LEBIH BAIK “PENGOBATAN ALA FULAN” ATAU “DIET ALA FULAN”

[Rubrik: Tulisan
Ringan dan Sekedar Sharing]

Terkait dengan
metode pengobatan dan metode diet yang menisbatkan kepada Islam, Sunnah dan
Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam. Hal ini sangat baik sebagai syiar
agama Islam, akan tetapi Lebih baik dinamakan namanya “pengobatan ala
fulan”, “”diet ala fulan”, apabila tidak ada dalil, tidak
ada  penjelasan ulama atau tidak praktek
ulama sebelumnya

Apabila
dinisbatkan Islam dan sunnah, kemudian ada kesalahan atau pengobatan tidak
berhasil, maka Islam dan sunnah kena Imbasnya

Hendaknya
dinisbatkan pada penemunya “ala Fulan”, apabila pengobatan itu
berhasil (karena valid ilmunya dan bukan HANYA berdasarkan testimoni belaka),
kaum muslimin akan bangga, ada seorang penemu muslim yang berhasil menemukan
metode pengobatan dan metode diet yang baik bagi manusia dalam urusan dunia
yang bermanfaat. Kita doakan, Semoga banyak muncul ahli kesehatan dari kalangan
kaum muslimin.

Kaum muslimin
yang semoga disayangi Allah, apabila tidak pernah ada ajaran dari Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak boleh disandarkan kepada beliau, baik
itu hadits maupun ajaran atau metode karena beliau bersabda,

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ
مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa berdusta
atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di
neraka” 

Aga
paham apa itu pengobatan dan kesehatan yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami
nukilkan penjelasan ulama definisi thibbun nabawi:

Definisi
thibbun nabawi,

الطب النبوي هو كل ما ذكر في القرآن والأحاديث
النبوية الصحيحة فيما يتعلق بالطب سواء كان وقاية أم علاجا

Thibbun nabawi
adalah segala sesuatu yang disebutkan oleh Al-Quran dan As-Sunnah yang Shahih
yang berkaitan dengan kedokteran baik berupa pencegahan (penyakit) atau
pengobatan.

.

Berdarsarkan
definisi ini, maka thibbun nabawi itu harus ada nashnya dalam Al-Quran dan
sunnah. Kemudian yang penting juga, nash tersebut dengan membicarakan mengenai
pengobatan (yata’allaqu bit-thibb). Apabila disebutkan dalam nash, tetapi
konteksnya bukan thibbun nabawi, maka bukanlah thibbun nabawi.

Misalnya:

Dalam
Al-Quran disebut tentang pisang

وَطَلْحٍ مَّنضُودٍ

“Dan pohon
pisang yang bersusun-susun (buahnya)”

apakah kita katakan “makan pisang adalah thibbun nabawi?”?

Kita perlu
melihat penjelasan ulama, apakah konteks ayat ini terkait dengan pengobatan
atau tidak?

Penjelasn ulama
bahwa ayat ini bercerita tentang nikmat surga, di surga ada buah pisang yang
bersusun-susun, bahkan ada tafsir lainnya yang menjelaskna bahwa maksudnya
adalah “berbagai macam buah yang tersusun-susun indah untuk penghuni surga,
jadi bukan hanya pisang saja”

.

Apabila ada
penjelasan ulama konteks ayat tentang pisang ini berbicara tentang pengobatan,
barulah kita sebut makan pisang adalah thibbun nabawi

.

Tetapi bukan
berarti kita tidak boleh memnjelaskan manfaat pisang, kita boleh menjelaskan
makan buah pisang itu bermanfaat secara kesehatan sesuai dengan ilmu
pengetahuan yang valid.

.

Semoga semakin banyak ahli thibbun nabawi di negeri ini
dan semoga banyak penemu muslim di bidang pengobatan.



Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *