/Memilih Jalan Santri – Hidayatullah.com

Memilih Jalan Santri – Hidayatullah.com

SETELAH pengumuman kelulusan Ujian Nasional (UN), seluruh siswa-siswi kelas sembilan SMP 05 Telaga Satu, bahagia bukan kepalang.

Betapa tidak. Terbayar sudah keletihan dan kepenatan selama empat hari mengikuti ujian UN, ketika ada kabar bahagia yang tercantum di papan  informasi; bahwa semua siswa-siswi lulus total.

“Usaha tidak pernah mengkhianati hasil.” Kira-kira itulah peribahasa yang sesuai menggambarkan keadaan kami saat itu. Semua saling berucap selamat satu sama lain, seraya mendoakan kesuksesan di masa mendatang.

Selang beberapa hari pasca pengumuman kelulusan. Semua teman–temanku sibuk mengurusi registrasi pendaftaran pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi, yaitu Sekolah Menengah Atas (SMA). Di antara kami ada yang melanjutkan ke SMK, ada juga yang masuk ke SMA favorit.

Aku sendiri sejak duduk di bangku SMP kelas 09, telah memiliki mimpi melanjutkan ke SMAN 01 Tanjung Agung. Sebuah sekolah favorit di Kabupaten Benteng, Bengkulu. Fasilitas lengkap, ekskulnya padat. Satu lagi yang membuat diri terasa keren; berteman dengan orang-orang pintar.

Itulah obsesiku. Aku telah mengikat janji dengan beberapa kawan untuk melabuhkan pilihan sekolah di sana. Ibaratnya, sudah tidak mungkin lagi ada yang bisa memalingkan hati untuk pindah ke sekolah lain.

Namun,seperti kata pepatah; kering setahun dibasahi hujan sehari. Begitu pula dengan tekad itu. Di saat segala sesuatunya telah disiapkan untuk mendaftarkan diri di sekolah impian itu, secara tetiba minat itu teredam. Dan tertuju pada lembaga pendidikan yang membuat banyak orang terkejut, terutama sahabat-sahabatku, yang telah sepakat untuk melanjutkan sekolah di SMA favorit.

Itu bermula ketika suatu sore. Seperti biasa, aku bermain sepakbola. Tapi kali itu, aku terkesima dengan seorang pemuda, Ahmad namanya, tetangga rumah yang sekolah di pesantren kota. Saat itu ia tengah liburan sekolah. Yang membuat aku terkesan adalah, ketika bermain sepakbola Ahmad tampak paling mencolok dari yang lain, termasuk aku sendiri.

Pasalnya, santri itu memakai celana panjang pada saat bermain. Tampak sopan dan berwibawa. Bertolak belakang dengan yang digunakan pemuda lain, yang lebih suka memakai celana pendek boxer dan lepas baju. Dan itu adalah kostum favoritku setiap bermain si kulit bundar.

Yang lebih mengesankan lagi, beberapa menit menjelang shalat maghrib, Ahmad pasti terlebih dahulu mengakhiri permainannya. Kemudian sudah nampak di masjid ketika adzan berkumandang. Fenomena inilah yang membuatku lebih terdecak kagum dengan Ahmad. Sedang aku dan kawan-kawan, acap masih bermain sepakbola, meski adzan telah berkumandang.

Ketika pulang dari lapangan kemudian melintasi masjid, jujur hati terasa teduh melihat pemandangan; Ahmad tengah asyik membaca al-Qur’an, di teras masjid, dengan bersender di sebuah tiang. Ingin rasanya mengikuti jejaknya. Tapi…..

Aral Melintang

Entah mengapa, sejak perjumpaan sore itu, kepribadian Ahmad terus terbayang-bayang. Terkadang terbesit pikiran; “Bisa nggak, yah saya seperti Ahmad?” Sepertinya membahagiakan. Hmmm…..

Pergulatan batin terus terjadi dalam diri. Antara melanjutkan mimpi sekolah di SMA favorit, dengan berpindah haluan, mengikuti jejak Ahmad. Pada akhirnya aku mengambil keputusan bulat;

“Bismillah, Aku harus mondok!” tekatku.

Tujuanku satu; ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi, selayaknya Ahmad. Aku mulai menyadari, betapa selama ini banyak menyia-nyiakan waktu, serta mengabaikan tuntunan agama. Entah mengapa. Muncul aja keinginan untuk memperbaiki semuanya.

“Mungkin ini adalah hidayah,” batinku berbisik.

Akhirnya, tanpa sepengetahuan orang lain, Aku bertandang ke rumah Ahmad, dan bertanya banyak hal mengenai pesantren tempat ia menuntut ilmu. Ahmad pun menjelaskan dengan detail. Termasuk kegiatan-kegiatannya. Mulai dari shalat tahajud, shalat wajib jamaah, hingga teknik menghafal al-Qur’an.

Setelah pulang dari rumahnya Ahmad, sore harinya aku langsung berbicara kepada ayah dan ibu, tentang kemana aku akan melanjutkan sekolahku.

“Yah, aku ingin sekolah di pesantren,” ungkapku kepada ayah. Kebetulan, saat itu seluruh anggota keluarga  sedang berkumpul.

“Pesantren?!” ujar ayah dengan nada dan ekspresi penuh kaget.

“Iya!” jawabku.

“Kamu serius!” tanya ayah lagi, seakan tidak percaya.

“Serius, Yah!” jawabku.

“Emang kamu mau mondok di pesantren mana?” ayah lanjut bertanya.

“Saya mau mondok bersama Ahmad, Yah.” Sambil mendekati tempat duduk ayah.

Mendengarkan kenginanku untuk masuk pesantren, ayah sangat bersyukur. Berulah terungkap, bahwa itulah cita-citanya sejak dari dulu. Ia ingin sekali anak-anaknya masuk pesantren. Pun demikian dengan ibu. Beliau sangat mendukung langkahku.

Meski demikian, bukan berarti jalan yang kutempuh mulus. Ada saja aral melintang yang harus kuhadapi. Di antaranya dari kakak-kakaku sendiri. Mereka meragukan pilihanku, karena berpatokan pada kebiasaan burukku selama di rumah.

“Walah, mondok! Untuk apa? Nanti belum lama, kabur karena nggak kerasan!” ujar mereka. Pada akhirnya mereka setuju.

Respons negatif juga datang dari teman-teman. mendengar pilihanku, mereka menertawakan. Bahkan tidak jarang secara terang-terangan mengejek. “Cieeee, mau jadi pak ustadz ni, ye! Ha…aha….!” ejek mereka sambil berbahak. Namun aku santai dan tetap pada keputusanku. Singkat cerita, akhirnya aku masuk pesantren.

Pencerahan Nilai Hidup

Satu minggu sudah aku  jalani di pondok. Akan tetapi terasa satu tahun bagiku. Maklum, aku benar-benar belum bisa menyesuaikan kehidupan di sana. Harus bangun pagi-pagi melaksanakan shalat tahajud, membaca al-Qur’an, shalat lima waktu berjamaah, belum lagi puasa sunnah Senin Kamis.

Semua itu teratur dan tersistem, dari bangun tidur sampai tidur kembali. Belum lagi masalah lain seperti krisis uang kerena kiriman macet dari orangtua. Sedangkan tuntutan pribadi selalu mendesak.

Semua itu belum pernah aku alami sebelumnya. Terasa berat untuk melanjutkan perjuangan ini. Terkadang aku melamun, memikirkan antara lanjut atau berhenti. Bahkan sampai-sampai aku beranggapan bahwa aku telah salah dalam memilih tujuan pendidikan.

Seringkali bisikan negatif itu datang, sampai pada titik aku bertekat ingin kabur dari pesantren. Namun entah kenapa, ada saja yang menghalangiku. Misal, teringat pesan ayah dan ibu, “Jadilah anak yang baik di sana!” Inilah yang kemudian menggugah diri untuk bertahan. Tekadku tidak ingin mengecewakan mereka.

Hingga akhirnya aku putuskan untuk mencoba satu minggu, dua minggu, tiga minggu  sampai tidak terasa mampu menyelesaikan studi di sana. Dalam kurun waktu itu Alhamdulillah, banyak hal yang kudapat, khususnya mengenai prinsip hidup dan kepribadian.

Umpama yang dulunya hanya memikirkan keduniawiaan, sekarang sudah mengerti, bahwa tujuan hidup utamanya adalah mencari keselamatan di akhirat. Demikian pula masalah ibadah. Yang awalnya malas-malas, sekarang sudah mulai tumbuh kesadaran dalam melaksanakan perintah agama terutama shalat.

Alhamdulillah! Saya sangat bersyukur karena Allah telah memasukkanku dalam lingkungan yang sangat baik dalam pertumbuhanku. Yaitu di pesantren.* Sesti Handika/Anggota PENA Gresik

Sumber