/Pengungsi Yazidi yang Ditampung Jerman Berkurang

Pengungsi Yazidi yang Ditampung Jerman Berkurang

Hidayatullah.com—Semakin sedikit pengungsi dari kalangan Yazidi (Ezidi atau Yezidi) yang ditampung oleh Jerman, menurut laporan sebuah koran setempat.

Jerman menyetujui 60 persen permohonan suaka orang-orang Yazidi tahun lalu, lapor koran Neue Osnabrucker Zeitung hari Sabtu (9/2/2019) seperti dilansir DW. Jumlah itu sekitar 5.350 pengungsi, atau lebih rendah dibandingkan tahun 2017 yang mana permohonan suaka dari orang-orang Yazidi –kebanyakan berasal dari Iraq– disetujui 85 persen.

Data tersebut diungkap ke publik oleh Kementerian Luar Negeri atas permintaan dari Partai Kiri.

Yazidi adalah orang-orang berbahasa Kurdi yang menganut agama unik, campuran dari ajaran Zoroaster, Kristen dan Islam, yang kebanyakan tinggal di wilayah Iraq dan Suriah. Kampung halaman nenek moyang mereka berada di Sinjar, bagian utara Iraq, yang pada tahun 2014 dikuasai oleh kelompok bersenjata ISIS alias Daesh.

Akibat konflik yang terjadi di Suriah dan Iraq beberapa tahun terakhir, ratusan ribu orang Yazidi mengungsi. Sebagian dari mereka yang pergi ke luar negeri akhirnya tinggal di Armenia, Georgia dan Rusia. Sekitar 150.000 orang Yazidi tinggal di Jerman, di mana komunitas terbesar Yazidi di pengasingan berada.

Nadia Murad, wanita Yazidi yang pernah menjadi tahanan ISIS dan katanya dijadikan budak seks mendapatkan hadiah Nobel Perdamaian 2018 atas kampanyenya menentang kekerasan seksual sebagai senjata perang.

Jumlah permohonan suaka orang Yazidi yang dikabulkan Jerman pada tahun 2015 mencapai 97 persen. Pada tahun 2016 angkanya menurun menjadi 95 persen. Patut diketahui bahwa kebanyakan migrasi dan  proses permohonan suaka orang-orang Yazidi dibantu oleh organisasi-organisasi amal Kristen di Eropa.

Menurut Neue Osnabrucker Zeitung salah satu faktor mengapa aplikasi suaka orang Yazidi di Jerman belakangan ini jumlah yang diterima semakin menurun adalah adalah fakta mereka berangkat dari negara-negara yang dianggap aman seperti Georgia, Rusia dan Turki. Alasan lain, karena pihak otoritas Jerman tidak lagi menganggap wilayah otonomi Kurdi di utara Iraq sebagai daerah tidak aman bagi Yazidi.*



Sumber