Saat Ajaran Islam Dipaksa Kompromi Dengan Budaya India – Cerita kisah cinta penggugah jiwa

Agama Islam adalah agama ilahi. Agama dari Rabb Yang Maha Benar. Walaupun kebenaran itu nyata dan mudah, tapi tetap Allah takdirkan ada orang-orang yang membencinya. Mereka melakukan makar. Mereka buat pengaburan terhadap ajarannya. Bahkan sejarahnya. Tokoh-tokoh baik semisal Harun al-Rasyid, Sulaiman al-Qanuni, dll. dibuat buruk citranya dengan kisah-kisah palsu. Sebaliknya, tokoh-tokoh buruk dipuja dan dipuji. Dijadikan teladan dan diangkat namanya. Di antara tokoh yang merusak ajaran Islam dan diangkat oleh para pembenci Islam di kalangan orientalis adalah Sultan Jalaluddin Akbar, penguasa Kerajaan Mughal di India.

Sultan Akbar adalah seorang penguasa yang membuat agama baru dalam Kerajaan Mughal. Dia sebut agama itu dengan Din Ilahi. Sebuah agama yang mengangkat unsur-unsur budaya lokal. Karena kesesatan ini, para orientalis memujinya sebagai seoarang yang toleran. Raja yang adil dan bijaksana.

Kelahiran dan Kehidupannya

Jalaluddin dilahirkan pada tahun 949 H/1542 M dan wafat pada tahun 1014 H/1605 M. Ayahnya adalah seorang Sunni dan ibunya seorang pengikut Syiah. Dalam perjalanan kehidupannya, ia tidak dikenal sebagai seorang pembelajar. Ia seorang yang buta huruf. Tak mampu membaca dan menulis. Namun kelemahannya itu tertutupi dengan banyak mendengar kisah. Menghafal nama-nama penyair Islam. Mengenal para penyebar Injil dan tahu akidah Nasrani. Tahu asas agama Hindu dan Zoroaster.

Pemerintahan Sultan Akabr berlangsung kurang lebih selama 50 tahun. Dimulai pada tahun 1556 M sampai 1650 M. Selama masa pemerintahannya, ia berkontribusi besar atas kemajuan wilayah India. Bahkan ia tercatat sebagai raja terbesar dalam sejarah India, baik di masa India klasik maupun modern.

Dalam perjalanan keagamaannya, Sultan Akbar melewati dua fase pemikiran. Fase pertama berlangsung selama 20 tahun. Hingga usianya genap 32 tahun. Pada tahun 982 H/1574 M, ia berpegang dengan ajaran Sunni. Dan dikenal sebagai seorang yang taat. Ia memegang erat pokok-pokok ajaran agama. Mengerjakan shalat lima waktu dengan teratur di masjid. Ia menghormati dan memuliakan para ulama. Pengaruh ulama sangat jelas sekali pada dirinya.

Sultan Akbar sangat dekat dengan seorang ulama di masa itu yang bernama Salim bin Baha-uddin as-Saikuri. Sampai-sampai ia namai anaknya dengan nama gurunya ini, Salim. Untuk menerapkan syariat, Sultan Akbar mengangkat seorang hakim dan mufti untuk semua wilayah di kerajaan. karena ia yakin, hanya dengan syariat Islam keadilan dapat diwujudkan.

Adapun fase kedua dari hidupnya adalah fase yang sangat bertolak belakang dengan fase pertama. Ia mulai berpaling dari agamanya. Mulai melirik agama-agama dan ajaran-ajaran yang berada di wilayah kekuasaannya. Lalu ia berpikir untuk membuat agama baru yang dapat menghimpun semua agama dan aliran kepercayaan yang ada di India dalam satu payung ajaran.

Kebijakan Dalam Negeri dan Pengaruhnya Terhadap Hubungan dengan Negara-negara Islam

Saat Akbar mulai memegang tampuk pemerintahan, wabah Thaun sedang menimpa wilayah Utara. Sementara di Barat Laut terjadi peperangan antara dua wilayah besar, Sind dan Kasymir. Kedua wilayah ini terpisah dari Mughal. Akbar berhasil menyatukan banyak wilayah ke dalam kekuasaannya. Semisal Kasymir, Sind, Balokhistan, Kandahar, dan Kabul. Sehingga Kerajaan Mughal di masa pemerintahannya menjadi kerajaan terbesar, terkuat, dan memiliki kekayaan yang paling melimpah.

Di masa pemerintah Akbar pula, Gujarat yang terletak di sebelah barat kerajaan berhasil dimasukkan menjadi bagian dari Mughal. Karena wilayah yang kian luas, pemasukan kerajaan pun bertambah banyak. Setiap tahunnya sekitar 5juta Rupe masuk menjadi pundi-pundi kas negara. Di masa-masa ini, Sultan Akbar mulai menjalin hubungan dengan Portugal melalui kroni-kroni mereka. Dan di masa ini juga ia berhasil memasukkan wilayah Deccan Plateau dan Bengal.

Di masa Kerajaan Mughal berdiri, ada dua kerajaan Islam lainnya yang juga merupakan kerajaan besar. Yaitu Daulah Utsmani dan Daulah Shafawi. Utsmani berpaham Sunni sedangkan Shafawi adalah Syiah. Mughal di zaman Sultan Akbar memiliki hubungan yang sangat baik dengan Daulah Shafawi. Hal ini disebabkan faktor sejarah, kakek Sultan Akbar yang merupakan pendiri Mughal, Babur Syah mendapatkan bantuan militer dari pendiri Shafawi, Ismail ash-Shafawi, dalam peperangan melawan Uzbek yang seorang Sunni. Demikian juga ayahnya, Humayun, pernah dibantu oleh Syah Tahmasp I, putra dari Ismail Shafawi. Ia membantu Humayun kembali ke tahtanya menguasai India.

Hubungan Tahmasp dengan Akbar adalah hubungan kasih sayang, penghormatan, dan saling tolong-menolong. Saat Akbar naik tahta, Tahmasp banyak memberi hadiah untuknya.

Tentang hubungan Mughal dengan Utsmani di masa Akbar bukanlah hubungan yang baik. Sebagaimana kita ketahui Shafawi yang berpaham Syiah senantiasa mengobarkan permusuhan dengan Utsmani yang berpaham Sunni. Dan Mughal di masa Akbar berpihak pada Shafawi dalam melawan Utsmani. Bahkan pada tahun 1582, Shafawi dan Mughal membuat aliansi bersama Portugal untuk menghadapi Utsmani. Saat utusan diplomatik Utsmani dari Yaman datang menemui Akbar, ia tangkap dan siksa utusan tersebut. Ada yang menyebutkan bahwa utusan Utsmani tersebut sombong saat mengajak Akbar untuk beraliansi dengan Utsmani dalam menghadapi Spanyol dan Portugal. Akbar pun tidak mau memenuhi kerja sama tersebut.

Akbar juga melobi Uzbek untuk bersekut sekutu dengan Shafawi dalam menghadapi Utsmani. Menurutnya Utsmani tidak menepati perjanjian dengan Shafawi. Bahkan merencanakan peperangan. Peristiwa ini terjadi saat Utsmani dipimpin oleh Sultan Murad III. Tepatnya pada tahun 1579 dan 1588. Namun Sultan Uzbek menolak ajakan aliansi tersebut.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan di Masa Akbar

Sultan Akbar adalah seorang yang buta huruf. Tak mampu membaca dan menulis. Namun ia memiliki kecerdasan dan kecintaan pada para cendekiawan; ulama dan penyair. Majelisnya selalu dipenuhi oleh para pemikir, ahli fikih, penyair, dan sastrawan yang jumlah mereka bisa mencapai 300 orang dalam satu perkumpulan. Ia juga menumbuhkan gerakan besar untuk menulis dan menerjemah. Ia bawa buku-buku dari Persia untuk menambah khazanah ilmiah di India. Di antara buku yang paling terkenal adalah Hayatul Hayawanil Kubra karya Kamaluddin ad-Damiri dan Mu’jamul Buldan karya Yaqut al-Hamawi.

Masa pemerintahan Akbar adalah masa dimana keilmuan begitu pesat berkembang di India. Sebuah perkembangan yang tidak pernah dijumpai di masa raja-raja India manapun. Ia hiasi dinding-dinding istananya dengan mural khas seniman India dan Persia. Ia juga membangun sekolah seni yang diisi oleh ratusan ahli. Dan semua itu dibawah bimbingan ilmuan Iran. Keilmuan India di masanya sebanding dengan perkembangan keilmuan di Eropa. Bahkan dalam beberapa bidang, India mengungguli Eropa.

Agama Lokal

Dari semua kebijakan dan pencapaian yang dilakukan Sultan Akbar di masanya, yang paling terkenal adalah kebijakannya membuat agama baru. Agama itu ia namai dengan Din Ilahi. Din Ilahi adalah satu agama yang merepresentasikan semua agama dan aliran kepercayaan yang ada di India. Inilah wujud asli pluralisme agama. Alasan Akbar membuat agama ini karena rasa cinta dan kasih sayang kepada rakyatnya. Ia ingin menghilangkan kebencian dan perselisihan yang ditimbulkan karena agama dan kepercayaan. Ia ingin mewujudkan toleransi mendalam antara muslim dan hindu dalam satu payung agama baru. Tentu ini bentuk toleransi yang berlebihan.

Walaupun niatnya menggabungkan ajaran Islam dan Hindu, namun realitanya ajaran ini didominasi oleh ajaran Hindu. Kesesatan pemikiran Akbar tidak langsung pada tingkatan membentuk sebuah agama. Awalnya, ia mendorong masyarakat untuk tidak menghilangkan unsur budaya lokal dalam agama. Ia mengajak masyarakat bertaklid dengan budaya-budaya dan ajaran Hindu. Ia serukan toleransi yang hampir tak mengenal garis pembatas agama.

Di fase ini, pemikirannya sangat menguntungkan orang-orang Hindu. Mereka mendapatkan berbagai kemudahan. Di antaranya dihapuskannya pajak pada mereka yang berkunjung ke wilayah-wilayah suci Hindu. Padahal dari sisi ekonomi nilainya sangat besar. Bisa mencapai jutaan Rupe per tahunnya. Loyalitas kepada Hindu lebih nampak lagi tatkala Sultan Akbar tidak mau mencampurkan bawang merah dan putih pada makanan. Dan tidak lagi memakan daging sapi dan melarang sapi disembelih.

Pada tahun 983 H/1575 M, Sultan Akbar mendirikan sebuah lembaga yang ia namai dengan Dar al-Ibadah. Ini menjadi tempat dialog antar agama. Berkumpulah di dalamnya ahli fikih dan ulama dari kalangan Sunni dan Syiah. Demikian juga dari kalangan Hindu, Nasrani, Zoroaster, Brahmanisme, dan Yahudi. Semua bergabung di lembaga tersebut. Ia memerintahkan menterinya untuk menerjemahkan Injil ke Bahasa Persia. Dan juga berjanji kepada beberapa ulama untuk menerjemahkan beberapa buku induk yang berbahasa Sansekerta ke Bahasa Persia.

Pada Jumadal Ula tahun 987 H/1579 M, Sultan Akbar memasuki fase baru lagi dalam spiritualitasnya. Suatu hari ia mengimami shalat di Masjid Jami’ Fath Pursayakre al-Kabir (Arab: فتح بورسيكرى الكبير), seusai shalat ia berteriak “Allahu Akbar!” Ia umumkan dirinya memiliki unsur ketuhanan. Bahwa dirinya adalah seorang yang terjaga dari kesalahan, baik dalam pemikiran dan ucapan. Ia serukan kepada semua orang untuk mengikuti apa yang ia perintahkan. Bagi mereka yang berani membangkang, maka akan disitia semua harta mereka. Saat itulah secara resmi ia mengumumkan membuat agama baru yaitu Din Ilahi.

Din Ilahi adalah agama yang mencampurkan ajaran Islam, sufi ekstrim, Hindu, dan Zoroaster. Terdapat keyakinan Tasawuf seperti menitisnya Dzat Allah pada makhluknya yaitu Akbar. Dialah wujud Allah di bumi. Siapa yang menaatinya, sama saja telah menaati Allah. Siapa yang tidak taat padanya, dia akan rugi dunia dan akhirat. Sejak tahun tersebut, ia berhenti berziarah ke makam-makam syaikh Sufi yang biasa ia jadikan haul tahunan. Ia juga tak lagi mengirim harta kepada orang-orang miskin di tempat-tempat suci di Jazirah Arab. Padahal sebelumnya hal itu biasa ia lakukan setiap tahun.

Ajaran Din Ilahi juga mengadopsi keyakinan-keyakinan seperti menyembah matahari saat ia terbit. Memuliakan api. Mengingkari adanya jin, malaikat, hari kebangkitan, dan peritiwa gaib lainnya. Mengikari mukjizat dan kenabian. Adanya seruan untuk meninggalkan Islam. Karena Islam adalah untuk orang-orang Arab yang miskin dan lemah. Usaha untuk mengganti lafadz syahadat (laa ilaaha illallaah, Muhammadur Rasulullah) dengan laa ilaaha illallaah Akbar khalifatullah. Akbar juga bersujud kepada matahari dan api di Hari Nairuz, setiap tahunnya. Ia juga melarang poligami. Berusaha mengganti kalender hijriyah yang berlaku saat itu di kerajaan, dan diganti dengan kalender baru. Penanggalan yang dimulai saat ia naik tahta. Penanggalan ini dinamakan kalender Ilahi. Ia meremehkan ilmu Bahasa Arab, fikih, dan cabang-cabang ilmu agama lainnya. Ia melarang menyembelih sapi karena meyakini kesuciannya. Sebagaimana keyakinan orang-orang Hindu. Ia tak lagi berpuasa di bulan Ramadhan. Ia hanya mencukupkan diri dengan shalat dua rakaat di hari Idul Fitri. Kemudian mebagi-bagikan sedekah. Dan membebaskan budak. Hal ini sebagai penggganti amalan puasa satu bulan yang ia tinggalkan.

Pada masanya juga tersebar gerakan kristenisasi yang dilakukan oleh Portugal. Dikirimlah para misionaris ke rumah-rumah kaum muslimin. Mengetahui hal ini, bukannya mencegah, Akbar malah meminta agar para pendeta Nasrani itu dikirim juga ke Kota Goa. Menjelaskan asas dan filsafat Nasrani kepada penduduk di sana. Pada tahun 988 H/1580, para pendeta pun didatangkan. Dan mereka mendapat sambutan hangat dari Akbar. Ia bangunkan untuk mereka gereja di Kota Agra. Tidak hanya itu, ia kirim anaknya, Murad, untuk membantu para pendeta memahamkan akidah Nasrani kepada anak-anak.

Pada tahun 1011 H/1602 M, berdirilah gereja pertama di Agra. Selanjutnya para pendeta dibebaskan untuk mendakawahkan ajaran Nasrani di seantero negeri. Untuk mendukung hal ini, Akbar membuatkan dekrit, agar dakwah Nasrani tidak terhalangi dan rakyat yang hendak memeluk agama ini juga merasa aman terlindungi.

Melihat kerusakan yang dilakukan Akbar, masyarakat di Mughal tidak tinggal diam. Di beberapa wilayah, mulai terjadi pemberontakan menentang dirinya. Seperti di wilayah Kabul. Sebuah wilayah Islam yang dipimpin oleh seorang hakim yang beragama Hindu. Ini untuk kali pertama wilayah Islam dipimpin oleh seorang Hindu. Di antara tokoh yang paling vocal menentang Din Ilahi ini adalah Syaikh Ahmad as-Sarhindi, Syaikh Abdullah as-Salfanayuri, dan Syaikh Abdun Nabi al-Gangguhi.

Wafatnya Akbar

Akbar wafat pada 30 Jumadal Ula 1014 H/13 Tasyrinul Awwal 1605 M akibat Diare yang parah. Tubuhnya semakin lemah dan tak ada dokter yang mampu mengobatinya. Ia dimakamkan di pemakaman yang ia bangun sendiri di Kota Agra.

Seiring dengan wafatnya Akbar, ajarannya pun menghilang.

Pelajaran:

Pertama: Terkadang Allah menguji manusia dengan dunia. Apakah diberikan kepalapangan dunia akan membuat seseorang melupakan Allah atau semakin mengingatnya. Banyak orang yang gagal dalam ujian ini, baik individu maupun masyarakat. Allah menguji masyarakat Mughal dan pembaca sejarah Mughal dengan kehadiran Sultan Akbar. Seorang yang sukses memimpin secara duniawi. Namun sangat sesat pemikirannya. Apakah orang-orang akan objektif menilainya? Ataukah malah terpedaya dengan prestasinya?

Kedua: Seseorang wajib meminta istiqomah kepada Allah. Karena hati itu mudah sekali berpaling. Sebagaimana Akbar, di usia muda dia seoarang yang taat. Namun kemudian menyimpang dengan penyimpangan yang jauh.

Ketiga: Teman dan sekutu memberikan pengaruh besar dalam pemikiran.

Keempat: Kesesatan itu bertahap dan bertingkat. Awalnya Akbar menuduh Islam untuk orang Arab saja. Karena mereka bodoh. Kemudian mengembangkan ajaran toleransi yang tanpa batas. Sampai akhirnya ia membuat agama dan mengaku Allah menyatu dalam dirinya.

Kelima: Sejak dulu, penolak syariat Islam menipu masyarakat dengan dalih menjaga budaya lokal.

Keenam: Pemikiran liberalisasi ajaran Islam sudah lama terjadi.

Sumber:
– https://islamstory.com/ar/artical/21424/جودا-اكبر-بين-السينما-والتاريخ

Oleh Nurfitri Hadi (IG: @nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com



Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *