/Perjalanan Hidup Seorang Tokoh Reformis Arab Saudi (1/2) – Cerita kisah cinta penggugah jiwa

Perjalanan Hidup Seorang Tokoh Reformis Arab Saudi (1/2) – Cerita kisah cinta penggugah jiwa

Arab Saudi sekarang bukanlah Arab Saudi yang dulu. sekarang kita lihat toko-toko tutup saat adzan dikumandangkan. Semua menuju masjid untuk segera shalat berjamaah. Kalau kita ke pemakaman, kita lihat semuanya rata. Tak ada kuburan yang terlihat lebih istimewa dari yang lain. Ada penjaga seperti polisi pamong yang mengawasi agar taka da yang meminta-minta di kuburan. Dulu, tak terbayang bagi kita. Pemandangannya begitu aneh. Banyak kubur dikeramatkan. Bahkan pohon pun dimintai keberkahan. Orang-orang bersimpuh meminta pada sesuatu yang tak bisa mendatangkan manfaat dan tak mampu menolak bahaya. Islam hanyalah nama yang kehilangan ruhnya, tauhid. Kaum muslimin jauh dari agamanya. Di kondisi seperti inilah Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi dilahirkan.

Kelahiran dan Masa Pertumbuhan

Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid (Husein Khalf: Tarikh al-Jazirah al-Arabiya fi ‘Ashri asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Hal: 53). Nasabnya ini kembali kepada Alu Musyarrif dari kabilah at-Tamimi. Garis nasab yang mulia. Mengapa? Karena nasab ini tersambung sampai Mudhar dari keturunan Adnan (Muhammad Ahmad Darniqah: asy-Syaih Muhammad bin Abdul Wahhab Ra-idu-d Da’watu-s Salafiyah fi-l ‘Ahsri-l Hadits, Hal: 27).

Kakeknya adalah Sulaiman bin Ali bin Musyarrif, salah seorang ulama yang paling terkenal di zaman itu. Bahkan termasuk ulama besar Jazirah Arab. Demikian juga ayahnya. Sang ayah termasuk seorang yang berilmu dan fakih dalam madzhab Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Sang ayah adalah seorang ulama terkenal di Nejd. Seorang hakim yang ma’ruf. Ia mengurusi masalah kehakiman di beberapa wilayah. Seperti Uyainah dan Huraimila. Sedangkan pamannya adalah Syaikh Ibrahim bin Sulaiman merupakan seorang ulama yang terkenal di negerinya (Muhammad Ahmad Darniqah: asy-Syaih Muhammad bin Abdul Wahhab Ra-idu-d Da’watu-s Salafiyah fi-l ‘Ahsri-l Hadits, Hal: 28).

Di keluarga ahli ilmu inilah Muhammd bin Abdul Wahhab lahir. Ia dilahirkan di Kota Uyainah -sebuah wilayah di utara Riyadh sekarang-. Pada tahun 1115 H/1703 M. Ia mempelajari Alquran dan berhasil menghafalnya sebelum baligh. Tepatnya saat berusia 12 tahun. Kemudian Allah Ta’ala mudahkan baginya untuk memahami tauhid dan mengamalkannya. Mengetahui pembatal-pembatalnya dan penyimpangan terhadap tauhid. Sampai ayahnya pun kagum dengan kecerdasannya. Sang ayah berkata tentangnya, “Sungguh aku belajar dari anakku, Muhammad, faidah-faidah banyak hukum.” (Ibnu Ghanam: Tarikh Nejd, Hal: 81).

Muhammad bin Abdul Wahhab kecil berbeda dengan anak-anak lainnya yang suka bermain. Muhammad terbiasa menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menelaah buku-buku. Khususnya buku-buku Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya, Ibnul Qayyim. Kemudian juga tulisan-tulisan Imam Ahmad bin Hanbal. Penelaahan buku-buku ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan keilmuan Muhammad bin Abdul Wahhab (Muhammad Ahmad Darniqah: asy-Syaih Muhammad bin Abdul Wahhab Ra-idu-d Da’watu-s Salafiyah fi-l ‘Ahsri-l Hadits, Hal: 29).

Perjalanan Belajar

Muhammad bin Abdul Wahhb memulai perjalanan belajar dengan bersafar untuk haji. Setelah itu, ia menuju Kota Madinah. Di sanalah ia menemukan sesuatu yang ia cari. Karena Madinah penuh dengan para ulama. Seperti Syaikh Abdullah bin Ibrahim alu Yusuf penulis buku al-Adzbu al-Faidh fi ‘Ilmil Faraidh. Darinya, Muhammad banyak memperoleh ilmu. Dan Syaikh Abdullah pun mencintainya. Sehingga beliau mencurahkan usaha besar untuk mengajarinya dan mengokohkan ilmunya. Semakin eratlah kaitan cinta antara guru dan murid ini. Muhammad bin Abdul Wahhab bercerita tentang gurunya, Syaikh Abdullah, “Suatu hari aku bersamanya, ia berkata padaku, “Maukah kau kutunjukkan senjata yang kusiapkan untuk menghadapi Majma’ah (sebuah wilayah di Nejd).” “Tentu saja”, jawabku. Kemudian ia mengajakku masuk ke suatu ruangan yang di dalamnya terdapat banyak sekali buku. Ia berkata, “Inilah yang kami persiapkan untuk menghadapinya.” (Utsman bin Bisyr: Unwanul Majdi fi Taraikh Najdi, Hal: 20-21.).

Demikianlah ilmu di mata ulama. Ia adalah persiapan pertama dan utama untuk menghadapi musuh. Sebelum persiapan yang lainnya. Peristiwa inipun membuat Muhammad bin Abdul Wahhab semakin bersemangat untuk belajar. Bahkan untuk bersafar ke daerah lainnya. Karena ia sadar akan hakikat dan urgensi ilmu.

Ulama Madinah lainnya yang sangat berpengaruh dalam keilmuan Muhammad bin Abdul Wahhab adalah Syaikh Muhammad Hayatu-s Sindi. Dari beliaulah Muhammad bin Abdul Wahhab tersadar akan pentingnya akidah yang shahih dan merasakan kegelisahan yang besar melihat tersebarnya bid’ah, syirik kecil, dan syirik besar di tengah masayarakat Nejd. Ini semakin memicunya untuk semangat belajar agama. Tidak hanya di Nejd, tapi di luar Nejd juga. Ia benar-benar mempersiapkan diri untuk berdakwah dan berjihad di jalan Allah di kemudian hari.

Hal lainnya yang membuat Muhammad bin Abdul Wahhab begitu bersemangat untuk memperbaiki akidah umat adalah pemandangan menyedihkan yang ia saksikan di makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu hari ia berdiri di raudhah, ia saksikan ada seseorang berdoa dan meminta pertolongan di sisi kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat itu ia melihat Syaikh as-Sindi lalu menemuinya. Syaikh as-Sindi bertanya, “Apa pendapatmu tentang mereka ini?” Ia menjawab dengan firman Allah,

إِنَّ هَؤُلَاءِ مُتَبَّرٌ مَا هُمْ فِيهِ وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan.” [Quran Al-A’raf: 139] (Ibnu Bisyr: ‘Unwanul Majdi Hal: 20).

Syaikh as-Sindi pun yakin bahwa muridnya sudah mencapai tingkat pemahaman keilmuan yang baik.

Setelah belajar dengan Syaikh Hayat as-Sindi, Muhammad bin Abdul Wahhab masih merasa perlu untuk memperluas keilmuannya. Menambah pengetahuan akan hal-hal baru dari para ulama yang mendalam ilmunya di berbagai penjuru negeri Islam. Lalu ia memantapkan diri meninggalkan Kota Madinah menju madrasah Basrah. Tanpa pikir lama, ia segera berangkat ke kota di Irak tersebut. Di kota ini ia belajar dari ulama besar semisal Syaikh Muhammad al-Majmu’i. seorang guru yang juga sangat berpengaruh dalam kehidupannya. Darinya ia belajar banyak buku-buku nahwu, bahasa, dan hadits.

Di Bashrah, Muhammad bin Abdul Wahhab memulai petualangan baru. Ini adalah fase menampakkan kebenaran bagi mereka yang beriman. Ternyata kondisi Bashrah jauh lebih buruk dibanding kondisi Madinah. Ia tak tinggal diam. Ia jelaskan kepada masyarakat tentang bahaya bid’ah dan khurofat. Tercelanya merendahkan diri dan memanjatkan doa di kuburan. Ia bawakan dalil-dalil dari Alquran, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan praktik salafush shaleh. Namun wahyu dan pelajaran kehidupan dari generasi terbaik itu tak terserap oleh hati yang sudah dipenuhi dengan kebid’ahan dan penyimpangan. Ia didustakan bahkan mendapat ancaman. Tidak hanya berhenti sampai di sini, ia benar-benar dipukuli dan mendapat caci maki. Sampai diusir dari Bashrah setelah tinggal di sana selama empat tahun. Para pemuja kubur ini tidak hanya berhenti pada Muhammad bin Abdul Wahhab, mereka juga mengintimidasi gurunya, Syaikh al-Majmu’i.

Mendapatkan ujian yang berat saat sedang berproses menjadi ahli ilmu, tak membuat Muhammad bin Abdul Wahhab ciut dan patah semangat. Ia tetap melanjutkan perjalanannya dalam mendapatkan ilmu agama. Dari Bashrah, Muhammad bin Abdul Wahhab meneruskan perantauannya menuju wilayah az-Zubair. Sebuah wilayah di Irak yang masih tergabung dengan Basrah dan dekat dengan Kuwait.

Dalam perjalanan menuju az-Zubair, Muhammad bin Abdul Wahhab banyak mendapatkan kesulitan. Tapi ia berhasil menyelesaikan kebutuhannya di daerah tersebut. Setelah itu ia melanjutkan perjalanan menuju Syam. Di tengah jalan ia kehabisan bekal. Akhirnya ia mengurungkan belajar ke Syam dan kembali ke kampung halamannya. Di tengah perjalanan, ia singgah di wilayah Ahsa. Di tempat ini ia belajar dengan Syaikh Abdullah bin Abdul Lathif asy-Syafi’i. Darinya ia berhasil mempelajari beberapa buku. Setelah itu barulah ia melanjutkan perjalanan ke Huraimila. Kepulangannya ini terjadi pada tahun 1143 H. Sejak tahun 1139 H, orang tuanya sudah pindah ke kota ini. Ia pun belajar dengan sang ayah. Ia menyibukkan diri dengan ilmu tafsir dan hadits. Kemudian menekuni buku-buku Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim rahimahumallah. Buku-buku keduanya sangat berpengaruh pada keilmuannya. Menambah ilmu, cahaya, dan basirah. Dari sinilah pondasi dakwahnya terbangun (Alu Thalib Thami: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Aqidatuhu as-Salafiyah wa Da’watuhu al-Ishlahiyah, Hal: 17-18).

Berdakwah di Huraimila

Setelah menempuh fase panjang dalam belajar, Muhammad bin Abdul Wahhab membuka fase baru dalam kehidupannya, berdakwah. Perjalanan dakwahnya ia mulai di kota kecil, Huraimila. Objek dakwah pertamanya adalah keluarga dan kerabat. Kemudian masyarakatnya. Ia terangkan kepada mereka tentang hakikat tauhid kepada Allah Azza wa Jalla. Tidak boleh ada doa kecuali hanya kepada Allah semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak boleh berkurban dan bernadzar kecuali hanya kepada Allah. Ia jelaskan kepada masyarakat tentang tradisi yang sering mereka lakukan. Tradisi meminta-minta di kuburan. Mengagungkan benda keramat semisal batu dan pohon. Bernadzar kepada selain Allah. Semua itu adalah kesesatan dan ajaran yang dibuat-buat manusia.

Ia terus memperjuangkan dakwahnya dan mengajak masyarakat dengan hikmah dan nasihat yang baik. Ia landasi ucapannya dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga muncul dialog dan debat antara dirinya dengan masyarakat. Bahkan dengan ayah dan saudaranya sendiri, Sulaiman bin Abdul Wahhab. Awalnya Sulaiman menolak dakwah yang dibawa saudaranya. Namun akhirnya ia menerima dakwah tauhid ini.

Penduduk Huraimila terdiri dari dua kabilah. Yang asalnya dari satu kabilah. Masing-masing kabilah ini menyatakan diri sebagai kekuatan yang berkuasa. Tak ada yang menyatukan mereka. Namun terdapat seorang ahli ibadah di salah satu kabilah. Kedua kabilah berbuat kerusakan dan kefasikan. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berusaha menghentikan kerusakan mereka. Dan menjelaskan kepada mereka tentang apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan dalam kitab-Nya. Ahli ibadah di masyarakat ini ingin membunuh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Ia rencanakan eksekusi pembunuhan itu secara rahasia di malam hari. Ketika si ahli ibadah dan komplotannya tengah mengepung rumah, aksi mereka ketahuan masyarakat. Orang-orang pun meneriaki mereka dan mereka pun kabur (Ibnu Ghanam:Muqoddimah ad-Duktur Nashir al-Asad, Hal: 84).

Di Huraimila, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab melahirkan karyanya yang monumental, Kitab Tauhid (Ibnu Ghanam: Tarikh Najdi, 1/36). Namun, tak lama di sana, ia meninginggalkan di kota tersebut. Karena merasa yakin kalau kehadirannya di sana tidak memberikan pengaruh yang diharapkan. Ia pindah menuju Uyainah pada tahun 1157 H (Mas’ud an-Nadwi: Muhammmad bin Abdul Wahhab, Hal: 45).

Di Kota Uyainah

Uyainah adalah sebuah kota di barat laut Riyadh, Arab Saudi. Saat Muhammad bin Abdul Wahhab tiba di sana, kota itu dipimpin oleh Utsman bin Hamd bin Ma’mar. Utsman menyambut Syaikh Muhammad dengan penuh penghormatan dan pemuliaan. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan kepada Ibnu Ma’mar bahwa dakwah yang ia serukan bersumber dari Alquran dan sunnah yang suci. Tujuannya bukan untuk berkuasa, tapi dakwah ini adalah bentuk pengajaran kepada masyarakat tentang pondasi agama mereka dan pokok-pokok tauhid. Dakwah ini juga berusaha menggerus kesyirikan dan menumbangkan syiar-syiarnya. Kemudian ia menjelaskan kepada Ibnu Ma’mar, siapa yang menolong dakwah ini pasti akan dikokohkan oleh Allah. Allah akan memberinya taufik, kekuasaan, dan kemuliaan.

Utsman bin Ma’mar menyambut seruan itu. Ia pun ingin berkontribusi dalam dakwah yang mulia ini. Ia membebaskan Syaikh Muhammad untuk berdakwah dengan dakwah tauhidnya tanpa syarat apapun. Ia memberi jalan kepada Syaikh agar bisa menerangkan kepada masyarakat bahwa berpegang kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kebutuhan yang sangat urgen. Ia perintahkan rakyatnya untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. Kemudian di saat itu pula Syaikh Muhammad menikah dengan Jauharah binti Abdullah bin Ma’mar.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah tahu persis salah satu sebab kuatnya dakwah adalah dukungan penguasa. Jika penguasa menerima dakwah, maka kebijakan yang ia lahirkan akan merujuk kepada nilai-nilai dakwah. Syaikh juga memiliki cita-cita besar tentang persatuan Nejd di tangan satu kepemimpinan. Tentu ini tidaklah mudah. Mengenalkan Islam di wilayah yang masyarakatnya asing dengan ajaran Islam. Bahkan respon mereka dengan dakwah sangat jauh dari harapan. Persatuan Nejd dalam waktu singkat sulit akan terjadi kecuali dengan seorang pemimpin yang kuat dan militer yang mumpuni. Bersamaan dengan kekuatan non materi berupa hujjah dan ilmu. Inilah fiqhul waqi’ Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Dalam hal ini, ia menaruh harapan besar pada diri Ibnu Ma’mar.

Mengubah Tradisi Syirik dan Mendakwahkan Tauhid

Menghancurkan Kubah di Makam Zaid bin al-Khattab

Pengagungan kubur di zaman itu seolah menjadi ajaran. Kubur para sahabat dan orang-orang shaleh dibangun dan dipugar untuk diagungkan dan dimintai berkat. Di antaranya adalah kubur saudara Umar bin al-Khattab, yaitu Zaid bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dia merubah hal itu dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi, hendaknya dia ingkari dengan hatinya dan inilah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim no. 49)

Sekarang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah telah mendapat dukungan penguasa. Artinya, ia mampu mengubah kemungkaran dengan tangannya. Memadamkan keburukan tidak hanya dengan dakwah dan nasihat. Tapi benar-benar mengambil sikap dengan perbuatan. Seburuk-buruk kejahatan adalah seorang hamba menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Karena itu, memberantas kesyirikan menjadi prioritas utama Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Ia tebang pohon-pohon yang dianggap keramat dan meratakan kubah besar di atas makam Zaib bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Di makam ini, masyarakat sengaja datang untuk minta syafaat. Mengajukan permohonan dan mengadukan masalah.

Ibnu Bisyr dalam bukunya Unwanul Majdi menukilkan ucapan Muhammad bin Abdul Wahhab kepada Utsman bin Ma’mar, “Izinkan kami merobohkan kubah yang dibangun untuk tujuan yang buruk itu. Banyak orang berpaling dari hidayah gara-gara pengagungan terhadap kubur.” Utsman menjawab, “Kuserahkan padamu.” Syaikh berkata, “Kami khawatir penduduk Jibliyah akan mengadakan perlawanan. Kami tidak bisa menghancurkannya kecuali Anda turut menyertai kami.”

Utsman pun mengutusnya dengan 600 orang untuk membantunya. Saat telah dekat, orang-orang Jibliyah muncul untuk menghadang mereka. Ternyata mereka melihat di tengah rombongan ada Utsman bin Ma’mar, mereka merasa segan terhadapnya dan mengizinkan rombongan itu lewat.

Setibanya di kubah tersebut, Utsman berkata kepada Syaikh, “Kami tidak berpihak dengannya.” Syaikh berkata, “Berikan saya kapak.” Kemudian ia hancurkan kubah itu dengan tangannya sendiri. Makam itu pun rata dengan tanah. Di malam hari, masyarakat awam Badui dan para pengagung kubur menunggu, musibah apa yang akan terjadi karena perbuatan ini. Saat pagi tiba, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kondisi baik-baik saja.” (Ibnu Bisyr: Unwanul Majdi, 1/9-10).

Apa yang ia lakukan bukan tanpa dasar. Karena inilah wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abu Tholib. Dan wasiat Ali kepada Abul Hayyaj.

عَنْ أَبِى الْهَيَّاجِ الأَسَدِىِّ قَالَ قَالَ لِى عَلِىُّ بْنُ أَبِى طَالِبٍ أَلاَّ أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِى عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ لاَ تَدَعَ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ

Dari Abul Hayyaj Al Asadi, ia berkata, “‘Ali bin Abi Tholib berkata kepadaku, “Sungguh aku mengutusmu dengan sesuatu yang Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah mengutusku dengan perintah tersebut. Yaitu jangan engkau biarkan patung (gambar) melainkan engkau musnahkan dan jangan biarkan kubur tinggi dari tanah melainkan engkau ratakan.” (HR. Muslim no. 969).

Selain kubur yang dimintai doa dan berkat, Syaikh juga menebang beberapa pohon yang dikeramatkan. Seperti Pohon Quraiwah, Pohon Abu Dujanah, dan Pohon adz-Dzaib. Utsman bin Ma’mar memiliki peranan besar dalam mewujudkan hal ini. Kemudian Syaikh juga menegakkan hukum rajam pada seorang perempuan yang mengaku telah berzina. Semua itu ia lakukan dengan tujuan berhukum dengan syariat Allah (Abdul Aziz sayyid al-Ahl: Da’iyatut Tauhid, Hal: 23).

Menghidupkan Syi’ar Shalat Berjamaah di Masjid

Tidak hanya perhatian terhadap nahi mungkar, Syaikh Muhammad juga mengajak pemimpinnya agar menegakkan amar ma’ruf. Terlebih syi’ar utama yang hilang di tengah masyarakat. Ia memberi masukan kepada Utsman bin Ma’mar untuk menghidupkan tradisi umat Islam generasi awal, yaitu shalat berjamaah di masjid. Laki-laki yang tidak shalat berjamaah di masjid akan mendapatkan hukuman. Kebijakan lainnya adalah tentang pajak. Saat itu para pemimpin menetapkan pemungutan pajak. Kemudian Syaikh mengganti kebijakan hukum ini hanya dengan membayar zakat saja. Selain sibuk dengan amar ma’ruf, nahi mungkar, dan mengurusi perihal keagamaan wilayah Uyainah, Syaikh juga menyempatkan diri untuk membuat karya-karya ilmiah. Ia menulis risalah-risalah dakwah. Agar dakwah tauhid ini tidak hanya berkembang di Uyainah, tapi juga di Nejd secara keseluruhan. Wilayah lain yang terpengaruh dengan dakwahnya saat itu adalah Dir’iyyah. Kebiasaan menulis ini mulai produktif di Uyainah dan terus berlangsung hingga wafatnya (Ibnu Bisyr: Unwanul Majdi, 1/200).

Seiring waktu, kabar tentang Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya terdengar di seantero Nejd. Orang-orang mendengar bagaimana kubah Zaid dirobohkan. Pohon-pohon keramat ditebang. Dan wanita yang mengaku berzina dirajam. Mereka yang umumnya tak kenal dengan ajaran tauhid ini yakin kalau Syaikh dan para penolongnya yang terlibat dalam menghancurkan kubah dan pohon keramat akan mendapatkan musibah atas perbuatan mereka.Mereka tunggu setahun, apakah Muhammad bin Abdul Wahhab akan mendapat kualatkarena perbuatannya. Ternyata tak terjadi apa-apa pada dirinya. Masyarakat awam ini pun menerima dakwah Syaikh, secara kolektif atau per orangan. Ini semua kemudahan dari Allah, karena Syaikh berdakwah dengan cinta dan ikhlas.

Respon masyarakat ini, membuat Syaikh semakin semangat untuk menghilangkan unsur kesyirikan; patung, kubah di atas kubur, dan pohon keramat, di wilayah-wilayah yang tunduk dengan kepemimpinan Ibnu Ma’mar.

Percobaan Pembunuhan

Tidak ada kebaikan yang tak mendapatkan penentang. Demikian juga dengan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Rentetan peristiwa yang terjadi adalah bentuk penghinaan bagi mereka. Dan cepat atau lambat dakwah ini akan melunturkan kepemimpinan mereka. Para tetua kabilah dan pemimpin daerah-daerah besar di Nejd bersatu, mengambil sikap untuk menghadapi dakwah ini (Muhammad Kamil Thahih: ad-Da’wah al-Wahabiyah wa Atsaruha fil Fikril Islamil Hadits, Hal: 49).

Di antara tokoh utama yang menentang dakwah ini adalah Sulaiman bin Muhammad bin Urai’ir al-Humaidi, pemimpin Ahsa dan Bani Khalid. Ia didukung oleh sejumlah kelompok besar. Sulaiman menulis surat kepada Utsman bin Ma’mar. Di antara isinya adalah:

“Seorang yang mengajak taat yang ada di sisimu itu telah melakukan banyak hal dan mengucapkan banyak ucapan. Apabila suratku ini sampai padamu, bunuhlah dia. Jika kau tidak mau membunuhnya, kami tidak akan lagi membayar pajak bumi di wilayah kami di Ahsa.”

Membaca ancaman tersebut, Utsman pun merasa mendapat pilihan yang sulit. Antara Muhammad bin Abdul Wahhab dan harta kharja (pajak) sejumlah 1200 Dinar emas. Ternyata Utsman bin Ma’mar lebih memilih harta tersebut dibanding keberadaan Muhammad bin Abdul Wahhab di sisinya. Ia mengirim surat kepada Muhammad bin Abdul Wahhab dengan mengatakan, “Kami tidak mampu berperang dengan Sulaiman.” Syaikh membalas suratnya dan memotivasinya dengan pertolongan Allah, “Sesungguhnya ajaran yang kupegang dan kudakwahkan ini; laa ilaaha illallaah, rukun-rukun Islam, dan amar ma’ruf nahi mungkar, kalau Anda berpegang teguh dengannya dan menolongnya, maka pasti Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memenangkan Anda atas musuh-musuh Anda. Jangan sampai Sulaiman membuatmu takut dan cemas.” (Ibnu Bisyr: Unwanul Majdi, 1/10).

Utsman kembali mengirim surat, “Sulaiman memerintahkan untuk membunuhmu. Dan kami tidak mampu menyelisihinya dan melawannya dalam peperangan. Bukanlah sifat terpuji dan terhormat kalau sampai kami membunuhmu di negeri kami. Karena itu, urusanmu dan dirimu adalah tanggung jawabmu. Pergilah dari negeri kami.” (Muhammad Ahmad Darniqah: asy-Syaih Muhammad bin Abdul Wahhab Ra-idu-d Da’watu-s Salafiyah fi-l ‘Ahsri-l Hadits, Hal: 37).

Utsman, seorang pemimpin yang semula taat itu akhirnya jatuh pada fitnah dunia. Fitnah inilah yang diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak kesempatan,

وَاللهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنِّي أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

“Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian. Tapi aku menghawatirkan kalau dunia itu dibuka lebar-lebar untuk kalian seperti dibukakan kepada orang sebelum kalian. Lalu kalian berlomba-lomba mengejarnya seperti orang sebelum kalian berlomba-lomba. Kalian binasa sebagaimana mereka binasa.” (HR. al-Bukhari dari Amr bin Auf dalam Kitab al-Maghazi, 3791 dan Muslim dalam Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaiq, 2961).

Dalam kesempatan lain, Nabi menyebutkan bahwa ujian harta adalah ujian yang paling sulit bagi umat ini. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya setiap umat itu ada ujiannya. Dan ujian (terberat) umatku adalah dalam permasalahan harta.” (HR. at-Turmudzi dari Ka’ab bin Iyadh dalam Kitab az-Zuhd 2336)

Karena fitnah harta ini pula, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab diusir dari Uyainah. Harapannya terhadap Ibnu Ma’mar buyar. Jalan dakwah yang ia rintis bersamanya, tiba-tiba tergadai begitu saja. Persahabatan keduanya sirna karena harta. Bersamaan dengan itu, ia senantiasa mengulangi membaca ayat:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” [Quran Ath-Thalaq:2-3].

Ia berjalan kaki keluar dari Uyainah. Sementara seorang penunggang kuda mengintainya. Untuk membunuhnya atas perintah Ibnu Ma’mar. Tangan si algojo ini gemetar dan Allah menjaga Syaikh dari niat jahatnya (Alu Buthomi: asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Aqidatuhu as-Salafiyah wa Da’watuhu al-Ishlahiyah, Hal: 33).

Bersambung ke bagian kedeua…

Oleh Nurfitri Hadi (IG: @nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Sumber