Mengapa Penduduk Mekah Menolak Islam? (1/2) – Cerita kisah cinta penggugah jiwa

Penduduk Mekah adalah orang yang paling mengenal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dibanding selainnya. Bagaimana tidak, mereka mengenal Muhammad bin Abdullah dengan baik. Karena Nabi dilahirkan dan dibesarkan di Mekah. Mereka kenal nasab beliau. Akhlak beliau. Keseharian dan kejujuran beliau. Tapi mengapa mereka menolak beriman kepadanya? Mengapa mereka tidak menolong dakwahnya bahkan memeranginya? Apakah mereka tidak mampu memahami kebenaran yang keluar dari lisan Nabi Muhammad? Dan masih banyak lagi pertanyaan tentang keadaan mereka.

Di awal kedatangan Islam, umat Islam belum menyatakan keislamannya secara terang-terangan. Kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berani melakukan hal itu karena dibela oleh pamannya, Abu Thalib, dengan pembelaan tanpa syarat. Rasulullah terima pembelaannya walaupun sang paman seorang yang kafir. Namun, kebaikan sang paman tak membuat beliau canggung untuk mendakwahkan tauhid. Tidak membuat beliau menjadi kompromistis dalam hal-hal yang prinsip.

Dari sini kita pahami, setidaknya ada tiga model manusia di Mekah kala itu; orang yang beriman yaitu nabi dan para sahabatnya. Orang yang ingkar dan memusuhi iman yaitu kafir Quraisy. Dan orang yang berada di tengah. Tidak beriman dan tidak pula memusuhi dakwah. Dia diterima di kalangan kafir Quraisy. Dan menjadi penolong orang-orang beriman. Yaitu Abu Thalib.

Pengingkaran keras kafir Quraisy terhadap dakwah nabi bukan dikarenakan mereka tidak mengerti dengan dakwah yang beliau bawa. Mereka tidak hanya tahu kebenaran Islam bahkan mereka yakin bahwa Islam itu adalah agama yang benar. Mereka paham betul kemukjizatan Alquran. Keindahan bahasanya. Namun mereka sombong dan menentang kebenaran tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ المُفْسِدِينَ

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.” [Quran An-Naml: 14]

Sikap Ubay bin Khalaf

Alquran adalah kalam yang penuh mukjizat. Orang-orang Arab di masa itu adalah ahli bahasa. Mereka fasih dan mengerti balaghah. Tidak hanya para tokohnya, awamnya pun demikian keadaannya. Di antara tokoh mereka adalah Ubay bin Khalaf. Ubay sadar betul Alquran itu bukanlah buatan manusia. Alquran itu kalam Allah. Namun dia dan orang-orang Quraisy pada umumnya tidak merasa nyaman untuk jujur mengakuinya.

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersama Ubay bin Khalaf. Ibnu Ishaq rahimahullah mengatakan, “Ubay pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mekah. Ia berkata, “Hai Muhammad, aku memiliki seekor kuda yang namanya al-Audz yang setiap hari kusiapkan. Dan bila tiba saatnya nanti, aku akan membunuhmu dengan menungganginya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Akulah yang insyaallah akan membunuhmu.” (Ibnu Ishaq: as-Siyar wa al-Maghazi, Hal: 331).

Ubay bin Khalaf tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang selalu menepati ucapannya. Sehingga ucapan beliau ini senantiasa terngiang-ngiang di benaknya. Tahun demi tahun berlalu, Ubay tak bisa melupakan ucapan itu. Bahkan setelah sepuluh tahun berlalu, tepatnya di Perang Uhud, ucapan ini masih terbayang di pikiran Ubay bin Khalaf.

Saat Ibnu Ishaq rahimahullah mengisahkan Perang Uhud, ia mengatakan, “Tatkala Rasulullah melewati celah-celah di Uhud, Ubay melihat Rasulullah dan berkata, ‘Hai Muhammad, aku tidak akan selamat kalau kau selamat’. Para sahabat mengatakan, ‘Rasulullah, apakah engkau akan menyerahkan dia kepada salah seorang di antara kami’? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Biarkan dia’. Tatkala dia mendekat, Rasulullah mengambil tombak dari al-Harits bin ash-Shimmah.”

Ibnu Ishaq berkata, “Tombak Rasulullah mengenai leher Ubay. Ia pun menunggang kudanya dengan lunglai. Saat ia berjumpa dengan orang-orang Quraisy, terlihat luka di lehernya yang tidak besar. Darah mengering di lehernya. Ia berkata, ‘Demi Allah, Muhammad telah membunuhku’. Teman-temannya menanggapi, ‘Demi Allah, engkau telah hilang kesadaran! Engkau baik-baik saja’. Ubaya menanggapi, ‘Sungguh dia berkata padaku sewaktu di Mekah, ‘Aku akan membunuhmu’. Demi Allah, kalau saja dia meludahiku, tentu dengan itu ia mampu untuk membunuhku’. Dan musuh Allah ini pun tewas di sebuah tempat yang disebut Saraf. Saat rombongan pasukan Uhud Quraisy ini pulang menuju Mekah.” (Ibnu Ishaq: as-Siyar wa al-Maghazi, Hal: 331).

Dari kisah ini, kita mengetahui bahwa sebenarnya orang-orang Mekah sangat yakin akan kebenaran ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Nabi Muhammad mengatakan pada Ubay bahwa beliau akan membunuhnya, Ubay pun sangat yakin itu akan terjadi. Walaupun seandainya Rasulullah meludah -sesuatu yang bukan merupakan senjata untuk membunuh-, itu pun mampu membunuhnya.

Kebenaran itu begitu jelas. Hanya saja mereka menafikan akal mereka. Tidak mau menerima, malah memerangi beliau.

Abu Jahl dan Fanatik Kesukuan

Di antara faktor yang membuat orang-orang kafir Quraisy menolak Islam adalah mengekor budaya nenek moyang. Contohnya Abu Thalib. Ada pula rasa takut seperti Abu Lahab. Dan alasan-alasan lainnya. Tapi faktor yang menjadi pemicu utama adalah fanatik kesukuan. Dalam hal ini, contoh paling nyata adalah Abu Jahl.

Abu Jahl adalah seorang tokoh Mekah yang berasal dari Bani Makhzum. Satu kabilah terhormat yang selalu bersaing dengan kabilah Bani Hasyim, kabilahnya Nabi.

Az-Zuhri rahimahullah mengatakan, “Aku diceritakan tentang Abu Jahl, Abu Sufyan, dan al-Akhnas bin Syuraiq yang keluar di malam hari untuk mendengar bacaan shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya. Masing-masing mereka mengambil posisi untuk mendengar. Dan masing-masing mereka tidak tahu posisi temannya itu. Mereka pun melalui malam dengan mendengar bacaan Alquran Nabi. Sampai tiba waktu fajar barulah mereka berpisah. Lalu mereka bertemu di perjalanan. Mereka saling mencela. Masing-masing di antara mereka berkata kepada yang lain, ‘Jangan kalian ulangi lagi. Seandainya orang-orang bodoh di tengah kalian melihat apa yang kalian lakukan, pastilah terjadi sesuatu pada diri mereka’. Kemudian mereka pulang.

Ternyata di malam berikutnya ketiga orang ini mengulangi apa yang mereka lakukan di malam sebelumnya. Tanpa mengetahui kondisi sesama mereka. Mereka bergadang mendengar bacaan Alquran Rasulullah sampai terbit fajar. Setelah itu baru mereka pulang. Di jalan, mereka kembali bertemu. Dan masing-masing mengatakan seperti apa yang mereka katakan sebelumnya. Kemudian mereka pulang.

Di malam ketiga, mereka duduk kembali di posisi seperti malam-malam yang lalu tanpa saling mengetahui. Mereka bergadang mendengarkan bacaan Alquran Nabi hingga terbit fajar. Lalu mereka pulang. Dan kembali bertemu di jalan. Mereka tidak merasa nyaman hingga mereka berjanji untuk tidak mengulangi lagi. Mereka pun berjanji. Lalu berpisah.

Saat pagi tiba, Akhnas bin Syuraiq mengambil tongkatnya. Kemudian keluar menemui Abu Sufyan di rumahnya. Ia berkata, ‘Kabarkan padaku, hai Abu Hanzhalah, apa pendapatmu tentang yang kau dengar dari Muhammad’. Abu Sufyan berkatan, ‘Hai Abu Tsa’labah, aku mendengar sesuatu yang kumengerti dan mengerti juga apa maksudnya’. Al-Akhnas berkata, ‘Aku bersumpah, aku pun demikian’. Kemudian al-Akhnats keluar.

Beberapa saat kemudian datang Abu Jahl memasuki rumah Abu Sufyan. Abu Sufyan berkata, ‘Hai Abul Hakam, apa pendapatmu tentang yang kau dengar dari Muhammad’? Abu Jahl menjawab, ‘Apa yang kudengar?! Kami (Bani Makhzum) dan Bani Abdu Manaf (kabilah besarnya Nabi) saling berlomba dalam kemuliaan. Mereka mampu memberi makan. Kami juga mampu melakukannya. Mereka menanggung musibah, kami juga melakukan hal itu. Mereka memberi, kami juga memberi. Sampai mereka menunggangi kuda untuk menghadapi musuh, kami pun demikian. Kami bagaikan kuda yang berpacu (dalam kemuliaan). Sampai akhirnya mereka (Bani Abdu Manaf) mengatakan, ‘Di kalangan kami ada seorang Nabi. Wahyu dari langit datang kepadanya’. Bagaimana bisa kami menyaingi ini? Demi Allah kami tidak akan beriman kepadanya selamanya. Kami juga tidak akan membenarkannya’. Al-Akhnas pun membelanya.” (Ibnu Ishaq: as-Siyar wa al-Maghazi, Hal: 189-190).

Riwayat ini menjelaskan tentang keadaan tokoh-tokoh kafir Mekah. Yang menghalangi mereka dari Islam bukan karena mereka tidak memahami ucapan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan juga karena kurangnya bukti. Atau tidak kuatnya argumentasi. Atau lemahnya mukjizat. Sebaliknya mereka begitu takjub dengan Alquran. Sampai-sampai orang yang paling membenci dakwah di tengah mereka pun tidak kuasa menahan diri untuk tidak mendengarkannya. Bahkan mereka menikmati dan merasa ketagihan. Mereka merasakan kelezatan yang hilang dari mereka menjadi lengkap tatkala mendengar Alquran. Mereka tak kuasa menolak menikmatinya. Buktinya, tiga malam berturut-turut mereka rela bergadang di sisi rumah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya untuk mendengarkannya. Jadi, yang menghalangi mereka bukanlah karena tak masuk akal atau cacat Bahasa Alquran. Akan tetapi fanatik kesukuanlah yang membuat hati mereka tertutupi. Dan hal ini sangat jelas dari lisannya Abu Jahl.

Banyak kejadian yang menunjukkan bahwa sebenarnya Abu Jahl itu sangat yakin dengan kebenaran risalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya riwayat dari Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu. Ia berkata, “Abu Jahl berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kami tidaklah mendustakanmu. Yang kami tolak adalah apa yang datang padamu itu (kenabian). lalu Allah menurukan firman-Nya,

فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ

“Mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” [Quran Al-An’am: 33].

Diriwayatkan juga dari Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Abu Jahl berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Hai Muhammad, kami tahu bahwa engkau seorang yang menyambung kekerabatan, seorang yang jujur, tidak berbohong, tapi kami mendustakan apa yang datang padamu itu’. kemudian Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya,

فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ

“Mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” [Quran Al-An’am: 33]. (HR. al-Hakim (3230)).

Adapun al-Akhnas bin Syuraiq, ia bukanlah seorang Quraisy. Ia berasal dari Bani Tsaqif. Kabilah yang paling terakhir memeluk Islam karena kuatnya fanatik kesukuan. Kabilah ini senantiasa mendukung Abu Jahl dan selalu berjalan dengannya. Demikianlah keadaan Abu Jahl. Ia tidak menutup-nutupi permusuhan yang hakikatnya kebodohan ini kepada setiap orang luar yang datang ke Mekah. Fokusnya adalah bagaimana agar Bani Hasyim tidak lebih menonjol dari kabilahnya. Permusuhan dan kefanatikannya ini pernah ia tunjukkan kepada orang Bani Tsaqif lainnya yaitu al-Mughirah bin Syu’bah ats-Tsaqafi sebelum al-Mughirah memeluk Islam.

Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam, al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu bercerita, “Sesungguhnya hari pertama aku mengetahui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah saat aku berjalan bersama Abu Jahl di Mekah. Kami bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata, ‘Hai Abul Hakam, marilah menuju Allah, Rasul-Nya, dan Kitab-Nya. Aku menyerumu kepada Allah’. Abu Jahl menjawab, ‘Hai Muhammad, tidakkah kau berhenti mencela sesembahan kami. Apakah yang kau inginkan hanyalah kalau kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan? Kami bersaksi kalau kau telah menyampaikan’. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berpaling darinya. Lalu beliau melirikku. Abu Jahl berkata, ‘Demi Allah, sungguh aku tahu semua yang dia katakan adalah kebenaran. Namun anak-anak Qushay akan mengatakan, ‘Kami mengatur hijabah (bertanggung jawab mengurusi Ka’bah)’. Kami jawab, ‘Iya’. Mereka juga mengatakan, ‘Kami memiliki al-qira’. Kami jawab, ‘Iya’. Kemudian mereka juga mengatakan, ‘Kami memiliki an-nadwah (seperti parlemen dalam bentuk sederhana). Kami jawab, ‘Iya’. Kemudian mereka berkata lagi, ‘Kami juga punya siqayah (bertanggung jawab memberi air minum untuk jamaah haji). Kami jawab, ‘Iya’. Mereka memberi makan. Kami juga memberi makan. Sampai dalam menyiapkan tunggangan untuk berperang. Kemudian mereka berkata lagi, ‘Di tengah kami ada seorang yang menjadi Nabi’. Demi Allah, aku tidak akan mengikutinya.” (Riwayat al-Baihaqi: Dala-il an-Nubuwwah, 2/207).

Ketika Bani Hasyim ada seorang Nabi, maka siapa yang bisa menyaingi keutamaan tersebut dari kalangan Bani Makhzum. Sehingga jalan satu-satunya agar supaya tetap bersaing adalah tidak mengakuinya dan mengingkari risalahnya.

Inilah ucapan Abu Jahl kepada orang-orang yang berkunjung ke Mekah. Ia tak malu mengorbankan logika dan akal sehatnya agar kabilahnya tetap bersaing. Fanatik kesukuan benar-benar menutup mata hatinya dari kebenaran. Sikap fanatik ini terus ia pertahankan hingga akhir hembusan nafasnya di dunia. Atikah binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melihat kefanatikan tersebut beberapa saat sebelum terjadi Perang Badr.

Sebelum terjadi Perang Badr, Atikah binti Abdul Muthalib bermimpi dengan mimpi yang aneh. Sebuah mimpi yang mengisyaratkan kehancuran kafir Quraisy. Mendengar mimpi tersebut Abu Jahl berseru kepada paman Nabi, Abbas bin Abdul Muthalib, “Kami dan kalian bagaikan kuda yang saling berpacu. Kita berlomba dalam kemuliaan sejak dulu. Ketika kita dalam posisi seimbang, lalu kalian mengatakan, ‘Di tengah kami ada yang jadi nabi’. Kurang satu lagi saja, kalian mengaku-ngaku di tengah kalian ada nabi perempuan. Aku tidak mengetahui di klan Quraisy ini sebuah keluarga yang lebih pendusta baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan melebihi keluarga kalian ini.” (Riwayat ath-Thabrani: al-Mu’jam al-Kabir (20881)).

Ucapan Abu Jahl ini ia tujukan kepada Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu masih satu keyakinan dengannya. Sama-sama tinggal di Mekah. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di Madinah. Semua ini menunjukkan tujuan Abu Jahl adalah ingin mengunggulkan kabilahnya di tengah persaingan dengan Bani Hasyim. Sikapnya sama seperti sikap Firaun tatkala menolak Nabi Musa ‘alaihissalam.

قَالُوا أَجِئْتَنَا لِتَلْفِتَنَا عَمَّا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا وَتَكُونَ لَكُمَا الْكِبْرِيَاءُ فِي الأَرْضِ وَمَا نَحْنُ لَكُمَا بِمُؤْمِنِينَ

Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan mempercayai kamu berdua”. [Quran Yunus: 78]

Sifat fanatik kesukuan, fanatik kedaerahan, fanatik komunitas, fanatik organisasi, ini semua budaya jahiliyah. Sejak dulu, setan terus mengangkat isu ini agar supaya orang menolak kebenaran dan memecah belah persatuan kaum muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَفْتَخِرُونَ بِآبَائِهِمْ الَّذِينَ مَاتُوا إِنَّمَا هُمْ فَحْمُ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّهِ مِنْ الْجُعَلِ الَّذِي يُدَهْدِهُ الْخِرَاءَ بِأَنْفِهِ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِالْآبَاءِ إِنَّمَا هُوَ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ النَّاسُ كُلُّهُمْ بَنُو آدَمَ وَآدَمُ خُلِقَ مِنْ تراب ) رواه الترمذي ( المناقب/ 3890 ) ، وحسَّنه الألباني في ” صحيح سنن الترمذي ” برقم ( 3100 ).

“Suatu kaum pasti akan berakhir jika mereka merasa bangga dengan nenek moyang mereka yang telah meninggal dunia. Mereka akan menjadi arang neraka Jahanam atau lebih hina di sisi Allah dari pada serangga yang mengendus kotoran dengan hidungnya. Sungguh Allah telah memusnahkan keangkuhan jahiliyah, dan kebanggaan dengan nenek moyang. Sesungguhnya ia adalah seorang mukmin yang bertakwa atau penjahat yang hidup sengsara. Semua orang adalah anak cucu Adam, dan Adam diciptakan dari tanah”. (HR. Tirmidzi/al MAnaqib 3890, dan dihasankan oleh Al Baani dalam “Shahih Sunan Tirmidzi”: 3100).

Sumber:
– https://islamstory.com/ar/artical/3406652/لماذا-لم-يؤمن-أهل-مكة

Oleh Nurfitri Hadi (IG: @nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com



Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *