Kondisi Peradaban di Era Abbasiyah Awal (2/2) – Cerita kisah cinta penggugah jiwa

Kondisi Perekonomian dan Penduduk

Para khalifah Abbasiyah mengetahui pentingnya menajemen pada sektor perekonomian, pengembangan sumber daya, dan kas negara untuk memenuhi pos-pos kebutuhan negara. Khalifah Al-Manshur menyusun beberapa kebijakan untuk mengembangkan sumber daya. Di antaranya, ia membuat kebijakan baru yang menjadi acuan dalam mengelola kas negara saat terjadi pembeontakan melawan kekuasaannya. Ia juga memperhatikan tentang penerapan pajak di sebagian wilayah.

Di masa ar-Rasyid, kondisi perekonomian dan kas negara sangat sehat. Kualitas kehidupan masyarakat pun tinggi. Hal ini disebabkan surplusnya kas negara di Baghdad dan banyaknya sumber keuangan negara. Di antaranya dari zakat, kharaj, jizyah, logam mulia, perdagangan luar negeri yang menguntungkan, dll. Dengan sehatnya ekonomi, dunia militer dan pembangunan pun kecipratan berkahnya. Belanja militer negara pun semakin besar. Sehingga semakin kuat pula militer. Demikian juga pembangunan menjadi pesat dan kota-kota menjadi berkembang.

Kota Baghdad

Awalnya, di masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan khulafaur rasyidun ibu kota negara Islam adalah Kota Madinah. Kemudian di masa Bani Umayyah pindah ke Damaskud, Suriah. Karena basis pendukung Bani Umayyah ada di sana. Di masa Abbasiyah, ibu kota negara awalnya di daerah Hasyimiyah. Kemudian pindah ke Baghdad. Pemindahan ini terjadi pada masa pemerintahan Abu Ja’far al-Manshur. Di antara alasan pemindahan ibu kota ini adalah:

1. Pemberontakan Ruwandiyah pada tahun 141 H/758 M. Pemberontakan ini bahkan sampai mengancam jiwa Khalifah al-Manshur. Inilah yang menyebabkan al-Manshur berpikir serius untuk memindahkan ibu Kota Abbasiyah dari Hasyimyah menuju Baghdad. Apalagi Hasyimiyah bukanlah wilayah yang terlindungi oleh benteng yang kokoh.
2. Hasyimiyah adalah ibu kota sementara dari Daulah Abbasiyah. Lokasinya berdekatan dengan Kufah yang merupakan pusat Syiah. Tentu hal ini menjadi ancaman serius bagi orang-orang Abbasiyah.
3. Keinginan pribadi dari al-Manshur untuk membuat ibu kota baru sebagai legasinya.

Ada beberapa tahap seleksi dalam pemilihan ibu kota baru. Hingga akhirnya terpilihlah Baghdad. Di antara alasan yang membuat Baghdad terpilih sebagai ibu kota adalah:
1. Baghdad berlokasi dekat dengan Khurasan yang merupakan tempat munculnya gerakan Abbasiyah. Selain itu Baghdad juga dekat dengan wilayah Arab. Dan jauh dari pusat-pusat konflik dengan Romawi.
2. Baghdad terletak di antara dua sungai besar; Eufrat dan Tigris. Kedua sungai ini bisa menjadi benteng ibu kota.
3. Baghdad memiliki jalur perdagangan yang strategis. Letaknya di tengah Irak membuat kota ini memiliki jarak yang sama antara Bashrah dan Mosul. Dan menjadi pelintasan para pedagang Arab yang hendak menuju Syam. Kondisi ini menjadikan Baghdad sebagai pusat perekonomian, baik darat maupun perairan
4. Jalur menuju Baghdad adalah jalur yang landai dan terbuka. Memudahkan orang-orang Arab dan kaum muslimin untuk berangkat menuju kota tersebut.

Al-Manshur memulai membangun Kota Baghdad pada tahun 145 H/762 M. Kota ini dirancang dengan bentuk melingkar. Dikelilingi pagar benteng. Dan memiliki empat pintu kota. Pembangunannya menghabiskan dana sebesar 18 juta Dirham. Lalu nama Baghdad diganti dengan Darus Salam. Namun nama Baghdad sudah kadung populer sejak dulu, hingga nama Darus Salam sulit menggantikannya.

Kota Samarra

Kota Samarra adalah salah satu kota yang istimewa di masa Abbasiyah. Ada yang mengatakan Samarra adalah kependekan dari Surra man Ra-a yang artinya membuat senang orang yang melihatnya. Sebagai gambaran dari indahnya kota ini. Kota ini dibangun oleh Khalifah al-Mu’tashim Billah pada tahun 221 H/836 M. Kemudian ia jadikan kota ini sebagai ibu kota menggantikan Baghdad. Yang mendorong al-Mu’tashim menjadi Samarra sebagai ibu kota baru adalah friksi antara dirinya dengan tantara Turki di Baghdad. Perseteruan tersebut mengakibatnya banyak jatuh korban dari penduduk Baghdad. Terutama para wanita, anak-anak, dan orang tua. Inilah yang mendorongnya untuk memindahkan ibu kota 60 mil di Utara Baghdad.

Kehidupan Ilmiyah

Periode Abbasiyah awal adalah masa kebangkitan besar ilmu pengetahuan dengan berbagai macam cabangnya. Ini merupakan hasil dari perluasan wilayah Abbasiyah, melimpahnya kekayaannya, dan suksesnya perdagangannya, sehingga para khalifah bisa mengalihkan kebijakan mereka pada perkembangan ilmu pengetahuan.

Dilihat dari sumber didapatkannya, ilmu umat Islam terbagi menjadi dua:
1. Ilmu yang berkaitan dengan Alquran. Yaitu ilmu syariat. Ilmu ini meliputi ilmu tafsir, ilmu qira-at, ilmu hadits, fikih, nahwu, mantiq, ilmu bayan, dan sastra.
2. Ilmu yang didapatkan orang Arab dari masyarakat non Arab. Yaitu ilmu-ilmu pasti dan humaniora. Seperti: filsafat, teknik, astrologi, ilmu kedokteran, kimia, sejarah, dan geografi.

Di masa-masa awal perkembangan ilmu pengetahuan ini, masjid memiliki peranan penting dalam menyebarkan ilmu. Terdapat halaqah-halaqah keilmuan di masjid yang bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat. Khususnya ilmu syariat. Karena itu, masa Abbasiyah ini dinilai sebagai puncak perkembangan ilmu syariat dan ilmu dunia.

Perkembangan Ilmu Hadits

Di masa ini, para ahli hadits tidak hanya perhatian terhadap hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa salla, tapi mereka juga mulai meneliti atsar para sahabat. Di antara rijalul hadits yang terkenal di zaman ini adalah Hammad bin Salamah (w 165 H), Sufyan bin Uyainah di Mekah (w 198 H), Waki’ bin al-Jarah di Kufah (w 196 H), Abdullah bin al-Mubarak (w 181 H), Sufyan ats-Tsauri di Kufah (w 161 H), Abdurrahman al-Auza’i di Syam (w 157 H), Abdul Malik bin Juraih (w 150 H), Muammar bin Rasyid di Yaman (w 153 H), Saud bin Abu Urwabah di Bashrah (w 156 H), dan Malik bin Anas di Madinah.

Buku paling terkenal pada cabang ilmu ini adalah al-Muwatta yang ditulis oleh Imam Malik, imam darul hijrah, al-Madinah an-Nabawiyah. Ada beberapa kisah yang melatar-belakangi Imam Malik menamai bukunya dengan al-Muwatta. Di antaranya, diriwayatkan bahwa Khalifah Abu Ja’far al-Manshur datang menemui Imam Malik di musim haji. Ia berdiskusi banyak hal dengan beliau terkait ilmu agama. Kemudian ia berkata, “Hai Abu Abdullah, tidak ada lagi orang yang lebih ‘alim dari diriku dan dirimu. Adapun aku disibukkan dengan urusan kekhalifahan. Karena itu, kumpulkan dan susunlah ilmu ini. Wath-thi’hu (buatkan) untuk orang-orang tawthi-atan (pengantar). Yang di dalamnya menjauhkan dari kesulitan Abdullah bin Umar, ringkasan Abdullah bin Abbas, faidah Abdullah bin Mas’ud. Buatlah buku yang menghimpun masalah-masalah yang tidak terlalu berat. Yang telah disepakati oleh para imam dan para sahabat radhiallahu ‘anhum.” Imam Malik rahimahullah merasa tidak mampu melakukan itu. Lalu beliau menghimpun kitab yang menghimpun hadits-hadits dalam fikih. Dan buku tersebut dinamai al-Muwatta.

Perkembangan Ilmu Tafsir

Ilmu tafsir juga menjadi ilmu yang mapan di masa Daulah Abbasiyah. Sebelumnya, tafsir tidak tersusun rapi. Tafsir hanya terdiri dari catatan ayat-ayat pendek yang tidak tersusun antara satu ayat dan surat sebagaimana susunan Alquran. Kecuali tafsir Ibnu Abbas. Ahli tafsir di masa Abbasiyah awal ini adalah Muqatil bin Sulaiman al-Azdi (w 150 H) dan Ibnu Ishaq (w 151 H). namun sayang, tafsir keduanya tidak sampai kepada kita di zaman sekarang.

Perkembangan Ilmu Fikih

Cabang ilmu syariat lainnya yang berkembang pesat di zaman ini adalah ilmu fikih. Di masa itu dikenal ada dua kelompok besar fikih yang sering diistilahkan dengan madrasah. Ada dua madrasah yang terkenal di zaman itu. Pertama, madrasah ahlu ar-ra’yi di Irak dengan tokohnya Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit (w 150 H). Kemudian digantikan muridnya, Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim (w 182 H) dan Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani (w 189 H).

Yang kedua adalah madrasah ahlul hijaz dengan tokohnya Imam Malik bin Anas. Madrasah ini disebut juga dengan madrasah ahlul hadits. Kemudian muncul tokoh berikutnya, Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i (w 204 H). Beliau menggabungkan dua madrasah ini. Beliau mengkombinasikan dua metode ini untuk memahami sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ilmu Kalam

Selain ilmu syariat, di masa Abbasiyah awal ini juga berkembang pesat ilmu kalam. Mulailah agama dan akidah diperdebatkan oleh orang-orang mutakallim ini. Dan di antara kelompok yang paling populer di masa itu adalah Mu’tazilah. Kemudian Murji-ah, Rafidhah, dan Syiah. Ajaran Nasrani dan Yahudi pun turut mengalami perkembangan. Tokoh Mu’tazilah yang paling terkenal adalah Washil bin Atha (w 131 H), Amr bin Ubaid (w 145 H), Bisyr bin al-Mu’tamar (w 210 H), Tsumamah bin Asydad (w 213 H), dan Abu Hudzail al-Alaf (w 227 H).

Perkembangan Ilmu Bahasa Arab

Masa ini juga menjadi saksi perkembangan ilmu bahasa. Di antara ulama bahasa di zaman itu adalah Abu Amr bin Ala’ (w 154 H), Khalf al-Ahmar (w 180 H), al-Ashma’I (w 213 H), Abu Zaid al-Anshari penulis buku an-Nawadir (w 214 H), Abu Ubaidah penulis Naqa-idh Jarir wa al-Farazdaq (w 210 H), Muhammad bin Salam al-Jumahi dan Hammad ar-Rawiyah (w 155 H), al-Mufdhil adh-Dhabi dan Abu Amr asy-Syaibani (w 206 H), dan Abu Ubaid al-Qasim bin Salam (w 224 H).

Dalam ilmu Nahwu ada tokoh-tokoh semisal Isa bin Umar ats-Tsaqafi (w 149 H), al-Khalil bin Ahmad dialah yang disebut-sebut perumus sebenarnya dari ilmu nahwu (w 170 H), Sibaweih (w 180 H), Muadz bin Muslim al-Harra (w 187 H), al-Kisa-i (w 189 H), dan al-Farra (w 207 H).

Penulisan Sirah Nabi dan Sejarah Umat Islam

Kebanyakan ahli bahasa dan nahwu juga merupakan penulis sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. yang paling terkenal di antara mereka adalah Muhammad bin Ishaq (w 151 H), Ibnu Hisyam (w 213 H), Muhammad bin Umar al-Waqidi (w 207 H), dan Muhammad bin Saad penulis ath-Thabaqat (w 230 H).

Penulisan sejarah juga semarak di zaman ini. Yang paling terkenal adalah Muhammad bin al-Husein bin Zabalah dan Abu Mukhnif Luth bin Yahya al-Azdi (w 157 H), Saif bin Umar at-Tamimi (w 180 H), Hisyam bin Muhammad al-Kalbi (w 204 H), dan al-Madaini (w 225 H).

Para Penyair

Di masa ini juga banyak terdapat penyair-penyair hebat seperti Basyar bin Bard (w 168 H), Abu Nuwas al-Hasan bin Hani’ (w 195 H), Abu al-Itahiyah (w 211 H), Muslim bin al-Walid (w 208 H), dan Abu Tamam Hubaib bin Aus (w 231 H).

Sajak dan prosa (natsr) juga tak kalah berkembang di zaman ini. Hal ini dikarenakan pengaruh budaya Yunani, Persia, dan India yang memang terkenal dalam ilmu ini. Cabang ilmu sajak dan prosa yang terpenting di zaman ini adalah khotbah dan nasihat. Kemudian diskusi, surat resmi (perjanjian dan wasiat), korespondensi, dan sastra.

Gerakan Terjemah

Harun al-Rasyid termasuk khalifah yang paling bersemangat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan di masa Abbasiyah awal. Ia membangun perpustakaan besar yang ia namai dengan Baitul Hikmah. Di dalam Baitul Hikmah, ia himpun para penulis, para penerjemah, dan penyalin naskah. Yang paling terkenal di antara mereka adalah Sahl bin Harun, al-Husein bin Sahl, dan Fadhl bin Naubakhti. Mereka adalah pengalih bahasa Persia ke bahasa Arab. Kemudian ada Hunain bin Ishaq, Yuhana al-Bithriq, dan Yuhana bin Masaweh. Mereka merupakan penerjemah dari bahasa Yunani dan Suryani ke bahasa Arab.

Di masa al-Makmun gerakan terjemah kian menggeliat. Sejumlah ilmu dalam bahasa non Arab ditranslet ke bahasa Arab. Ia mengirim utusan ke Konstantinopel untuk mendatangkan karya tulis di bidang filsafat, Teknik, music, dan kedokteran.

Di masa itu tidak hanya khalifah yang memiliki semangat dan perhatian untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, semangat serupa juga dimiliki oleh orang-orang kaya. Mereka memberi motivasi bagi siapa yang bisa menerjemah akan diberi sejumlah uang. Di antara orang-orang kaya tersebut adalah Muhammad, Ahmad, dan al-Hasan, ketiganya merukan putra dari Musa bin Syakir. Mereka menginfakkan sejumlah uang yang banyak untuk menerjemahkan buku-buku matematika. Mereka sangat berjasa dalam perkembangan ilmu Teknik, music, dan astronomi.

Upaya para penguasa dan orang-orang kaya ini pun disambut oleh para rakyat yang gemar belajar. Mereka bersemangat mempelajari buku-buku terjemah tersebut. Bahkan mereka yang tidak bersumbangsih dalam harta ini, berupaya memberi sumbangsih dari sisi pemikiran. Mereka memberi penjelasan dan catatan-catatan untuk buku-buku tersebut agar semakin mudah dipelajari. Mereka mengoreksi bagian-bagian yang keliru. Karena tidak ada buku yang bebas dari kesalahan. Di antara para cendekiawan ini adalah Ya’qub bin Ishaq al-Kindi. Ia menerjemah dan memberi penjelasan untuk buku-buku filsafat, kedokteran, ilmu hitung, mantiq, Teknik, dan astronomi.

Industri Kertas

Dengan semaraknya perkembangan ilmu pengetahuan dan gerakan terjemah ini memunculkan industri baru di dunia Islam, yaitu kertas. Karena kertas merupakan salah satu bahan pokok untuk menulis. Al-Fadhl bin Yahya al-Barmaki membuat pabrik kertas di Baghdad di masa pemerintah al-Rasyid. Semakin berkembanglah keilmuan di dunia Islam. setelah sebelumnya mereka menulis dengan mengandalkan kulit dan kertas yang dibuat dari daun papirus.

Sumber: Mausu’ah Safir li at-Tarikh al-Islami, jilid ke-3: al-Ashr al-Abbasi fi al-Iraq wa al-Masyriq yang ditulis oleh Hasan Ali Hasan dan Abdurrahman Salim.



Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *