Manhajus Salikin: Sujud Sahwi Sebelum ataukah Sesudah Salam?

Mana yang dipilih, sujud sahwi sebelum ataukah sesudah salam?

 

Sebelumnya tentang sujud sahwi ada di sini:

Sebab Sujud Sahwi

 

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitabnya Manhajus Salikin,

وَقَدْ ثَبَتَ ” أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَنِ التَّشَهُّدِ الأَوَّلِ فَسَجَدَ ، وَسَلَّمَ مِنْ رَكْعَتَيْنِ مِنَ الظُّهْرِ أَوِ العَصْرِ ، ثُمّ ذَكَّرُوْهُ فَتَمَّمَ وَسَجَدَ لِلسَّهْوِ ” . وَ « صَلَّى الظُّهْرَ خَمْسًا فَقِيْلَ لَهُ : أَزِيْدَتِ الصَّلاَةُ ؟ فَقَالَ : وَماَ ذَاكَ ؟ قَالُوْا : صَلَّيْتَ خَمْسًا ، فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ بَعْدَ مَا سَلَّمَ » . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ .

وَقَالَ : « إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ ، فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى : أَثَلاَثًا أَمْ أَرْبَعًا ؟ فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ ، وَلْيَبِنْ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ، ثُمّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ ، فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ صَلاَتَهُ ، وَإِنْ كَانَ صَلَّى تمَاَمًا كَانَتَا تَرْغِيْمًا لِلشَّيْطَانِ » . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ . وَلَهُ أَنْ يَسْجُدَ قَبْلَ السَّلاَمِ أَوْ بَعْدَهُ .

Ada dalil yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri dari tasyahud awal (tidak tasyahud awal), lalu beliau sujud sahwi. Juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat Zhuhur atau Ashar dan selesai pada rakaat kedua. Kemudian para sahabat mengingatkan beliau, lalu beliau menyempurnakannya dan melakukan sujud sahwi.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah shalat Zhuhur lima rakaat, lalu ditanya, “Apakah shalat itu ditambah?” Maka beliau jawab, “Memangnya apa yang terjadi?” Para sahabat menjawab, “Engkau telah shalat lima rakaat.” Lalu beliau sujud dengan dua kali sujud setelah salam. (Muttafaqun ‘alaih)

Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya, dan tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, tiga ataukah empat rakaat maka buanglah keraguan, dan ambilah yang yakin. Kemudian sujudlah dua kali sebelum salam. Jika ternyata dia shalat lima rakaat, maka sujudnya telah menggenapkan shalatnya. Lalu jika ternyata shalatnya memang empat rakaat, maka sujudnya itu adalah sebagai penghinaan bagi setan.” Hadits riwayat Ahmad dan Muslim.

Bagi yang shalat dan lupa, bisa lakukan sujud sahwi sebelum ataukah sesudah salam.

 

Sujud sahwi sebelum ataukah sesudah salam?

Adapun penjelasan mengenai letak sujud sahwi  sebelum ataukah sesudah salam dapat dilihat pada rincian berikut.

  1. Jika terdapat kekurangan pada shalat –seperti kekurangan tasyahud awwal-, ini berarti kekurangan tadi butuh ditambal, maka menutupinya tentu saja dengan sujud sahwi sebelum salam untuk menyempurnakan shalat. Karena jika seseorang sudah mengucapkan salam, berarti ia sudah selesai dari shalat.
  2. Jika terdapat kelebihan dalam shalat –seperti terdapat penambahan satu raka’aat-, maka hendaklah sujud sahwi dilakukan sesudah salam. Karena sujud sahwi ketika itu untuk menghinakan setan.
  3. Jika seseorang terlanjur salam, namun ternyata masih memiliki kekurangan rakaat, maka hendaklah ia menyempurnakan kekurangan rakaat tadi. Pada saat ini, sujud sahwinya adalah sesudah salam dengan tujuan untuk menghinakan setan.
  4. Jika terdapat keragu-raguan dalam shalat, lalu ia mengingatnya dan bisa memilih yang yakin, maka hendaklah ia sujud sahwi sesudah salam untuk menghinakan setan.
  5. Jika terdapat keragu-raguan dalam shalat, lalu tidak nampak baginya keadaan yang yakin. Semisal ia ragu apakah shalatnya empat atau lima rakaat. Jika ternyata shalatnya benar lima rakaat, maka tambahan sujud tadi untuk menggenapkan shalatnya tersebut. Jadi seakan-akan ia shalat enam rakaat, bukan lima rakaat. Pada saat ini sujud sahwinya adalah sebelum salam karena shalatnya ketika itu seakan-akan perlu ditambal disebabkan masih ada yang kurang yaitu yang belum ia yakini.

 

Referensi:

  1. Ghayah Al-Muqtashidin Syarh Manhaj As-Salikin. Cetakan pertama, Tahun 1434 H. Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin ‘Abdurrahman Az-Zauman. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
  2. Syarh Manhaj AsSalikin. Cetakan kedua, Tahun 1435 H. Dr. Sulaiman bin ‘Abdillah Al-Qushair. Penerbit Maktabah Dar Al-Minhaj.

 

 


 

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

 

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *