Ummu Ruman, Ibunda Ummul Mukminin Aisyah – Cerita kisah cinta penggugah jiwa

Di antara wanita istimewa di masa awal Islam adalah Ummu Ruman radhiallahu ‘anha. Ia merupakan istri dari manusia terbaik setelah para nabi, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Dan ibu dari wanita yang paling dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aisyah binti Abu Bakar radhiallahu ‘anha.

Nasabnya

Nasabnya adalah Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Abdusy Symas bin ‘Itab. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan sejarawan tentang nasabnya. Namun mereka sepakat bahwa ia berasal dari Bani Ghanam bin Malik bin Kinanah (Tadzhib al-Kamal: Juz 35, Hal: 359).

Memeluk Islam

Ummu Ruman memeluk Islam saat di Mekah. Ia termasuk kelompok awal yang memeluk Islam (ath-Thabaqat al-Kubra: Juz 8, Hal: 276).

Ummu Ruman tumbuh besar di sebuah daerah di Jazirah Arab. Tepatnya di daerah as-Sarrah. Sejak zaman jahiliyah, ia dikenal sebagai seorang wanita yang memiliki adab mulia dan fasih bahasanya. Sebelum menikah dengan Abu Bakar, ia menikah dengan seorang pemuda yang mulia. Bahkan tokoh di tengah kaumnya. Namanya al-Harits bin Sakhirah al-Azdi. Darinya ia melahirakan seorang anak yang bernama ath-Thufail. Suaminya sangat ingin tinggal di Mekah. Ibu kota bangsa Arab. Dan kota suci yang telah dikenal sejak zaman nenek moyang mereka Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Mereka pun memutuskan untuk mukim di kota mulia itu.

Saat di Mekah, al-Harits bin Sakhirah menjalin kedekatan dengan Abu Bakar. Dan Abu Bakar menjadi sekutunya di sana. Tak lama setelah al-Harits wafat, Abu Bakar menikahi Ummu Ruman sebagai bentuk penghormatan terhadap sahabatnya itu. Karena dengan pernikahan itulah, istri sahabatnya ini ada yang menanggung dan melindungi.

Di masa Kota Mekah kental dengan jahiliyah dan kesyirikan, saat itulah dakwah Islam yang mengajarkan monotheisme muncul. Dakwah itu dibawa oleh seseorang yang merupakan sahabat Abu Bakar. Seorang pemuda bangsawan yang dikenal dengan akhlak yang mulia. Dialah Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. karena kedekatannya dnegan Muhammad bin Abdullah, tak menunggu lama bagi Abu Bakar untuk menerima dakwahnya. Ketika sang suami menerima dakwah tauhid ini, sang istri, Ummu Ruman, pun mengikuti suaminya. Ia segera mengucapkan syahadat setelah sang suami. Kemudian Ummu Ruman berbaiat kepada Nabi dan turut berhijrah ke Madinah.

Dari pernikahannya dengan Abu Bakar ash-Shiddiq, Ummu Ruman melahirkan dua orang anak. Seorang perempuan dan seorang laki-laki. Yang perempuan dinamai Aisyah dan yang laki-laki diberi nama Abdurrahman.

Ummu Ruman patut berbangga dengan keluarganya ini. Selain sang putri yang menjadi istri Rasulullah. Sang suami pun adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah. Kedekatan tersebut terlihat dari kebiasaan Rasulullah yang sering berkunjung ke rumah Abu Bakar. Setiap hari pasti Nabi berkunjung ke rumahnya. Di pagi atau di sore hari.

Bersama Rasulullah dan Aisyah

Ummu Ruman radhiallahu ‘anha adalah wanita yang paling berbahagia. Bagaimana tidak, manusia terbaik dalam sejarah manusia meminang putrinya. Rasul paling utama dari semua rasul menjadi menantunya. Namanya tercatat dalam kisah pernikahan Nabi dengan Aisyah.

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Nabi menikahiku saat aku berusia enam tahun. Lalu kami hijrah ke Madinah. Kami tinggal di tengah Bani al-Harits bin Khazraj. Saat itu tubuhku telah gempal. Rambutku telah pecah. Dan telah cukup usia. Ibuku, Ummu Ruman, menemuiku. Sungguh saat itu aku masih belia sekali. Aku sedang bermain bersama teman-temanku. Lalu ibuku memanggilku. Aku pun menemuinya dan aku tidak tahu apa yang ia inginkan dariku. Ia gandeng tanganku. Dan membawaku ke depan pintu hingga nafasku terengah-engah. Saat tubuhku tak tenang (tak lagi terguncang karena tarikan nafas), ia ambil air dan basukan di wajahku dan kepalaku. Lalu ia membawaku masuk ke dalam rumah. Saat masuk, ternyata kudapati banyak wanita Anshar di dalamnya. Mereka berkata, ‘Semoga dalam kebaikan dan keberkahan. Semoga dalam kebaikan yang langgeng’. Lalu ibu menyerahkanku pada mereka. Mereka mendandaniku. Lalu mereka menyerahkanku kepada Rasulullah. Saat itu usiaku sembilan tahun (Shahih al-Bukhari: Juz 3, Hal: 1414).

Di antara peristiwa besar yang terjadi pada Aisyah adalah fitnah bahwa dirinya selingkuh dan berzina. Dalam sirah nabi, peristiwa ini dikenal dengan haditsul ifki. Fitnah besar ini sempat membuat rumah tangga Rasulullah dengan Aisyah geger. Dan Aisyah sangat terpukul dengan fitnah ini.

Di saat-saat berat seperti itu, sang ibu, Ummu Ruman, hadir menyertai putrinya. Ummu Ruman radhiallahu ‘anha bercerita tentang kisah fitnah tersebut. Katanya, “Saat aku sedang duduk bersama Aisyah, tiba-tiba seorang wanita Anshar masuk menemui kami. Ia berkata, ‘Semoga Allah melakukan demikian dan demikian terhadap si Fulan’. Aku berkata, ‘Kenapa memangnya’? Ia menjawab, ‘Ia menceritakan suatu kejadian’. ‘Kejadian apa’? tanya Aisyah. Wanita itupun menceritakannya. Aisyah menanggapi ceritanya dengan bertanya, ‘Apakah Abu Bakar dan Rasulullah telah mendengar berita itu’? ‘Iya’, jawabnya. Aisyah pun pingsan. Dan saat bangun ia dalam kondisi demam dan wajahnya pucat.

Lalu Rasulullah datang. Beliau bertanya, ‘Ada apa dengannya’? ‘Ia demam karena mendengar berita yang beredar’, jawabku. Aisyah duduk dan berkata, ‘Demi Allah, seandainya aku bersumpah dia tak akan membenarkanku. Kalau aku memberikan alasan, tentu ia tak akan menerimanya. Kondisiku saat itu sama seperti kondisi Ya’qub dengan anak-anaknya. Hanyalah Allah tempat mengadu atas apa yang mereka tuduhkan.

Setelah berlalu beberapa hari. Allah menurunkan firman-Nya untuk membela Aisyah. Nabi mengabarkan tentang ayat Alquran yang turun tersebut kepada Aisyah. Aisyah berkata, ‘Segala puji hanya untuk Allah. Tidak untuk siapapun (Shahih al-Bukhari: Juz 3, Hal: 1239).

Inilah kisah sang ibu yang menemani dan merekam kejadian-kejadian berat saat putrinya tertimpa ujian besar. Ia berada di sampingnya. Walaupun tak berucap banyak karena tak berani mendahului Allah dan Rasul-Nya. Tapi ia memberi kesan hadir pada putrinya. Agar sang putri yang tengah bersedih karena ujian berat, tengah galau dan bingung, merasakan ibunya tetap berada di sisinya. Hingga jalan keluar itu turun dari langit.

Ummu Ruman tercatat dalam peristiwa paling Bahagia putrinya. Yaitu dinikahi Rasulullah. Dan hadir pula tatkala putrinya mengalami ujian sangat berat dalam rumah tangganya.

Wafatnya

Sejarawan berbeda pendapat tentang kapan wafatnya Ummu Ruman. Ada yang menyatakan ia wafat tahun 6 H. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang memakamkannya dan memohonkan ampunan untuknya. Belia bersabda, “Siapa yang ingin melihat salah seorang bidadari surga, maka lihatlah Ummu Ruman.”

Pendapat lain menyatakan, Ummu Ruman wafat setelah tahun 6 H. Di antara mereka yang berpendapat demikian adalah Imam al-Bukhari. Dasar dari pendapat mereka cukup kuat. Yaitu:

Pertama: Terdapat sebuah hadits dari Masruq (seorang tabi’in). Di riwayat itu Masruq bertanya kepada Ummu Ruman.

Kedua: Hadits tentang Nabi memberi tawaran kepada istri-istrinya untuk bersabar hidup sederhana bersamanya atau bercerai. Dalam hadits tersebut, Nabi mengatakan kepada Aisyah untuk mendiskusikan tawaran itu kepada kedua orang tuanya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 9 H.

Diterjemahkan secara bebas dari https://islamstory.com/ar/artical/22085/أم_رومان

Oleh Nurfitri Hadi (IG: @nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *