/Kisah Turtuk, Desa Muslim di Perbatasan India-Pakistan

Kisah Turtuk, Desa Muslim di Perbatasan India-Pakistan

ADA sebuah desa di perbatasan India Pakistan. Desa ini merupakan desa yang dihuni oleh penduduk muslim. Namun, konflik antar dua negara, yakni India-Pakistan membuat desa muslim ini terpisah dari negaranya. 

Konflik antara kedua negara tersebut berlangsung lama, hingga pada 1971 Desa Turtuk yang berada di perbatasan akhirnya direbut oleh India dari Pakistan. India pun tidak pernah mengembalikan desa ini karena khawatir akan keamanan perbatasan.

BACA JUGA: India-Pakistan Bersitegang Rebutan Kashmir, Kenapa Dunia harus Khawatir?

Penduduk yang sedang keluar mengunjungi teman atau bekerja di tempat lain pada suatu hari di tahun 1971 kala itu tidak pernah dapat kembali. Selama bertahun-tahun, India menyegel daerah tersebut dan mempertahankan kontrol yang ketat atas desa muslim ini.

Dikutip dari BBC, daerah perbatasan tersebut kini sudah lebih tenang. Pada 2010 Turtuk dibuka untuk pariwisata sehingga orang luar bisa datang melihat indahnya desa dan cara hidup warganya yang unik.

Turtuk sangat sulit untuk dicapai. Lokasinya berada di ujung Lembah Nubra Ladakh, nun jauh di India Utara, dikepung oleh Sungai Shyok dan puncak-puncak tinggi Pegunungan Karakoram. Hanya ada satu jalan masuk dan keluar lembah yang dikelilingi bukit batu itu: jalur bergelombang yang melintasi lintasan tinggi menuju Leh.

Namun yang lebih menarik daripada pemandangannya adalah sejarah Turtuk yang agak rumit, sebagai desa yang kehilangan negaranya.

Pada umumnya, warga lembah Ladakh adalah Ladakhi Tibet yang beragama Buddha. Namun Turtuk dihuni kelompok etnis Baltis, keturunan Tibet yang sebagian besar tinggal di wilayah Skardu, Pakistan.

Penduduk Turtuk adalah Muslim Noorbakshia, sekte Sufi Islam yang berbicara menggunakan bahasa Balti dan mengenakan shalwar kameez. Dibanding India, muslim Turtuk lebih mempunyai kesamaan dengan saudara mereka di Baltistan, di perbatasan Pakistan, 6 km di ujung jalan.

Faktanya, Turtuk memang bagian dari Pakistan hingga 1971. Saat itu tentara India menduduki desa Islam tersebut, ketika perang perbatasan terjadi di sepanjang Garis Kontrol, garis sengketa yang melintasi beberapa gunung tertinggi dan bentang alam paling keras di planet ini.

Namun sekarang, Penduduk Balti di Desa Turutk hidup tenang dengan memanfaatkam sebagian besar tembok batu Karakoram tinggi yang mengelilinginya sebagai tempat tinggal. Mereka membangun rumah batu di atas lorong-lorong batu bulat, dan membuka saluran irigasi batu untuk menyirami pertanian.

Letak geografis Turtuk lebih rendah dari tempat lain di dataran tinggi Ladakh, hanya 2.900 meter di atas permukaan laut. Pada ketinggian ini, musim panas bisa menjadi sangat panas.

Penduduk desa memanfaatkan lingkungan bebatuan mereka untuk membangun sistem penyimpanan pendingin batu alam, yang digunakan untuk menyimpan daging, mentega, dan barang tahan lama lainnya selama bulan-bulan. Dikenal sebagai ‘nangchung’ di Balti, yang berarti ‘rumah dingin’, bunker batu ini dirancang untuk memiliki celah yang memungkinkan aliran udara dingin lewat, menjaga barang tetap lebih dingin daripada suhu udara luar.

Desa ini juga terkenal dengan keasriannya. Jali adalah tanaman pokok di kawasan ini, karena itu adalah satu-satunya biji-bijian yang tumbuh di ketinggian. Tapi karena Turtuk relatif lebih rendah, warga Balti juga dapat menanam gandum. Penduduk juga menumbuhkan sebagian besar aprikot dan kenari India, yang membuat desa ini terkenal. Pekerjaan ini padat karya, dan sepanjang tahun pengunjung bisa melihat tambal sulam ladang yang ditanami atau dipanen. Turtum adalah oasis hijau yang kontras dengan dinding tandus dan cokelat di tebing Karakorum dan lembah sungai.

Desa Turutk ini sangat indah di musim gugur, ketika barisan pohon poplar berubah warna dan memberi kesan cerah yang kontras dari lanskap berbatu yang memenuhi pemandangan. Meskipun desa-desa di seluruh Lembah Nubra juga memanfaatkan batu itu, ciptaan penduduk asli penduduk Balti atau Turtuk tampak lebih kokoh dan artistik. Bahkan di wilayah gempa dan tanah longsor, dinding batu Balti berdiri dengan kokoh.

BACA JUGA: Dibebaskan, Pilot India: Tentara Pakistan Perlakukan Saya dengan Baik

Terlepas dari kenyataan bahwa India dan Pakistan masih berselisih soal Kashmir, kehidupan berjalan dengan damai di Turtuk. Semua penduduk desa diberi kartu identitas India dan dijadikan warga negara setelah pengambilalihan pada 1971. Baru-baru ini untuk upaya untuk memodernisasi Lembah Nubra, dengan jalan yang lebih baik, layanan kesehatan dan transportasi. Meningkatnya kedatangan turis baru-baru ini membuat perekonomian meningkat di desa ini.

Dari sisi kebudayaan, nuansa Islam pakistan lebih terasa dibanding India. Kebun aprikot, masjid Noorbakshia, rumah-rumah batu, dan saluran irigasi membuat desa tetap setia pada akar Balti. Belum lagi hidangan tradisional Balti seperti kisir (roti gandum) dengan daging yak atau disajikan dengan muskat, aprikot, dan pasta kenari; dan balay, sup dengan mie soba besar.

Turtuk adalah tempat di mana penduduk tidak hanya belajar hidup harmonis dengan lingkungan mereka yang keras, tetapi mereka juga berkembang. Penduduk desa tetap setia pada akar budaya mereka meskipun ‘kehilangan’ bekas negara mereka. []

SUMBER: BBC

Sumber