Tiga Karomah Umar bin Abdul Aziz

karomah umar bin abdul aziz
ilustrasi kemenangan (Pinterest)


Umar bin Abdul Aziz adalah pemimpin yang adil dan
bertaqwa. Karena keadilan dan ketaqwaannya, Allah memberikan karomah Umar bin
Abdul Aziz yang sulit ditemukan pada pemimpin setelahnya.

Banyak ulama menggelari Umar bin Abdul Aziz sebagai
khulafaur rasyidin kelima. Syaikh Khalid Muhammad Khalid, misalnya. Syaikh Ali
Muhammad Ash Shalabi bahkan memberikan judul untuk bukunya Al Khalifah Ar
Rasyid wa Al Mushlih al Kabir
Umar bin Abdul Aziz.

Ketaqwaannya digambarkan oleh istri tercinta, Fatimah bin
Abdul Malik. “Umar bin Abdul Aziz memang bukan orang yang paling banyak shalat
dan puasanya dibandingkan kalian. Namun demi Allah, aku tidak pernah melihat
sama sekali ada hamba Allah yang lebih takut kepada Allah dari dirinya.”

Syaikh Ahmad Farid dalam bukunya Min A’lam As Salaf
mengisahkan, Umar bin Abdul Aziz memanfaatkan waktu malam dengan banyak
bersujud dan menangis. Ia sering menangis hingga tertidur lalu ketika terbangun
kembali menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Masyarakat Berubah Jadi Bertaqwa

Sejak hari pertama diangkat menjadi khalifah, Umar bin
Abdul Aziz langsung menggebrak tradisi Bani Umayyah. Ia memproklamirkan kepada
dunia dengan tindakan nyata. Umar menginfakkan hartanya ke Baitul Mal. Terutama
yang ia peroleh dari pemerintahan sebelumnya.

Bahkan perhiasan istrinya juga dimasukkan ke Baitul Mal. Ia
tak mau tercampur syubhat. Ia mengambil jalan zuhud. Ia ingin memimpin dengan
ketaqwaan. Ia memberikan keteladanan agar rakyatnya kepada komitmen dengan
syariat Islam.

Seiring berjalannya waktu dan pergantian bulan,
masyarakat berubah drastis. Pembicaraan di masyarakat yang awalnya didominasi
materi dan dunia, kini berubah menjadi nasehat dan pengingat akhirat.

Imam Ath Thabari menjelaskan, jika pada era Walid bin
Abdul Malik pembicaraan hanya seputar pembangunan dan pekerjaan. Pada era
Sulaiman bin Abdul Malik pembicaraan hanya seputar makanan dan wanita. Pada
masa Umar bin Abdul Aziz, ketika seseorang bertemu temannya, yang diperbincangkan
adalah ibadah dan dakwah.

“Bagaimana sholat tahajud kamu tadi malam?”
“Berapa ayat yang kamu hafal hari ini?”
“Kapan targetmu selesai menghafal 30 juz?”

Demikian contoh pertanyaan sesama muslim di masa pemerintahan
Umar bin Abdul Aziz yang digambarkan Imam Ath Thabari dalam Tarikh-nya. Ini
karomah Umar bin Abdul Aziz yang pertama. Masyarakat berubah menjadi bertaqwa.

Keberkahan dan Kesejahteraan

Jika pemimpin adil, maka rakyat akan sejahtera. Demikian
salah satu adagium kepemimpinan. Sebab sejatinya, pemimpin diperlukan untuk
memastikan hak-hak rakyat terpenuhi dan rakyat tidak saling menzalimi. Namun
seringkali justru penguasa yang menzalimi rakyatnya. Akibatnya, mereka yang
dekat dengan kekuasaan mendapat banyak kekayaan, sedangkan rakyat jelata miskin
dan menderita.

Para pemimpin Islam berhasil meningkatkan kesejahteraan
rakyatnya. Sejak masa Rasulullah dan khulafaur rasyidin. Bahkan di masa pemerintah
Walid dan Sulaiman. Banyak yang sejahtera. Tapi banyak juga angka kemiskinan.

Namun kesejahteraan di masa Umar bin Abdul Aziz sungguh
spektakuler. Syaikh Ali Muhammad Ash Shalabi menuliskan, seluruh wilayah di
bawah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz sejahtera dan bahagia. Hingga sulit
menemukan orang yang berhak menerima zakat.

“Para hartawan dan orang-orang kaya di masa itu merasa
kesulitan untuk menyalurkan harta yang wajib mereka keluarkan,” terang Ash
Shalabi.

Yahya bin Said pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk membagikan
sedekah di Afrika. “Setelah berkeliling di seluruh pelosok daerah, aku tidak
bisa menemukan mereka. Aku tak bisa membagikan sedekah di sana, karena Umar bin
Abdul Aziz telah membuat semua masyarakat berkecukupan.”

Akhirnya uang sedekah itu digunakan Yahya untuk membeli
budak lalu mereka dimerdekakan.

“Umar bin Abdul Aziz hanya menjabat sebagai khalifah
selama 30 bulan,” kata keturunan Zaid bin Khattab. “Namun hasil kepemimpinannya
luar biasa. Hingga ketika seseorang mau menginfakkan uangnya, ia kesulitan
menemukan orang yang mau menerima infaqnya.”

Demikianlah karomah Umar bin Abdul Aziz yang kedua.
Keberkahan luar biasa membuat masyarakat sejahtera hanya dalam 2,5 tahun masa
kepemimpinannya.

Kerukunan dan Harmoni Alam

Karomah Umar bin Abdul Aziz ketiga ini mungkin paling
menakjubkan. Tak hanya sejahtera secara ekonomi, masyarakat juga hidup dalam
kedamaian. Bahkan binatang yang semula saling makan pun bisa hidup harmoni di
alam.

Syaikh Dr Ali Muhammad Ash Shalabi mengisahkan, Husein Al
Qishar heran saat mendapati penggembala menggunakan serigala untuk menggiring
kambing-kambingnya.

Awalnya ia berpikir serigala-serigala itu adalah anjing.

“Wahai penggembala, mengapa banyak sekali anjing-anjing
yang kamu gunakan?” tanya penarik zakat kambing itu.

“Itu bukan anjing. Itu adalah serigala.”

“Subhanallah.. serigala berkumpul dengan kambing namun
tidak membahayakannya.”

“Wahai kisanak,” kata penggembala itu. “Ketahuilah bahwa
jika kepala sudah baik, maka seluruh tubuh tidak perlu dikhawatirkan.”

Husein Al Qishar kini mengerti, ini adalah salah satu
karamah Umar bin Abdul Aziz. Keadilannya membawa kesejahteraan dan kedamaian.
Bahkan serigala tidak memangsa kambing-kambing yang dijaganya. Ini tak pernah
terjadi bahkan di masa Sahabat Nabi.

Hingga suatu hari, terlihat serigala memangsa kambing yang dijaganya. Membuat panik penggembala. Penggembala bersedih, tapi ulama yang mengetahui itu lebih bersedih. “Ini tanda bahwa hari ini Umar bin Abdul Aziz telah wafat. Pemimpin yang adil itu telah meninggalkan kita semua.” [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *