/Perang Basus, Perang Terlama Dalam Sejarah Bangsa Arab – Cerita kisah cinta penggugah jiwa

Perang Basus, Perang Terlama Dalam Sejarah Bangsa Arab – Cerita kisah cinta penggugah jiwa

Perang Basus adalah perang terlama yang dilakoni bangsa Arab. Perang ini adalah perang dua kabilah bersaudara, Bakr dan Taghlib. Tidak tanggung-tanggung, permusuhan dua kabilah itu terus berlangsung hingga 40 tahun. Lalu apa yang menyebabkan perang ini terjadi turun-temurun? Dan apa saja yang terjadi di perang tersebut? Simak kisahnya berikut ini.

Sejarah

Sejarah adalah susunan dari kejadian-kejadian masa lalu. Baik kejadian besar maupun kecil. Dari sini kita memahami, membaca sejarah peperangan bangsa Arab di masa jahliyah (Ayyamul Arab) dan sejarah mereka di masa Islam menjadi rujukan utama untuk mengetahui sejarah bangsa Arab. Apalagi bangsa Arab memiliki kontribusi besar dalam perkembangan peradaban manusia. Karena itu memahami sejarah mereka di masa pra Islam maupun di masa Islam akan membantu kita memahami perubahan peradaban manusia.

Di antara peristiwa penting dari sejarah Arab pra Islam (Ayyamul Arab) adalah sejarah tentang Perang Basus. Sebuah perang di masa jahiliyah yang berlangsung selama 40 tahun. Perang yang terjadi antara dua kabilah Adnaniyah; Bakr dan Taghlib. Keduanya merupakan anak dari Wail bin Hanb bin Afsha bin Judailah bin Asad bin Rabiah bin Nizar bin Ma’d bin Adnan.

Sebab Peperangan

Sebab perang terpanjang ini adalah terbunuhnya Kulaib. Namanya adalah Wail bin Rabi’ah bin al-Harits bin Zuhair bin Jusyam bin Bakr bin Hubaib bin Amr bin Ghanim bin Taghlib. Ia dikenal dengan Kulaib (anjing kecil). Disebut demikian karena ia senantiasa membawa anjing saat berjalan atau bersafar. Apabila ia lewat di taman atau suatu tempat yang membuatnya kagum, ia pukul anjing tersebut dan meletakkannya di tempat itu. Anjing itu mengaing dan melolong. Setiap orang yang mendengar lolongannya tak akan mau mendekatinya. Karena itulah ia disebut dengan Kulaib Wail.

Rabiah bin Nizar al-Akbar adalah nenek moyang dari sejumlah kabilah di Arab. Di antara keturunannya adalah kabilah Taghlib dan Bakr. Setiap kabilah-kabilah keturunan Rabiah bin Nizar al-Akbar ini saling bersaing agar menjadi pemimpin dan paling menonjol dibanding kabilah lainnya. Awalnya, kepemimpinan keturunan Rabiah ini dipegang oleh ‘Anzah bin Asad bin Rabiah. Di antara ciri khas kabilah ini di masanya adalah mereka memanjangkan janggut dan mencukur kumis. Anak keturunan Rabiah yang tidak melakukan hal ini, akan dimusuhi.

Kemudian kepemimpinan berpindah ke tangan Abdul Qais. Di masa kepemimpinannya terdapat ciri lainnya. Apabila dihina, mereka akan memukul orang yang menghina tersebut. Jika dipukul, mereka akan memerangi si pemukul.

Setelah itu kepemimpinan pun berpindah ke an-Nimr bin Qasith bin Hanb. Di masa kepemimpinannya, mereka merubah kebiasaan buruk orang-orang sebelum mereka. Kemudian kabilah ini dipimpin oleh Bakr bin Wail. Kemudian kepemimpinan dipegang oleh orang-orang Taghlib. Diangkatlah Wail bin Rabiah sebagai pemimpin. Dan kebiasaannya adalah bersama anak anjing.

Awal Perang

Kulaib bin Rabiah menjadi penguasa di Arab. Ia seorang pemimpin yang kuat, tapi bukanlah pemimpin yang baik. Apabila ia keluar ke daerah penggembalaan, ia membuat onta-onta melaung. Dan ia tidak suka ada onta orang lain memasuki wilayah penggembalaannya. Suatu ketika, ia melihat seekor onta asing masuk di penggembalaan miliknya. Awalnya onta ini terikan di rumah tokoh Bakr, al-Jassas. Namun karena melihat rombongan onta lainnya ia terlepas dan pergi. Kulaib kesal dengan onta asing itu, lalu ia panah onta itu. Onta itu terluka bagian susunya dan berlari ke tempat asalnya. Hingga ia mati di depan rumah al-Jassas.

Al-Basus, perempuan bangsawan Bani Bakr, melihat onta tersebut terluka dan mati. Ia menangis dan berteriak memanggil. Ini adalah bentuk penghinaan terhadap tetangga. Dan orang-orang Arab adalah orang yang tinggi harga dirinya, mereka tak bisa menerima penghinaan. Jassas berkata pada bibinya, “Diamlah.. tenanglah” Jassas terduduk, kemudian ia berkata pada keduanya, “Sungguh akan kubalas dengan membunuh onta yang lebih besar dari onta ini. Akan kubunuh onta terbaiknya.” Maksudnya membunuh Kulaib. Kemudian Jassas mengikuti Kulaib dan membunuhnya. Inilah awal mula bencana peperangan.

Setelah Kulaib terbunuh, Jassas menunggangi kudanya dan menemui keluarganya. Saat ayah Jassas melihat kedatangan anaknya, ia berkata, “Jassas datang membawa hadiah untuk kalian.” Jassas berkata pada ayah Kulaib, “Aku telah melakukan suatu tikaman yang bakal mengumpulkan keturunan Wail esok hari.”

“Siapa yang kau tikam?” tanya ayah Wail. “Aku telah membunuh Kulaib”, jawab Jassas. Ayah Jassas berkata, “Buruk sekali apa yang kau lakukan. Engkau telah memecah persatuan kaummu. Dan akan mengobarkan pertempuran yang panjang.” Mengapa ayahnya berkata demikian, karena ia telah membunuh seorang kepala suku Taghlib, Kulaib, kakak iparnya sendiri.

Malam harinya Hammam saudara Jassas dan Muhalhal saudara Kulaib berkumpul untuk menenggak khamr. Jassas mengirim seorang budak kepada saudaranya itu. Kemudian Hummam berkata kepada Muhalhal, “Minumlah! Hari ini khamr dan besok urusan yang berbeda.” Hummam pun keluar setelah Muhalhil sempoyongan dengan mabuknya. Orang-orang pergi memakamkan Kulaib. Setelah itu, orang-orang Taghlib berangkat berperang membalas dendam atas Kulaib. Mereka perangi Bakr demi menuntut darah pemimpin mereka. Sementara Bakr dipimpin oleh Muhalhal.

Nama Muhalhal adalah Uday. Ada juga yang mengatakan namanya Umru-ul Qais. Ia merupakan paman dari Umru-ul Qais bin Hijr al-Kindi. Namun ia lebih dikenal dengan laqobnya, Muhalhal. Disebut muhalhil karena dia adalah orang yang pertama menggubah syair. Dan orang pertama yang berdusta dengan syair. Perang ini berlangsung dalam beberapa episode yang dikenal dengan istilah Ayyamul Arab.

Yaum (Hari) Anazah

Pertempuran pertama di antara dua kabilah ini terjadi di Falaj. Mereka bertemu di sebuah mata air yang disebut an-naha (Arab: النهى). Tempat ini merupakan pemukiman Bani Syaiban dari Bani Bakr. Di perang ini, Muhalhil memimpin Bani Taghlib. Sementara orang-orang Syaiban dipimpin oleh al-Harits bin Murrah. Di hari itu orang-orang Syaiban yang menderita dalam perang. Sementara di Bani Murrah tak ada yang terbunuh seorang pun.

Yaum Dzanaib

Kedua kelompok bertemu di Dzanaib. Yaitu sebuah daerah 80 Km di Barat Daya Riyadh sekarang. Inilah perang terbesar antara dua kabilah ini. Dan perang ini dimenangkan oleh Taghlib. Di hari itu Syarahil bin Murrah bin Hammam bin Dzuhl bin Syaiban tewas demikian juga dengan al-Harits bin Murrah, Amr bin Sadus bin Syaiban, dan tokoh-tokoh bani Bakr lainnya.

Yaum Waridat

Di perang ini terjadi pertempuran dahsyat. Perang ini juga dimenangkan oleh orang-orang Taghlib. Banyak yang tewas dari kalangan Bakr. Hammam bin Murrah saudara Jassas tewas di perang ini. Dan ada beberapa peperangan yang tidak disebutkan secara rinci. Seperti: Yaum Uwairidhat, Yaum Unaiq, Yaum Dhariyah, dan Yaum al-Qashibat. Di perang-perang ini, Taghlib lah yang selalu memenangkannya.

Yaum Tahlaq al-Lumam

Perang ini adalah perang penentu. Babak terakhir dari rentetan perang yang berkepanjangan. Muhalhil melarikan diri dari kaumnya. Ia hijrah dan tinggal bersama Bani Janb. Kemudian ia bekelana menuju Sungai Eufrat di negeri Irak sana. Dan tempat tinggalnya dikenal dengan Diyar Rabiah.

Penutup

Mungkin sebagian orang akan mengatakan, “Bodoh sekali, gara-gara permasalahan kecil, orang-orang Arab ini berperang sampai 40 tahun.” Bagi yang jeli membaca sejarah sosial masyarakat Arab, tentu tidak menganggap ini karena onta semata. Tapi hal ini karena nilai kesetiaan, kehormata, dan kehidupan bertetangga yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Arab jahiliyah. Tetangga harus menjaga tetangga yang lain. Dalam hal ini, al-Jassas menjaga harta tetangganya yang terikat di depan rumahnya. Tetangga juga harus menghormati tetangga yang lain, ketika terjadi pelecehan tentu itu pelanggaran terhadap suatu norma yang dijunjung tinggi. Yaitu ketika Kulaib merusak dan mengganggu harta tetangga mereka, yaitu onta.

Artinya masyarakat jahiliyah aslinya memiliki tata sosial, nilai, dan norma yang luhur di masyarakat mereka. Namun, norma-norma tersebut salah arah. Sehingga Islam datang ke tengah mereka untuk meluruskannya.

Oleh Nurfitri Hadi (IG: @nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Sumber