Siapakah Ash-Shiddiquun?

Di antara empat golongan yang Allah Ta’ala sebutkan dalam ayat di atas adalah ash-shiddiquun. Siapakah mereka?

Tunjukilah Kami ke Jalan yang Lurus

Setiap hari, kita berdoa kepada Allah Ta’ala,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ؛ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah [1]: 6-7)

Lalu, siapakah orang-orang yang telah Allah Ta’ala beri nikmat tersebut, sehingga kita sangat ingin diberi hidayah agar mengikuti jalan mereka?

Orang-orang yang telah Allah Ta’ala beri nikmat tersebut Allah Ta’ala sebutkan di firman Allah Ta’ala yang lain,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu  para nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang salih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 69)

Baca Juga: Tafsir Ayat “Agar Allah Mengetahui Orang Yang Jujur Dan Yang Dusta”

Lalu, Siapakah Ash-Shiddiquun?

Di antara empat golongan yang Allah Ta’ala sebutkan dalam ayat di atas adalah ash-shiddiquun. Siapakah mereka? Tafsir atau penjelasan terbaik tentang siapakah ash-shiddiquun ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zumar [39]: 33)

Dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan,

{وَاَلَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ} هُوَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {وَصَدَّقَ بِهِ} هُمْ الْمُؤْمِنُونَ

“Dan orang yang membawa kebenaran” maksudnya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Dan orang yang membenarkannya” maksudnya adalah orang-orang yang beriman.” 

Juga ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ أُولَئِكَ هُمُ الصِّدِّيقُونَ

“Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itulah orang-orang shiddiqin.” (QS. Al-Hadiid [57]: 19)

Ketika menjelaskan makna “ash-shiddiquun”, dalam Tafsir Al-Jalalain disebutkan,

الْمُبَالِغُونَ فِي التَّصْدِيق

“Yaitu yang sangat membenarkan.”

Dari ayat-ayat tersebut, kita ketahui bahwa ash-shiddiquun adalah orang yang benar-benar merealisasikan iman dari dalam hatinya. Dan mewujudkan iman tidaklah mungkin terjadi kecuali dengan bersikap jujur (ash-shidqu) dan membenarkan (at-tashdiiq) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Baca Juga: Penuntut Ilmu Harus Memiliki Sifat Jujur dan Amanah

Jujur dalam Aqidah, Perkataan dan Perbuatan

Jujur berkaitan dengan aqidah adalah dengan merealisasikan keikhlasan. Dan perkara ini merupakan perkara yang sangat sulit. Sampai-sampai sebagian ulama salaf mengatakan,

ما جاهدت نفسي على شيئ مجاهدتها على الإخلاص

“Aku tidaklah berjuang untuk diriku sendiri melawan sesuatu yang lebih berat daripada mewujudkan ikhlas.” 

Maksudnya, perjuangan mewujudkan keikhlasan adalah perjuangan yang paling berat. 

Jujur berkaitan dengan perkataan adalah dengan berkata-kata (berucap) yang sesuai dengan realita (fakta) senyatanya, baik ucapan itu terkait dengan dirinya sendiri atau terkait dengan orang lain. 

Jujur berkaitan dengan perbuatan adalah dengan menyesuaikan amal ibadahnya dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan termasuk jujurnya perbuatan adalah amal tersebut bersumber dari keikhlasan. Jika bukan karena ikhlas, maka bukanlah amal yang jujur. 

Baca Juga: Sulitnya Mencari Orang yang Jujur

Ash-shiddiquun adalah Martabat yang Bisa Diraih Oleh Laki-Laki dan Perempuan

Di antara umat ini, ash-shiddiquun yang paling utama adalah sahabat Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Karena umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling utama -setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Ash-shiddiquun adalah martabat (kedudukan) yang bisa diraih baik oleh kaum laki-laki ataupun perempuan. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Isa ‘alaihis salaam,

مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ

“Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul. Sesungguhnya, telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya adalah ash-shddiqah.(QS. Al-Maidah [5]: 75)

Oleh karena itu, ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq (karena ayah beliau adalah Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu). Dan tentu saja, Allah Ta’ala memberikan keutamaan kepada siapa saja di antara hamba-Nya sebagaimana yang Allah Ta’ala kehendaki. 

Baca Juga:

[Selesai]

***

@Rumah Lendah, 1 Jumadil akhir 1441/ 26 Januari 2020

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel: Muslim.or.id

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hal. 100-101 (cetakan ke empat tahun 1427, penerbit Daar Ibnul Jauzi KSA).

 

Sahabat muslim, yuk berdakwah bersama kami. Untuk informasi lebih lanjut silakan klik disini. Jazakallahu khaira

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *