/Sepupu Nabi, Durrah binti Abu Lahab – Cerita kisah cinta penggugah jiwa

Sepupu Nabi, Durrah binti Abu Lahab – Cerita kisah cinta penggugah jiwa

Sepupu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memeluk Islam tidak hanya Ali bin Abu Thalib atau Abdullah bin Abbas saja. Atau sepupu beliau hanyalah laki-laki termasuk Utbah dan Mu’attab. Tapi ada juga Durrah binti Abu Lahab radhiallahu ‘anha. Seorang wanita dari ahlul bait Nabi. Durrah memeluk Islam saat di Mekah. Kemudian ia turut hijrah ke Madinah dan menikah dengan Zaid bin Haritsah, anak angkat Nabi. Meskipun kemudian bercerai.

Seorang wanita di Madinah berkata pada Durrah, “Engkau adalah putri dari Abu Lahab? Yang Allah Azza wa Jalla berfirman tentangnya,

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ، مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.” [Quran Al-Masad: 2].

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membelanya di hadapan kaum muslimin. Meninggikan kedudukannya dari orang yang berbuat buruk padanya. Membuatnya tenang dari hal-hal yang menggelisahkannya. Semoga Allah meridhainya dan meridhai semua ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nasab dan Masa Pertumbuhannya

Nama dan nasabnya adalah Durrah binti Abu Lahab Abdul Uzza bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 8/40).

Ibunya adalah saudari dari Abu Sufyan bin Harb (Asad al-Ghabah, 3/562. Cet. Darul Alamiyah). Namanya Fakhitah atau yang lebih dikenal dengan Ummu Jamil. Di dalam Alquran Allah menyebut ibunya dengan wanita pembawa kayu bakar.

Durrah memiliki tiga orang saudara laki-laki se-ibu dan sebapak. Mereka adalah Utbah, Utaibah, dan Mu’attab. Walaupun ayahnya, Abu Lahab, termasuk orang yang paling keras memusuhi Islam. Sampai namanya abadi sebagai seorang antagonis dalam Alquran. Namun semua anaknya memeluk Islam kecuali Utaibah. Utaibah merasakan mustajabnya doa Rasulullah karena keburukannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,

اللَّهُمَّ سَلِّطْ عَلَيْهِ كَلْبًا مِنْ كِلَابِكَ

“Ya Allah, kuasakan atasnya anjing di antara anjing-anjing-Mu.” (HR. al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra 10346, al-Hakim dalam al-Mustadrak 3984, Abu Nu’aim dalam Ma’rifatu ash-Shahabah 6926, dan Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari 4/84. Menurut Ibnu Hajar riwayat ini hasan).

Doa nabi ini dikarenakan kelakuan Utaibah yang keterlaluan saat mencerai putri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ummu Kultsum. Berbeda dengan Utbah yang hanya mencerai Ruqayyah karena perintah dua orang tuanya, Utaibah tidak mencukupkan diri hanya dengan mencerai. Setelah mencerai putri Nabi, Utaibah mendatangi beliau, mencaci maki dan menghina beliau dengan hinaan yang keterlaluan. Kemudian ia juga merobek baju beliau. Nabi pun mendoakannya dengan doa di atas. Saat ia bersafar dalam rangka berdagang ke Syam. Ia diterkam seekor singa sewaktu sedang tertidur. Abu Lahab berusaha melindunginya kemarahan singa itu. Namun pengaruh keterkabulan doa Nabi begitu kuat. Ia pun tewas diterkam singa.

Saudaranya, Utbah dan Mu’attab radhiallahu ‘anhuma memeluk Islam saat Fathu Mekah. Dan keduanya bergabung bersama Rasulullah dalam Perang Hunain dan Thaif. Kemudian keduanya menetap di Mekah hingga wafat.

Durrah memiliki kemampuan istimewa, ia pandai menggubah syair. Ia membuat bait-bait syair tentang Perang Fijar. 

Kedudukan Durrah di Sisi Rasulullah

Durrah adalah salah seorang wanita ahlul bait Nabi. Ahlul bait adalah semua keuturunan Hasyim, istri-istri Nabi, dan anak-anak beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Statusnya sebagai putri dari Abu Lahab, seseorang yang dicela Allah dalam Alquran dengan firman-Nya,

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ، مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.” [Quran Al-Masad: 1-2].

Sama sekali tidak mengurangi kedudukannya. Allah Ta’ala berfirman,

مَنِ اهْتَدَى فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain…” [Quran Al-Isra: 15].

Selain memiliki keutamaan sebagai keluarga Nabi, Durrah radhiallahu ‘anha juga memiliki keutamaan lain. Ia termasuk wanita yang berhijrah. Artinya ia seorang muhajirin, memilki keutamaan sebagai generasi awal yang memeluk Islam. Dengan demikian beliau menggabungkan beberapa keutamaan. Seorang ahlul bait, generasi awal yang memeluk Islam, dan muhajirin. 

Suami dan Anak-Anaknya

Sebelum memeluk Islam, Durrah radhiallahu ‘anha menikah dengan al-Harits bin Amir bin Naufal bin Abdu Manaf bin Qushay. Keduanya dikarunia keturunan yang bernama al-Walid, Abu al-Hasan, dan Muslim (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra 8/40, Abu Nu’aim dalam Ma’rifatu ash-Shahabah 6/3324 Cet. Darul Wathan li an-Nasyr, Riyadh). Kemudian suaminya tewas di Perang Badar di pihak orang-orang kafir (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra 8/40).

Setelah itu, Durrah menikah dengan sahabat yang mulia yang Malaikat Jibril kalau datang dalam wujud manusia menyerupai fisiknya, yaitu Dihyah bin Khalifah al-Kalbi radhiallahu ‘anhu (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra 8/40). Berikutnya ia menikah dengan Zaid bin Haritsah. Namun kemudian Zaid menceraikannya (Ibnu Saad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 3/33)

Diriwayatkan bahwa Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu juga pernah melamarnya (Jamaluddin al-Mizzi dalam Tadzhib al-Kamal, 1/201).

Hijranya ke Madinah

Hijrah dari Mekah ke Madinah adalah amalan agung. Mengapa? Karena amalan tersebut sulit mengorbankan banyak hal. Jarak tempuhnya 450-an Km. Meninggalkan semua harta, keluarga, kerabat, teman, mata pencarian, rumah, serta kampung halaman tempat kelahiran. Berat. Terlebih bagi seorang perempuan, jarak tempuh sejauh itu dengan medan padang pasir yang terik, bukanlah hal mudah. Tapi tetap mereka lakukan agar kehidupan ini memiliki nilai manfaat di akhirat. 

Dari Abu Hurairah dan Ammar bin Yasir semoga Allah meridhai keduanya, keduanya berkata, “Saat Durrah binti Abu Lahan tiba di Maidnah, ia tinggal di rumah Rafi’ bin al-Ma’la az-Zarqa. Para wanita dari Bani Zarqa ini berkata, ‘Kamu putrinya Abu Lahab yang Allah Azza wa Jalla berfirman tentanganya,

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ، مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.” [Quran Al-Masad: 1-2].

Tidak bermanfaat hijrahmu ini’. Ketus mereka. 

Durrah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ia mengadukan pada beliau tentang apa yang mereka katakana. Nabi berkata, “Duduklah.” Kemudian beliau mengimami orang-orang mengerjakan shalat zuhur. Setelah itu beliau duduk di mimbar dan berkata, 

أَيُّهَا النَّاسُ، مَالِي أُوذَى فِي أَهْلِي؟ فَوَاللَّهِ إِنَّ شَفَاعَتِي لَتُنَالُ بِقَرَابَتِي …

“Khalayak sekalian. Mengapa aku disakiti dengan diganggunya keluargaku? Demi Allah, sesungguhnya syafaatku akan sampai pada kerabatku…” (HR. ath-Thabarani dalam Mu’jam al-Kabir 20681).

Inilah salah seorang sepupu, ahlul bait Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau dan kepada semua anggota keluarganya.

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

Artikel www.KisahMuslim.com

Sumber