Kehidupan Ilmiah di Andalusia – Cerita kisah cinta penggugah jiwa

Di antara kekhasan peradaban Islam di Andalusia adalah majelis ilmu yang tersebar dimana-mana. Kehidupan ilmiah itu tidak hanya hidup di lingkungan istana para khalifah dan amir. Bahkan kehidupan ilmiah, obrolan tentang ilmu itu masuk sampai ke toko-toko di pasar.

Sejarah umat Islam di Andalusia memang terkenal akan peradabannya yang tinggi. Peradaban yang mempengaruhi Eropa modern sekarang. Dan kita tahu peradaban Eropa diinspirasi oleh dunia timur. Oleh peradaban Baghdad, Damaskus, Kairo, dan dunia Islam lainnya. Demikian juga Andalusia kala itu.

Salah satu ciri khas yang paling menonjol dalam peradaban Andalusia adalah majelis-majelis ilmiahnya. Pembicaraan tentang ilmu tidak hanya terbatas pada tempat-tempat resmi seperti di istana khalifah. Tapi masyarakat awam juga duduk-duduk dan membahas tentang ilmu di majelis mereka.

Majelis Ilmiah di Istana Khalifah dan Umara

Al-Hakam bin an-Nashir

Merupakan kebiasan para khalifah di masa keemasan peradaban Islam adalah berkumpul dengan para ulama dan ahli. Mereka memuliakan dan menghormati ulama. Mereka berdiskusi tentang bacaan dan peradaban. Demikian juga dengan Khalifah al-Hakam bin an-Nashir al-Umawi. Ia mengoleksi banyak buku dari berbagai cabang ilmu. Bahkan banyak koleksi bukunya mengalahkan raja-raja Andalusia sebelumnya. Ia membeli buku dari penjuru dunia. Tidak peduli walaupu harus didapatkan dengan harga yang tinggi.

Al-Manshur bin Abi Amir

Beliau adalah al-Hajib al-Manshur Muhammad bin Abi amir. Seorang jenderal dan politisi Andalusia. Ia memiliki majelis mingguan yang dilangsungkan setiap hari Jumat. Majelisnya sangat besar. Dipenuhi oleh para tokoh ulama dan ilmuan. Majelis itu sangat terkenal di Kota Cordoba. Para penyair kondang yang terkenal sebagai kalangan cendekiawan juga silih berganti keluar masuk majelisnya. Mereka berdiskusi dan berdebat untuk bertukar pikiran.

Putranya, al-Hajib al-Muzaffar, melanjutkan kebiasaan ayahnya. Majelisnya dikenal dengan al-Bait ar-Rafi’ dan an-Nazhm al-Badi’. Hanya saja majelisnya tidak memiliki sastra yang tinggi semisal majelis ayahnya. Karena majelisnya menghimpun orang-orang non Arab juga. Semisal orang-orang Suku Berber (Afrika Utara) dan Frank (orang Eropa).

Majelis Ilmiah di Rumah Ulama dan Toko-toko

Tentang menjamurnya majelis ilmiah para ulama dan fuqoha di Andalusi ini disebutkan oleh Ibnu Fardhi dan Ibnu Bisykawal. Di antara majelis yang paling terkenal di masa itu adalah majelis Ahmad bin Ibrahim bin Abdurrahman al-Kula’i al-Mu’allimi (wafat: 391 H/1000 M). Sebuah majelis yang dilangsungkan di rumahnya.

Majelis Ishaq bin Ibrahim bin Isa al-Muradi yang tinggal di Kota Ecija, Spanyol. Majelisnya berlangsung di masjid jami’ Kota Ecija. Dihadiri oleh sejumlah besar penuntut ilmu.

Majelis al-Faqih Ahmad bin Said bin Kautsar al-Anshari (wafat: 403 H/1012 M). Majelis ilmunya berlangsung di rumahnya di Toledo. Majelisnya di rumahnya ini dihadiri oleh lebih dari 40 orang muridnya. Walaupun di musim dingin, murid-muridnya tetap bersemangat menghadiri majelisnya. Mereka memakai pakaian wol dan dibuatkan peghangat di rumah tersebut.

Sebagian ulama ada yang memiliki majelis di toko-toko milik mereka. Seperti Ibrahim bin Mubsyir Syarif al-Bakri (wafat: 395 H/1004 M). Tokonya terletak di dekat Masjid Jami’ Cordoba. Dibacakan mus-haf di dalamnya dan ia mengajar juga untuk para pemula.

Ulama lainnya adalah Ibrahim bin Muhammad bin Husein bin Syanzhir al-Umawi (wafat: 402 H/1011 M). Majelisnya dihadiri banyak sekali penuntut ilmu. Di dalamnya tidak dibicarakan urusan dunia. Ia sangat menjaga kekhusyuan dan kewibawaan majelisnya dari hal-hal yang rendah. Ibrahim bin Muhammad memiliki seorang sahabat yang bernama Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ubaidah al-Umawi. Atau yang lebih dikenal dengan ibnu Maimun (wafat: 400 H/1009 M). Ia berasal dari Toledo. Majelisnya diadakan di Masjid Jami’. Di dalamnya dibacakan kitab-kitab tentang zuhud, dll. Pesertanya adalah para pelajar dari penjuru negeri.

Kisah-kisah ini diambil dari buku al-Ahwal al-Ijtima’iyah wa al-Iqtishadiyah li A’yan al-Andalus fi ‘Ahdi al-Imarah wa al-Khilafah oleh Shabah Khabith Aziz Said al-Humaidawi. Diterbitkan oleh Dar wa Maktabah Adnan. Tahun 2014.



Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *