Surat Al Ashr beserta Artinya, Tafsir dan Asbabun Nuzul

Surat Al Ashr


Surat Al Ashr (العصر) adalah surat ke-105
dalam Al Quran. Berikut ini terjemahan, asbabun nuzul, dan tafsir Surat Al Ashr.

Surat ini terdiri dari tiga ayat dan merupakan Surat Makkiyah.
Ia merupakan surat ke-13 yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam. Yakni setelah surat Al Insyirah, sebelum surat Al Adiyat.

Dinamakan surat Al Ashr yang berarti masa.
Diambil dari ayat pertama dalam surat ini. Yakni Allah bersumpah demi masa.

Surat Al Ashr dan Artinya

Berikut ini Surat Al Ashr dalam tulisan Arab, tulisan
latin dan artinya dalam bahasa Indonesia:

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ
آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا
بِالصَّبْرِ

(Wal ‘ashr. Innal insaana lafii khusr. Illal ladziina
aamanuu wa’amilush shoolihaati watawaashou bilhaqqi watawaashou bish shobr)

Artinya:
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Asbabun Nuzul dan Keutamaan

Syaikh Muhammad Abduh menjelaskan, orang Arab jahiliyah
biasa bersantai di waktu Ashar. Mereka bercengkerama dan bercanda, hingga
saling menyinggung dan akhirnya terjadi perselisihan dan permusuhan. Mereka pun
mengutuk waktu ashar. Maka Allah menurunkan surat ini untuk memberikan
peringatan, bukan waktu ashar yang salah tetapi merekalah yang salah. Manusia
akan berada dalam kerugian selama tidak memenuhi empat kriteria dalam surat
ini.

Surat Al Ashr memiliki beberapa keutamaan. Di antaranya
adalah, ia biasa dibaca oleh sahabat di akhir majelis. Ia juga merangkum kunci
keselamatan sehingga bisa mewakili isi Al Quran.

Imam Thabrani meriwayatkan dari Ubaidillah bin Hafsh, dia
berkata, “Ada dua sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika bertemu mereka
tidak akan berpisah melainkan salah satu dari mereka berdua membaca Surat Al
Ashr terlebih dahulu, lantas mengucapkan salam.”

Imam Baihaqi juga meriwayatkan yang serupa dari Abu
Hudzaifah.

Syaikh Amru Khalid dalam Khawatir Qur’aniyah mengutip
perkataan Imam Syafi’i: “Seandainya Al Quran tidak turun kecuali surat Al Ashr
ini, maka sudah mencukupi manusia.”

Syaikh Adil Muhammad Khalil dalam Awwal Marrah at-Tadabbar
al-Qur’an
menyebutkan bahwa Imam Syafi’i mengatakan, “Sekiranya Allah
Subhanahu wa Ta’ala tidak menurunkan hujjah kepada hamba-Nya selain surat ini,
niscaya surat ini telah mencukupi.”

Sedangkan Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsir Al Munir
menyebutkan bahwa Imam Syafi’i mengatakan, “Seandainya manusia memikirkan surat
ini, pastilah surat ini cukup bagi mereka.”

Tafsir Surat Al Ashr

Tafsir surat Al Ashr ini kami sarikan dari Tafsir Ibnu
Katsir
, Tafsir Fi Zhilalil Quran, Tafsir Al Azhar, Tafsir
Al Munir
dan Tafsir Al Misbah. Ia bukan tafsir baru melainkan ringkasan
kompilasi dari tafsir-tafsir tersebut. Juga ditambah dengan referensi lain
seperti Awwal Marrah at-Tadabbar al-Qur’an dan Khawatir Qur’aniyah.

Secara umum, surat ini menunjukkan urgensi waktu. Surat
ini berisi penegasan bahwa semua orang akan merugi kecuali orang-orang yang
beriman dan beramal shalih serta saling menasehati agar menetapi kebenaran dan
kesabaran.

Surat Al Ashr ayat 1

وَالْعَصْرِ

Demi masa.

Para ulama sepakat ‘ashr (عصر)
artinya adalah masa atau waktu. Namun penafsiran waktu yang dimaksud dalam ayat
ini ada beberapa pendapat. Pertama, masa atau waktu secara umum. Kedua,
waktu ashar. Ketiga, masa hidupnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam.

Pendapat yang paling kuat adalah waktu secara umum. Allah
bersumpah dengan waktu, menunjukkan betapa pentingnya waktu bagi manusia. Ali
bin Abi Thalib mengatakan, “Rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat
diharapkan lebih dari itu esok hari. Tetapi waktu yang berlalu hari ini tidak
mungkin diharapkan kembali esok.”

Allah bersumpah dengan waktu juga menunjukkan kemuliaan
waktu. Jika orang-orang Arab jahiliyah meyakini ada waktu sial dan sebagainya,
Rasulullah mengingatkan untuk tidak mencela waktu.

لاَ
تَسُبُّوا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الدَّهْرُ

Jangan mencela waktu, karena sesungguhnya Allah adalah
pemilik waktu.
(HR. Muslim)

Sedangkan al ashr yang ditafsirkan waktu ashar, ia
juga memiliki korelasi kuat dengan isi surat ini. Di antara kebiasaan
orang-orang musyrikin Makkah, mereka menggunakan waktu ashar untuk bersantai
sambil menghitung untung rugi perdagangannya. Dalam surat ini, Allah bersumpah
dengan al ashr bukan untuk menghitung untung rugi dunia yang sementara tetapi
untung rugi di akhirat yang abadi.

Surat Al Ashr ayat 2

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

Kata al insan (الإنسان)
berbentuk makrifat menunjuk pada keseluruhan manusia. Baik mukmin maupun
kafir. Meskipun demikian, ia hanya mencakup mukallaf (mendapat beban perintah
agama). Sedangkan yang tidak mukallaf, misalnya anak kecil yang belum baligh,
tidak masuk dalam ayat ini.

Kata lafii (لفي)
merupakan gabungan dari huruf lam (ل)
yang menyiratkan makna sumpah dan huruf fii (في)
yang mengandung makna tempat atau wadah. Dengan demikian, semua
manusia berada dalam wadah khusr.

Kata khusr (خسر)
memiliki banyak arti. Di antaranya adalah rugi, sesat dan celaka yang semuanya
mengarah pada hal negatif yang tidak disukai manusia. Khusr pada ayat
ini menggunakan bentuk nakirah sehingga maknanya adalah kerugian yang
besar dan beraneka ragam.

Karenanya ketika menafsirkan ayat ini, Syaikh Wahbah Az
Zuhaili menuliskan, “Sesungguhnya seluruh manusia itu pastilah berada dalam
kerugian, kekurangan dan kehancuran, kecuali orang-orang yang mengumpulkan
antara iman kepada Allah dan beramal shalih.”

Surat Al Ashr ayat 3

إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا
بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati
supaya menetapi kesabaran.

Ayat ini mengecualikan insan pada ayat sebelumnya.
Bahwa insan yang tidak berada dalam kerugian adalah mereka yang memiliki empat
kriteria; iman, amal shalih, saling menasehati tentang kebenaran dan saling
menasehati tentang kesabaran.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa agama ini terdiri dari
pengetahuan dan pengamalan. Keyakinan dan perbuatan. Iman adalah pengetahuan
dan keyakinan. Amal shalih adalah pengamalan dan perbuatan. Sedang saling
menasehati dalam kebenaran dan kesabaran adalah dakwah yang merupakan bentuk
amal shalih agar orang lain juga beriman dan beramal shalih.

Ayat ini menggunakan bentuk jamak, mengisyaratkan pentingnya
beramal jamai dan berjamaah. Untuk bisa selamat dari kerugian, manusia harus
berjamaah. Beramal jamai bersama orang-orang mukmin dan berdakwah bersama.

Kata tawashau (تواصوا)
berasal dari kata washa (وصى) yang artinya menyuruh
berbuat baik
. Kata al haq (الحق)
artinya adalah sesuatu yang mantap dan tidak berubah. Yakni ajaran agama
atau kebenaran. Sedangkan sabar (صبر)
artinya adalah menahan nafsu demi mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik.

Ar Razi mengatakan, “Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran
itu berat. Kebenaran akan senantiasa diuji. Oleh karena itu, penyebutan
kebenaran disertai dengan penyebutan saling menasehati.”

Penutup Tafsir Surat Al Ashr

Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zilalil Qur’an
menyebutkan, dalam surat pendek yang hanya terdiri dari tiga ayat ini tercermin
manhaj yang lengkap bagi kehidupa manusia sebagaimana yang dikehendaki Islam.
Surat ini juga mengidentifitasi umat Islam dengan hakikat dan aktifitasnya
dalam sebuah paparan singkat yang tidak mungkin dapat dilakukan selain Allah.

Manhaj itu adalah iman, amal shalih, saling menasehati untuk mentaati kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran. Semua orang merugi kecuali orang yang memiliki empat kriteria ini.

Demikian Surat Al Ashr mulai dari terjemahan, asbabun nuzul, hingga tafsir. Semoga kita bisa masuk dalam manhaj surat ini sehingga terhindar dari kerugian besar di akhirat nanti. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

Tafsir berikutnya: SURAT AL HUMAZAH

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *