yang beriman. Pun saat terjadi wabah atau pandemi. Termasuk
saat terjadinya wabah corona. Melalui sabda Nabi-Nya, kita mengetahui janji
Allah berupa pahala syahid. Baik meninggal akibat kena wabah itu atau tidak
meninggal.

Bagaimana cara mendapatkan pahala syahid saat terjadi wabah corona seperti saat ini? Sabar dan tetap tinggal di rumah. Tidak keluar dari daerahnya.

Sabda Rasulullah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ
يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم –
أَنَّهَا أَخْبَرَتْنَا أَنَّهَا سَأَلَتْ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم –
عَنِ الطَّاعُونِ فَأَخْبَرَهَا نَبِىُّ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّهُ
كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ ، فَجَعَلَهُ اللَّهُ
رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ
فِى بَلَدِهِ صَابِرًا ، يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيبَهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ
اللَّهُ لَهُ ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ

Dari Yahya bin Ya’mar, dari Aisyah istri Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam, sesungguhnya dia mengabarkan kepada kami bahwa dia bertanya
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang thaun, maka Nabiyullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya ia (thaun) adalah adzab
yang dikirim Allah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Lalu Allah menjadikannya
rahmat bagi orang-orang yang beriman. Tidak seorang pun hamba yang ditimpa
thaun lalu tetap tinggal di negerinya dalam keadaan sabar dan mengetahui tidak
ada yang menimpa dirinya kecuali apa yang ditetapkan Allah untuknya, maka
baginya seperti pahala mati syahid.”
(HR. Bukhari)

Dalam riwayat Imam Ahmad, lebih spesifik digunakan kata baitihi
(rumahnya) sebagai pengganti baladihi (negerinya).

عَنْ
يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ
-صلى الله عليه وسلم- عَنِ الطَّاعُونِ فَأَخْبَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله
عليه وسلم- أَنَّهُ كَانَ عَذَاباً يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ
فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ
فَيَمْكُثُ فِى بَيْتِهِ صَابِراً مُحْتَسِباً يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ
إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ

Dari Yahya bin Ya’mar, dari Aisyah ia berkata, aku
bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang thaun, maka
Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan, “Sesungguhnya ia
(thaun) adalah adzab yang dikirim Allah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Lalu
Allah menjadikannya rahmat bagi orang-orang yang beriman. Tidak seorang pun yang
ditimpa thaun lalu tetap tinggal di rumahnya dalam keadaan sabar dan mengetahui
tidak ada yang menimpa dirinya kecuali apa yang ditetapkan Allah untuknya, maka
baginya seperti pahala mati syahid.”
(HR. Ahmad)

Ringkasan Penjelasan Ibnu Hajar Al Asqalani

Meskipun pada hadits ini ada yaqauth thaa’uun yang
diterjemahkan ditimpa thaun, Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah menjelaskan sesuai
judul bab yang ditulis Imam Bukhari rahimahullah. Yakni baik thaun itu
menimpanya atau terjadi di negeri tempat ia tinggal.

Thaun adalah azab (siksa) yang dikirim kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. Siapa yang dikehendakinya (من يشاء)
ini maksudnya adalah dari golongan orang kafir dan pelaku maksiat. Adapun untuk
orang mukmin, thaun bukanlah azab melainkan rahmat.

Mengutip hadits lain yang diriwayatkan Imam Ahmad, Ibnu
Hajar menegaskan, “Hal ini sangat tegas menyatakan bahwa keberadaan thaun
sebagai rahmat hanya untuk kaum muslimin. Apabila thaun menimpa orang-orang
kafir maka ia adalah siksaan bagi mereka yang disegerakan di dunia sebelum
akhirat.”

Lalu bagaimana dengan pelaku maksiat dari kalangan kaum
muslimin? Ibnu Hajar memilih berhati-hati. “Ada kemungkinan orang seperti ini
tidak akan diberi kemuliaan mati syahid karena keburukan perbuatannya
berdasarkan firman Allah dalam Surat Al Jatsiyah ayat 21.”

Ibnu Hajar kemudian mengutip banyaknya hadits yang
menjelaskan, thaun justru datang karena banyaknya kemaksiatan. Di antaranya
adalah:

إذا ظهر الزنا والربا في قرية ، فقد أحلوا
بأنفسهم عذاب الله

“Apabila zina dan riba telah nampak (banyak
terjadi) pada suatu negeri, maka mereka telah menghalalkan azab Allah terhadap
diri mereka”
(HR. Hakim)

ولا ظهرت الفاحشة في قوم قط ، إلا سلط الله
عليهم الموت

“Tidaklan kekejian tampak pada suatu kaum
kecuali Allah menguasakan kematian pada mereka”
(HR. Hakim)

لاَ تَزَالُ أُمَّتِى بِخَيْرٍ مَا لَمْ يَفْشُ
فِيهِمْ وَلَدُ الزِّنَا فَإِذَا فَشَا فِيهِمْ وَلَدُ الزِّنَا فَيُوشِكُ أَنْ
يَعُمَّهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِعِقَابٍ

“Umatku senantiasa dalam kebaikan selama
anak zina belum menyebar di antara mereka. Apabila anak zina telah menyebar di
antara mereka, dikhawatirkan Allah Azza wa Jalla akan menimpakan siksa kepada
mereka”
(HR. Hakim)

Orang yang akan mendapat pahala mati syahid saat
terjadinya thaun adalah mukmin yang tetap tinggal di negerinya dengan sabar dan
meyakini tidak ada yang menimpanya kecuali apa yang telah ditetapkan Allah.

Sabar di sini, menurut Al Hafizh, adalah tidak panik akan
meninggal karena wabah tersebut. Dia tinggal di negerinya dan tidak keluar
melarikan diri darinya. “Yakni negeri terjadinya thaun tersebut,” terangnya. “Dalam
riwayat Imam Ahmad disebutkan tetap tinggal di rumahnya.”

“Seandainya seseorang tetap tinggal di negerinya yang
dilanda thaun dalam keadaan panik dan menyesal karena tidak bisa keluar, dan
beranggapan jika keluar niscaya tidak akan ditimpa thaun, lalu dia tetap
tinggal sehingga ditimpa wabah itu, maka orang seperti ini tidak mendapatkan
pahala mati syahid.”

Ibnu Hajar kemudian menyimpulkan, orang yang akan
mendapatkan seperti pahala mati syahid pada hadits ini ada tiga golongan. Pertama,
orang yang memiliki sifat-sifat yang disebutkan dalam hadits tersebut lalu
ditimpa thaun sampai meninggal. Kedua, orang yang memiliki sifat-sifat
yang disebutkan dalam hadits tersebut lalu ditimpa thaun namun tidak meninggal.
Ketiga, orang yang memiliki sifat-sifat yang disebutkan dalam hadits
tersebut namun tidak ditimpa thaun namun meninggal karena sebab lain baik saat
itu maupun sesudahnya.

Syaikh Abu Muhammad bin Abi Jamrah menjelaskan, tingkatan
syahid bertingkat-tingkat. Sehingga sebagaimana hadits orang yang meninggal
karena tha’un adalah syahid, untuk golongan pertama. Sedangkan mendapat pahala
seperti mati syahid, untuk golongan pertama dan kedua.

Sabar dan Perbanyak Doa

Membaca hadits dan penjelasannya tersebut, insya Allah
membuat kita lebih tenang. Yang paling utama adalah terjaganya iman kita. Karena
bagi setiap mukmin, segala kondisi adalah baik.

Selain ikhtiar dengan menjaga kesehatan, meningkatkan imun, sangat penting memenuhi karakter dalam hadits tersebut. Sabar menghadapi masa pandemi corona ini dengan tetap tinggal di rumah masing-masing, jangan keluar kota apalagi keluar negeri, dan perkuat aqidah kita. Bahwa tidak ada yang menimpa kita kecuali atas apa yang ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kita perbanyak doa pula agar kita semua diselamatkan dan dilindungi Allah. Dan semoga pandemi ini segera berlalu. Allah menjaga negeri kita dan seluruh negeri kaum muslimin. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

Sumber